My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Perkelahian


__ADS_3

"Apa?"


Olive terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, bagaimana bisa dirinya disuruh menembak salah satu pria yang sedang duduk didepan kecuali Nathan, dan itu berarti Niko dan Ando.


"Kenapa? lu udah kalah taruhan jadi terima tantangannya." Ucap Ami dengan penuh kemenangan.


Wajah Olive terlihat cemas, apalagi dirinya tadi tidak tahu jika ada Ando di rumah Ami, kalau tau lebih baik dirinya tadi sudah pergi.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, kini dia harus mempertanggung jawabkan kekalahannya.


"Mii, apa tidak ada pria lain selain mereka berdua." Tanya Olive dengan wajah masam.


"Tidak, karena hanya ada mereka berdua." Ami tertawa.


"Baiklah teman, ayo kita mulai perjuanganmu menembak pria." Ucap Ami dengan senyum, senyum yang terlihat menyebalkan untuk Olive.


Ami lebih dulu berjalan keluar dikuti Olive, duduk disamping suaminya Ami terseyum manis.


Olive pun hanya pasrah dirinya bukan pecundang yang harus kabur dan lari dari tanggung jawab.


Ehem


Ami berdehem dengan melirik Ando yang sedang menatap Olive, sedangkan Olive hanya diam menunduk.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Niko yang buka suara, sejak tadi dirinya juga risih karena ditatap terus oleh pria yang dia tahu asisten suami adik tirinya, padahal mereka tidak kenal.


"Liv, ayo gue antar balik." Ucap Niko yang sudah ingin menarik tangan Olive, tapi tangan Ando menepisnya.


"Ck, lu siapa pake mau anterin dia balik, gue yang antar dia." Ketus Ando dengan kesal.


Ami hanya menahan senyum, sedangkan Nathan mengusap wajahnya. Apa yang mereka lakukan membuatnya muak, tapi demi sang Istri Nathan rela mengikuti ide konyol istrinya, yang hanya ingin membalas perbuatan asistennya itu yang sudah membuat sahabatnya sakit hati.


"Lah, anda siapa? dateng terakhir kok minta yang aneh-aneh." Niko menatap wajah Ando tidak suka.


"Gue_"


"Stop..!" Ami mengangkat tangannya untuk membuat keduanya diam.


"Kak Niko, mulai sekarang kita pacaran."


Ando membulatkan kedua matanya, sedangkan Niko tersenyum meneyringai.


"Lu beneran mau jadi pacar gue?" Tanya Niko dengan wajah senang.


Olive mengangguk dengan senyum tipis. "Kau mau pulang." Ucap Olive menatap Niko dengan memohon.


"O-Ok, gue antar balik." Niko pun segera beranjak dan diikuti Olive.


"Dek gue antar pacar pulang yee, salam buat bunda." Ucap Niko dengan senyum bahagia, tangannya mengandeng tangan Olive.

__ADS_1


"Siap, hati-hati temen gue tuh, awas aja sampe lecet." Balas Ami dengan mengangkat kepalan tangannya seperti meninju.


"Beres." Niko melingkarkan jari tengah dan ibu jari membentuk 'ok'.


Ando pun hanya diam membisu, pria itu menatap kepergian Olive yang di gandeng pria lain, dadanya terasa nyeri dan entah karena apa, padahal dirinya hanya tidak suka jika ada pria yang mendekati Olive didepan matanya.


"Ndo, kamu mau kemana?" Tanya Nathan yang melihat Ando berdiri dan keluar.


Ando tidak menjawab melainkan masuk kedalam mobil dan meninggalkan dua orang yang sedang saling pandang.


Jika Ami sendang tertawa puas, lain dengan Nathan yang merasa kasihan pada sahabatnya itu.


"Ingat, tidak boleh membocorkan rahasia kalau jatah masih mau aman." Ucap Ami sambil menunjuk wajah Nathan.


Nathan hanya pasrah, dirinya pasrah menuruti permintaan sang istri. Yang terpenting jatah malamnya tidak berkurang.


Didalam mobil yang berisi Olive dan Niko. Keduanya diam suasana menjadi hening, tidak ada yang buka suara.


"Kak, terima kasih." Ucap Olive pada akhirnya.


Niko melirik sekilas dan hanya mengaguk.


.


.


.


Ternyata pria itu mengejar mobil Niko.


Menambah kecepatan laju mobil dan memotong jalan ketika ada celah.


Ciiitttttt


"Kak Awas..!!" Olive pun sampai berteriak dan memejamkan mata.


"Sial..!!" Niko mengumpat ketika sebuah mobil tiba-tiba memotong jalanya dengan sengaja, dan mobil itu seperti tidak asing baginya.


"Lo ngak papa?" Tanya Niko pada Olive yang wajahnya pucat, gadis itu sempat syok karena perbuatan orang yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Ck, ternayata dia." Decak Niko kesal melihat Ando keluar dari mobil. "Ada masalah apa dia sama gue."


Niko pun ikut keluar, tapi Olive masih duduk diam dengan wajah tak percaya, Ando terlihat begitu marah.


"Gue ngak ada urusan sama lu," Ando menujuk Niko yang akan menghampirinya.


Tok...tok..


"Liv, keluar.." Ando mengetuk kaca mobil, Olive tidak merespon.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


"Gue mau ngomong keluar Olive..!!" Suara Ando ditinggikan membuat Niko tidak tahan untuk mendekat.


"Lu, ada masalah apa bro sama cewek gue." Niko menatap Ando sinis. " Dia ngak mau ngomong sama lu, so jangan paksa dia." Niko mendorong bahu Ando hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.


"Gue bilang ngak ada urusan sama lu..!!" Ando balik mendorong dada Niko, tapanya begitu tajam.


"Liv keluar..!!" Ando membuka paksa pintu mobil dan menarik tangan Olive paksa untuk keluar.


"Kak lepas..!!" Olive meronta tapi tangan Ando begitu kuat mencekram tangannya.


"Jangan kasar sama cewe, ba**gsat..!!"


Bugh


Niko melayangkan satu pukulan tepat mengenai wajah Ando.


"Aakkh." Olive menjerit melihat kedua pria itu bertengkar adu tinju.


"Lu, mbak berhak atur dia. Sialan..!!"


Bugh


Bugh


Keduanya saling adu pukul, meskipun badan Ando lebih besar dan kekar, tapi kemapuan bela diri Niko tidak bisa diragukan karena pria itu cukup ahli dalam ilmu bela diri, kini mereka imbang dengan luka diwajah.


Perkelahian semkin tak bisa dihindari ketika dua orang itu saling adu kekuatan. Olive sudah menangis melihat keduanya seperti kesetanan dan tidak mau berhenti.


Karena tidak ingin membuat keduanya semakin babak belur, Olive berlari untuk memisahkan keduanya, hingga dirinya berdiri diantara tengah-tengah keduanya.


"Stoopp..!!"


Bugh


Seketika pandangan matanya buram, kepalanya begitu berat dan dia jatuh tak sadarkan diri.


"Olive, bangun.." Niko menepuk-nepuk pipi Olive tapi gadis itu tidak sadarkan diri.


Niko pun bergegas menggendong Olive untuk masuk mobilnya, dan memutar tubuhnya untuk masuk ke kursi penumpang, Niko tidak peduli Ando yang diam mematung.


Ando menatap kepalan tangannya yang baru saja menghantam pelipis Olive, dia tidak sengaja.


"Maaf." Lirihnya dengan perasaan yang begitu sangat menyesal. Ando menyesal telah menyakiti perasaan gadis itu, dan kini dia juga menyakiti fisik gadis itu.


Sejak terakhir mereka bertemu Ando memang sudah tidak lagi menemui Olive, pria itu sibuk menjelajahi ranjang hingga dirinya benar-benar meras frustrasi, diirinya menjelajahi lembah ke lembah hanya karena ingin memastikan sesuatu dan benar saja jika dirinya selalu lemah ketika akan bertempur.


Sungguh dari saat itu, dia menyesali perbuatannya pada Olive, gadis remaja yang sudah memberinya kutukan.

__ADS_1


__ADS_2