
Setelah berganti pakaian, Nathan keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya. Tujuan Nathan kamar twins, kamar yang bersebelahan dengan kamarnya hanya berjarak satu pintu. Twisn berada kamarnya saat siang hari, karena malam hari twisn berada di kamar kedua orangtuanya.
"Loh mbak Dimana istri saya?" Tanya Nathan pada pengasuh twisn.
"Ibu tidak ada pak."Jawab wanita bernama Ina itu.
Nathan yang sedang mengelus pipi twisn menatap wanita yang lebih muda darinya itu. "Tidak ada? bukankah dia baru datang kemari." Ucap Nathan lagi dengan mengernyitkan keningnya.
"Tidak pak, ibu sudah keluar sejak satu jam lalu dari kamar twins."
Nathan semakin bingung, mengecup kedua pipi buah hatinya Nathan beranjak pergi.
"Titip twins mbak." Ucap Nathan pada Ina.
"Baik pak."
Nathan keluar kamar dengan tergesa, pria itu mencari Ami disudut ruangan tapi tidak ada.
"Mbok dimana Mama?" Tanya Nathan pada pelayan yang baru saja masuk.
"Mbok tidak tahu, den. si mbok baru masuk rumah." Jawab mbok Nah apa adanya.
Nathan meremas rambutnya kasar. Kembali menaiki tangga Nathan mengambil ponselnya yang dia charger.
"Ck, kenapa nomornya tidak ada yang aktif." Ucap Nathan kesal.
Menghubungi nomor Ami dan mamanya juga sama-sama tidak aktif.
"Halo Pah? apa Mama sama papa?" Tanya Nathan tothepoin.
"Tidak, papa sedang bermain golf mana mungkin mamamu_"
Tut..Tut..
Belum sempat Allan menyelesaikan bicaranya, sambungan telepon tiba-tiba terputus.
"Wooo, dasar anak kurang ajar." Umpat Allan yang merasa kesal.
Sedangkan Nathan duduk dipinggiran ranjang dengan frustrasi, kemana Istrinya pergi dan ada apa.
Karena tidak bisa mencari tahu dimana Istrinya berada, Nathan memilih pergi kembali melihat twisn. Pria itu memilih habiskan waktu sorenya bersama kedua anak-anaknya.
Dilain tempat, dikota yang sama. Ami dan Indira sedang melakukan perawatan spa kecantikan. Sedangkan Aileen memilih pijat untuk merilekskan tubuhnya agar fresh karena nanti malam Ditya akan pulang.
__ADS_1
Ya, Ami bertemu Mama indira saat didepan pintu. Mama mertua yang pengertian itu mengajak menantunya pergi ke salon untuk mempercantik diri, apalagi melihat Ami yang murung Indira tidak tega, mungkin saja ada masalah dengan putranya.
Melihat itu, indira hanya menasehati dan tidak ingin ikut campur.
"Ah, akhirnya tubuh Mama terasa segar." Indira tersenyum puas didepan cermin. Wanita yang berusia lebih dari kepala empat itu masih terlihat cantik Meskipun ada sedikit kerutan di bagian matanya, tapi untuk ukuran usia Indira itu hal yang wajar.
Ami dan Aileen juga merasakan hal yang sama, kedua wanita itu merasa rileks dan nyaman setelah melakukan perawatan, apalagi wajah Ami semakin cerah setelah melakukan beberapa perawatan di salon itu.
Setelah membayar tagihan, Indira dan kedua putrinya keluar dari salon, dan supir sudah menunggu diluar.
"Mah, Ai pengen makan bakso." Ucap Aileen dengan wajah yang menginginkannya sesuatu.
"Ck, kamu itu Ai. ngidam kamu itu kok kayak Mama dulu." Ucap Indira geleng kepala.
"Kan Ai, emang keturunan Mama." Jawab Aileen membuat Indira mendelik, sedangkan Ami tertawa cekikikan.
"Ya, tapikan Mama, emang asli orang ngak punya, sedangkan kamu sudah bilasteran." Ucap Indira sekenanya.
"Sama saja, Aileen tetap bisa jadi turunan Mama dan papa." Jawab Aileen lagi yang memang tidak pilih makanan, wanita hamil itu bisa memakan apa saja, tidak harus makanan restoran mahal.
"Sayang, kamu ingin makan apa?" Tanya Indira pada Ami yang duduk di sebelahnya, karena Aileen duduk didepan samping supir.
"Ay, ikut saja Mah." Jawab Ami dengan senyum.
Setelah dari salon, pikiran Ami lebih fresh, wanita itu tidak mau memikirkan hal-hal yang negatif tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ami berfikir mungkin tadi Nathan sedang bertemu klien wanita saat bekerja, karena Nathan bukanlah pria sembarangan, pekerjaanya menuntut untuk bertemu banyak orang.
"Sayang kamu darimana?" Nathan langsung menyambut Istrinya dan memeluknya, saat Ami sampai diruang keluarga, karena Nathan bersama twisn didepan ruang televisi.
"Dari_"
"Mama ajak istrimu kesalon, mungkin bisa menghilangkan rasa sedihnya." Jawab Indira sebelum Ami menjawab.
Nathan mengurai pelukannya, menatap wajah Istrinya yang sedang menunduk setelah dia tatap.
"Hey, lihat aku." Kedua tangan Nathan menangkup wajah Ami, sedangkan Aileen sudah masuk kedalam kamar, indira menyuruh pengasuh twisn untuk membawa twisn kekamarnya, karena Indira ingin bersama kedua cucunya itu.
"Kamu sedih?" Nathan menatap kedua bola mata istrinya dengan intens, Ami juga melakukan hal yang sama. "Maaf, kalau aku tidak punya waktu untuk menemani_"
"Tidak By." Potong Ami cepat, karena bukan itu yang membuatnya sedih.
Nathan semakin dalam menatap kedua mata Istrinya, dan Nathan bisa melihat kegundahan dan kesedihan kedua tatapan mata Istrinya.
"Katakan jika aku berbuat salah." Ucap Nathan dengan lembut.
__ADS_1
Ami kembali membuang pandanganya, hatinya merasa gelisah, ingin bertanya tapi_
"Katakan apa yang kamu pikirkan?" Ucap Nathan lagi yang langsung mengendong Ami ala bridal dan membawanya menuju kamar.
"By.." Ami mengalungkan tangannya saat kaki Nathan menginjak anak tangga.
"Kamu tahu sejak tadi aku merasa gelisah karena mencarimu dirumah tidak ada." Tutur Nathan dengan lembut.
"Maaf By." Cicit Ami dengan menatap wajah tegas Nathan dan rahang tegas itu.
"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, katakan jika aku melakukan kesalahan." Nathan duduk disofa dengan Ami yang duduk diatas pangkuannya dengan posisi menyamping. Kedua tangan Nathan memeluk pinggang Ami yang sedikit berisi.
Ami menunduk sebentar, dan mendongak menatap wajah Nathan. "Aku_" Lidahnya terasa kelu ketika akan berucap dia takut jika Nathan benar-benar melakukan hal yang sama dengan yang dia pikirkan.
"Aku apa hm." Nathan menyentuh dagu Ami, dan mengecup bibir Ami sekilas karena sudah tidak tahan melihat bibir ranum Istrinya yang sangat menggoda.
"Aku mencium bau parfum wanita di kemeja yang kamu pakai tadi." Ucap Ami dengan jantung berdebar kencang.
Kedua matanya menatap wajah Nathan yang malah memincingkan matanya menatapnya bingung.
"Kemeja? parfum wanita?" Ucap Nathan seperti mengingat apa yang dikatakan Ami barusan.
Bibirnya tersenyum tipis saat tahu apa yang di maksud dengan ucapan istrinya. "Tadi sebelum pulang aku bertemu klien wanita direstoran dekat sini, sebelum pulang wanita itu memang sempat memelukku." Ucap Nathan dengan santai, ingin melihat reaksi Ami.
Ami membulatkan kedua matanya. "Jadi kamu harus pelukan dengan semua klien wanita mu." Kesal Ami dengan wajah yang sudah masam.
"Hm, karena memang harus berpelukan." Jawaban Nathan semakin membuat Ami kesal dan kecewa.
"Hey mau kemana?" Nathan menarik pinggang Ami kuat hingga Ami tidak bisa kabur dari pangkuan Nathan.
"Kamu jahat, By. Apa karena aku belum bisa melayanimu dan kamu mencari wanita lain untuk memuaskan dirimu." Ucap Ami yang sudah berderai air mata. Hatinya sakit mendengar ucapan Nathan barusan.
"Sayang kenapa malah menangis." Nathan mengusap kedua pipi Ami yang basah. "Bukan itue maksudku, untuk apa aku mencari wanita lain sedangkan istriku lain dari pada yang lain." Nathan mengecup kedua mata Ami yang basah. "Bu Sasa wanita berumur Empat puluh lima tahun, dia akan meningkahkan anaknya, dan dia memelukku hanya untuk mengucapkan terima kasih karena aku bersedia hadir di acara pernikahan anaknya, dia itu wanita single perent yang sudah aku anggap seperti Mama." Tutur Nathan dengan jujur.
Ami menatap kedua bola mata suaminya untuk mencari kebohongan disana, tapi yang Ami lihat adalah sebuah kejujuran.
"Percayalah aku tidak akan mencari wanita lain, meskipun aku harus berpuasa main jungkat-jungkit dalam waktu dua bulan." Ucap Nathan dengan wajah masam.
Ami terseyum malu, dengan wajah merona. "Maaf By." Ucapnya mengelus rahang Nathan yang tegas.
"Maaf, diterima tapi dengan syarat." Nathan terseyum menyeringai dengan cepat menyatukan dua benda kenyal yang sudah menjadi candu keduanya dengan penuh cinta.
Berpangutan dan memebelit lidah menjadi pemancing sesuatu yang sedang tidur untuk bangun.
__ADS_1
"Engh by.."
Dan setelah itu, pastilah kalian tahu apa yang akan mereka lakukan, dengan kata JUNGKAT-JUNGKIT 😩