
Setelah semalam menginap dirumah sakit, Ami diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Nathan yang sebenarnya belum mengijinkan istrinya pulang tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendapat rayuan maut istrinya.
Meskipun begitu Nathan tetap bahagia mengingat istrinya yang sedang mengandung buah hatinya. Tidak menyangka jika kecebong miliknya membuahkan hasil.
"By, udah." Ami menutup mulutnya ketika Nathan terus menyuapi makan.
Perutnya sudah kenyang tapi suaminya masih terus menyuapinya.
"Biar kalian sehat sayang." Bujuk Nathan yang kembali menyodorkan sendok berisi nasi.
Ami menggeleng. "Yukk." Ami menutup mulutnya seperti ingin muntah.
"Sayang kamu kenapa?" Nathan mendekati istirnya, tapi Ami malah berlari menuju dapur.
Hoek..Hoek..
Ami memuntahkan makanan yang baru saja dia makan, sampai tumbuhnya terasa lemas.
"Sayang." Nathan memijat tengkuk Istrinya pelan, dia tidak tega melihat Ami yang mengeluarkan semua makanan yang masuk.
Ami mencuci wajahnya dengan air, Nathan membantu mengelapnya menggunakan tisu.
"Mual By," Keluh Ami dengan wajah sedikit pucat, dan tubuhnya terasa lemas.
"Sudah lebih baik?" Tanya Nathan mengusap wajah Ami yang basah.
"Em." Ami hanya mengaguk, perutnya tiba-tiba kembali bergejolak.
Hoek..hoekk
"Kita kerumah sakit." Nathan menjadi khawatir, melihat istrinya yang lemas, dan tak bertenaga.
Ami menggeleng, "Tidak, aku hanya ingin tidur." Ucapnya dengan tangan merangkul leher Nathan. Minta digendong.
"Manja." Nathan terseyum.
Cup
Ami mengecup pipi Nathan. "Kenapa disitu, seharusnya disini." Nathan mengecup bibir Ami.
Ami segera menyambut dengan senang hati, dirinya menyukai ciuman Nathan kali ini.
"Eng." Ami meleguh ketika ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut, Nathan membawa tubuh Istrinya disofa depan tv.
Brug
Tubuh keduanya ambruk di atas sofa dengan Ami yang duduk diatas pangkuan Nathan.
"By, ahh." Ami mendesahh, ketika lehernya menjadi sasaran kebrutalan Nathan. "Jangan disana." Ami menjauhkan kepala Nathan agar tidak banyak memberi tanda kepemilikan disana.
Tangan Nathan tidak tinggal diam, menaikkan kaus kebesaran yang Ami pakai hingga terlepas dan terpampang dua kelembutan istrinya yang membuat tatapan matanya mengelap.
"Ahh By."
.
.
__ADS_1
Setelah mengantarkan istrinya kesekolah, dan menemui kepala sekolah Nathan baru saja sampai di kantor pukul sembilan pagi. Karena rapat bisa di handel Ando, dan Nathan terlihat santai Mesuji kantornya.
Senyumnya masih terlihat meskipun sesuatu yang membuatnya bahagia sudah terlewat sejak tadi malam.
"By, ahh lebih cepat." Ingatannya terus berputar dengan suara seksih Istrinya tadi malam yang membuatnya gila dengan layanan servis sang istri.
"Nat, woy..!" Ando menepuk pundak bosnya yang melamun, bahkan Nathan tidak sadar jika pintu lift sudah terbuka dari tadi.
"Ck, ganggu aja lu Ndo." Kesal Nathan, karena fantasinya tadi malam terganggu, meskipun istirnya hamil Nathan tidak lupa akan hal percintaan yang aman bagi hamil muda
"Kesambet lu bengong gak jelas." Ucap Ando yang meninggalkan Nathan dengan geleng kepala. "Lain kali kalau masih kurang, minta jatah tambahan." Ledek Ando dengan tertawa.
Nathan mendelik, asistennya ini memang kurang ajar.
Nathan bergegas pergi menuju ruangannya, langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang berada di ruanganya karena pintu terbuka lebar.
"Nat." Maudy tersenyum manis, melihat Nathan datang, Maudy langsung berdiri dan menghampiri Nathan yang ingin duduk di kursi kebesarannya.
"Untuk apa kau kemari." Ucap Nathan dingin tanpa melihat lawan bicaranya.
"Aku_"
"Sudah cukup kau mengusik kehidupan ku Maudy Mahendra." Tegas Nathan dengan penuh penekanan.
Maudy menatap Nathan dengan sendu. "Nat aku_"
"Jika bukan karena kau putri rekan bisnis papa, mungkin aku sudah memberimu pelajaran." Nathan menatap Maudy yang menunduk, tatapan mata Nathan seperti Elang begitu tajam.
Maudy mendongak dengan keberanian menatap wajah Nathan. "Nat apa tidak bisa memberiku kesempatan?" Tanya Maudy sendu.
Nathan mengerutkan keningnya.
Nathan masih diam dengan ekspresi datar.
"Lalu, apa aku harus mendengar dan mengabulkan ucapan mu." Nathan menatap Maudy sinis.
"Jauhi aku dan istriku, jika kamu tidak ingin hancur seperti debu." Tegas Nathan dengan sorot mata penuh peringatan.
Maudy yang mendengar ancaman Nathan mengepalkan tangannya.
"Seharusnya kau sudah tidak bisa lagi menghirup udara bebas, tapi karena aku sedang bahagia. Maka kau aku lepaskan." Nathan menatap Maudy yang menatapnya tajam, dan Nathan kembali menatap Maudy tajam.
Maudy meremas kuat setir kemudinya, dirinya yang terlanjur mencintai Nathan dalam pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, karena selama ini Maudy selalu mendapatkan apa yang dia inginkan termasuk papanya yang mendukung permintaanya.
"Tunggu Nat, kamu pasti akan menjadi milikku."
.
.
Bel istirahat berbunyi, semua murid bubar kelas untuk beristirahat sejenak.
Ami menyeret Olive untuk ikut dengannya ke kantin.
Brug
Karena tidak hati-hati Ami menabrak seseorang.
__ADS_1
"Duh Sorry." Ami meringis melihat Loli yang hampir saja jatuh kalau tidak dia pegang.
Sejak kejadian Nesya waktu itu, Ami memang belum bertemu Loli.
"Lol ayo ikut." Olive menarik tangan Loli dan Ami.
"Eh, kok gantian gue yang ditarik.
Sampainya dikantin Ami duduk menunggu Olive yang memesan makanan, Ami ingin makan soto.
Loli sejak tadi diam menatap Ami, bibirnya terasa kelu hanya untuk bicara.
"M-Mi, gue minta maaf." Ucap Loli yang pada akhirnya bersuara.
Ami yang sedang bermain ponsel menatap Loli.
"G-gue minta maaf udah jahat sama Lo." Loli menatap Ami dengan sendu.
Ami mengehela napas. "Udah gue maafin, asal Lo gak ngebully lagi." Tegas Ami, membuat Loli mengangguk dan tersenyum.
"Makasih Mi."
Tak lama Olive datang membawa nampan, "Mi, kamu yakin mau menghabiskan dua mangkuk soto?" Olive sangsi, kemarin Ami menghabiskan dua mangkuk bakso dan sekarang soto.
"Ck, gak usah kayak gitu liatin gue." Kesal Ami, langsung meraih dua mangkuk soto pesanannya.
Ami terseyum, tangannya mengelus perutnya sendiri dengan pelan.
Olive hanya geleng kepala, sedangkan Loli tersenyum tipis.
Setelah bel pulang sekolah, Ami dan Olive akan datang ke pinggir kota, kedua gadis itu sedang berada di restoran untuk memesan nasi boks yang lumayan banyak.
Loli juga ikut mereka, meskipun awalnya ragu karena melihat Ami rival Nesya dulu kini dijemput dengan supir dan memakai mobil mewah. Tapi Loli tidak perduli yang penting dia bisa baikan dan berteman dengan Ami dan juga Olive. Karena semenjak Nesya dikeluarkan dari sekolah Loli seperti orang asing yang tidak memiliki teman.
"Terima kasih pak, nanti tolong antar alamat ini." Ucap Ami yang baru saja menyelesaikan pembayaran.
"Baik mbak, kami akan tepat waktu."
Ami dan Olive keluar dari restoran itu, sedangkan Loli menunggu diluar disamping mobil Ami.
"Udah?" Tanya Loli tersenyum.
"Beres, kita berangkat." Jawab Olive semangat.
Ami hanya tersenyum. "Makasih ya, Lo udah mau ikut kita." Ami tersenyum menatap Loli.
"Gue yang terimakasih, karena kalian mau terima gue jadi teman." Loli memeluk Ami sebentar.
Ketiga gadis itu masuk kedalam mobil. Didalam sana seseorang tersenyum miring.
"Good."
.
.
Sebenarnya ini bab mau di up tadi malam, tapi otor ketiduran 😩.
__ADS_1
Like..komen.. Rate karya otor ya reader kesayangan 🥰🥰🥰