My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Perjanjian


__ADS_3

Setelah acara selesai Nathan meminta ijin untuk membawa istrinya yaitu Ami untuk dibawanya langsung ke apartemen, dan bunda Raya mengijinkannya meskipun dalam hatinya sangat berat untuk merelakan putrinya, namun Raya sadar jika Ami sudah menikah dan ada orang yang lebih berhak selain dirinya.


"Jaga diri baik-baik, nak jika rindu pintu rumah selalu bunda buka untuk kalian."


Ami hanya mengangguk dan memeluk bundanya, merasa ini adalah awal hidupnya yang tidak tahu akan seperti apa.


Tidak ada teman ataupun sahabat Ami yang menghadiri pernikahan nya, kecuali hanya kepala sekolah saja.


"Nak Ayana masih bisa melanjutkan sekolah, dan tidak ada yang tahu tentang hubungan kalian kecuali bapak." Begitulah yang Ami dengar dan dia hanya mengangguk patuh.


Nathan melirik gadis yang baru saja dia persunting dengan ijab kabul, keduanya berada di dalam mobil menuju apartemen milik Nathan yang selama ini Nathan tinggali.


Sejak tadi tidak ada yang bicara, keduanya memilih sama-sama diam tanpa ada satupun yang bersuara hingga mobil Nathan berhenti sampai di basement apartemen.


Brak


Nathan menutup pintu dengan keras, membuat Ami yang sejak tadi melamun menjadi kaget dan sadar.

__ADS_1


Melihat Nathan yang berjalan lebih dulu, Ami segera keluar dari mobil dan membawa tas berisikan pakaian miliknya dan tas sekolah yang berisikan buku-buku pelajaran sekolah.


Mengikuti langkah Nathan dari belakang Ami seperti pembantu yang mengikuti majikannya, selalu berada di belakang Nathan, padahal suaminya.


'Udah kaya istri gak dianggap gue.' Batin Ami menatap punggung tegap Nathan.


Ting


Pesan masuk di ponsel Nathan ketika keduanya berada di dalam lift.


"Ingat bos, mobil sport keluaran terbaru..besok saya tunggu...".


"Sial.!!" Nathan mengumpat dengan kesal, membuat Ami lagi-lagi terkejut.


Pintu lift terbuka di lantai lima dimana flat apartemen Nathan berada, menekan password Ami hanya diam melihat dan mengingat sepertinya dia akan butuh password itu jika keluar masuk apartemen.


"Em, tu_"

__ADS_1


Belum sempat Ami bicara Nathan sudah melenggang pergi menuju kamarnya, membuat Ami mematung di tempat.


Ruangan yang luas dengan dekorasi yang apik membuat mata Ami tak luput dari kata takjub.


"Pasti barang disini semuanya mahal," Ucap Ami dengan menyentuh sedikit barang di sana.


"Kemarilah." Nathan tiba-tiba muncul dan menyuruh Ami untuk duduk di kursi ruang tv.


Ami menurut dirinya mendekati Nathan dan duduk disofa depan Nathan.


"Bacalah, jika kamu bersedia tanda tangani, dan kalaupun tidak maka aku tidak butuh penolakan." Ucap Nathan datar menatap wajah bingung Ami sekilas.


Ami yang bingung meraih selembar kertas yang Nathan berikan disana tertulis sebuah perjanjian pernikahan.


"Kita jalani seperti sepasang suami istri didepan kedua orang tua kita, dan untuk diluar selain itu maka kita dua orang asing yang tidak kenal." Ucap Nathan. "Dan lagi, antara kita tidak ada kontak fisik apapun itu, dan jangan pernah ikut campur urusan kita masing-masing." Nathan menjelaskan poin penting dalam surat itu.


"Kamu bebas melakukan apa pun diluar sana maka saya tidak akan ikut campur, begitupun sebaliknya, dan jika dirumah kamu tidak usah melakukan apapun selayaknya seorang istri, karena saya tidak suka melihat apapun milik saya disentuh oleh orang lain." Tegas Nathan dengan menatap Ami yang masih menunduk membaca isi perjanjian itu.

__ADS_1


"Yang terakhir, pernikahan kita hanya formalitas dan hanya bertahan satu tahun."


Deg


__ADS_2