My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Hawa 2


__ADS_3

Mario melihat Hawa yang sedang berjalan masuk kesupermarket dengan memakai switer biru bermotif Doraemon.


Melihat Hawa masuk, Mario langsung keluar dari dalam mobil dan menyusul gadis kecil yang membuat hatinya berdebar.


"Ck, kenapa kontaknya ngak dipindahin dibawah sih." Gumam Hawa sambil berkacak pinggang.


Mario tersenyum, ekspresi Hawa sama saat pertama kali dia melihat Hawa yang tidak bisa mengambil Kotak susu.


Dan dari situ Mario tahu jika Hawa menyukai susu rasa pisang itu.


"Hah, besok mau olahraga basket biar tinggi." Kaki Hawa berjinjit dengan tangan yang ingin meraih kotak.


Tapi karena kepalanya yang sedikit pusing dan badannya bergetar, Hawa sedikit limbung hingga membuat tubuhnya terjatuh.


"Aaaa."


Grep


Mario belum terlambat, tubuh kecil Hawa berada diatas pangkuannya.


Kedua tatapan mereka bertemu, bahkan wajah keduanya begitu dekat hingga Mario merasakan napas panas Hawa menerpa wajahnya.

__ADS_1


Meskipun detak jantungnya tak beraturan dengan perasaan tak menentu, rasa napas panas Hawa membuat Mario tersadar.


"Kamu demam." Reflek tangan Mario menyentuh kening Hawa, dan benar suhu tubuh Hawa panas.


Hawa masih menatap wajah Om ganteng yang pernah dia sebut, dan jika dilihat lebih dekat ternyata lebih ganteng.


"Kenapa berkeliaran malam-malam jika sedang sakit." Ucap Mario langsung membopong tubuh kecil Hawa.


Perasaan senang kini menjadi khawatir, Mario melihat bibir Hawa yang sedikit pucat.


"Em, Om aku mau beli_"


"Sstttt, diam lah!" Ucap Mario tegas membuat Hawa mengatupkan bibirnya. "Apa orang tuamu tidak tahu jika kamu sedang demam, dan membiarkanmu berkeliaran." Omel Mario seperti seorang ayah.


"Loh, non Hawa kenapa?" Husein yang menunggu diluar terkejut melihat Hawa digendong pria yang pernah dia lihat kemarin saat disupermarket ini juga.


"Dia demam, suhu panas nya tinggi, saya mau bawa kerumah sakit." Ucap Mario yang ingin melangkah ke mobilnya, tapi perkataan Husein membuatnya berhenti.


"Bair saya saja yang membawa nona Mas." Ucap Husein yang merasa tidak mengenal pria yang sedang menggendong anak majikanya ini.


"Bapak bisa ikuti mobil saya dari belakang." Putus Mario.

__ADS_1


"Tapi Mas_"


Husein tidak lagi berkata saat Hawa sudah dudukkan di dalam mobil pria itu.


Pada akhirnya Husein mengikuti mobil Mario dari belakang seperti yang pria itu katakan.


Hawa sesekali memejamkan matanya, seharusnya setelah minum obat tadi dirinya langsung istrirahat, tapi karena tidak bisa tidur, gadis itu memilih keluar rumah hanya karena merasa bosan. Padahal susu dan makanan yang kemarin dibelikan Mario masih banyak.


Mario fokus menyetir, pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena sudah malam jalanan sedikit lenggang.


"Om ganteng." Ucap Hawa pelan sambil menoleh pada Mario yang memang tampan, bahkan lebih tampan dari Mingyu-nya.


Mario yang mendengar menoleh pria itu menatap Hawa sekilas. "Kamu bicara apa?" Tanya Mario yang tidak begitu jelas mendengar ucapan Hawa.


"Em, Awa boleh panggil Om ganteng." Ucap Hawa sedikit serak.


Seketika bibir Mario tersenyum lebar, apa katanya Om ganteng?


Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya, hati Mario berbunga-bunga.


"Mario, namaku Mario." Ucap Mario memberitahukan namanya.

__ADS_1


Tak lama mobil Mario sampai dirumah sakit, seperti pertama tadi, Mario mengendong Hawa seperti seorang kakak mengendong adiknya, jika orang yang melihat. Tapi nyatanya pria dewasa itu malah memiliki rasa lebih untuk gadis tiga belas tahun seperti Hawa.


"Om, kepalaku_" Belum melanjutkan ucapanya Hawa tak sadarkan diri di dalam gendongan Mario.


__ADS_2