My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Erik2


__ADS_3

"Erik.."


Suara berat seseorang dari belakang membuat keduanya menoleh.


"Papa." Ucap Erik yang masih duduk diam di tempatnya.


Sedangkan Ami merasa hanya diam memperhatikan seorang pria yang berjalan mendekati mereka.


"Why are you out at night, it's dangerous." Pria yang Erik panggil papa itu mendekatinya.


"Erik, bored in the room alone." Erik menatap sang papa sendu.


Pria itu langsung merangkul tubuh putra kecilnya.


"Maafkan papa," Ucapnya sambil mencium pucuk kepala putranya.


Ami hanya diam memperhatikan, sepetinya pria itu menyayangi putranya.


"Aunty, kenalin ini papa Erik." Celetuk anak itu membuat Ami terseyum, dan papa Erik langsung menoleh pada wanita yang duduk disamping putranya.


"Ayana." Ami mengulurkan tangan.


Pria itu masih diam menatap wajah Ami, matanya seperti menyimpan sesuatu kekecewaan.


"Papa." Bisik Erik, agar papanya mau menerima uluran tangan Ami.


"Oh, saya Hans, Hans Erson papa Erik " Ucap pria itu menerima uluran tangan Ami.


Ami terseyum, tapi dirinya merasa tidak nyaman ketika kedua mata itu menatap matanya intens hingga tangan keduanya yang berjabat tidak dilepas oleh Hans.


Hans Erson adalah seorang pengusaha yang kebetulan sedang meninjau lokasi. Hans memiliki anak Erik Erson yang usianya masih enam tahun.


Ehem


Deheman dari belakang membuat kedua orang yang sedang berjabat tangan langsung tersadar. Dan Hans melepaskan tangannya yang sengaja dia genggam.


"By." Ami pun langsung menghampiri suaminya.


"Sayang, aunty pergi dulu ya, dan ingat jangan keluar sendiri lagi malam-malam." Pesan Ami dengan terseyum, dan mengusap kepala Erik.


"Permisi tuan." Ucap Ami yang sedikit menunduk, lalu bergegas menghampiri Nathan dengan perasaan tidak enak.

__ADS_1


Ami menggandeng lengan Nathan dan mengajak pergi dari minimarket itu.


"Apa aunty itu bisa jadi Mama Erik." Celetuk anak itu membuat Hans langsung menoleh.


"Jangan mulai lagi Erik." Tegas Hans menatap putranya tajam.


Erik pun langsung menunduk diam.


Hans mengehela napas, dirinya merasa bersalah sudah keras pada Erik.


"Kita pulang, lain kali jangan pergi sendiri jika papa belum pulang, dan ingat tidak semua wanita yang mirip dengan mamamu harus papa nikahi." Kesal Hans.


.


.


.


Nathan hanya diam dengan lengan yang masih dipeluk oleh Ami, bahkan istirnya itu bergelayutan di pundaknya.


Keduanya berada didalam lift, untuk menuju ke kamar hotel mereka.


Nathan masih diam, dirinya masih kesal dan juga panas melihat Istrinya terseyum dan berpegangan tangan dengan orang lain. Ralat Nat, hanya salaman bukan pegangan 😩


"By." Ami mendongak ketika ucapnya tidak direspon sama suaminya.


"Kamu kenapa?" Tanya Ami dengan bingung, karena ekspresi Nathan datar.


"Siap dia." Ucapnya tanpa mau menatap wajah Ami.


"Dia? Dia siapa?" Ami yang memang lupa.


"Ck, kamu sengaja keluar malam hanya untuk menggoda pria agar bisa kamu ajak kenalan." Nathan menatap wajah Ami datar.


Kata-kata pedas Nathan membuat Ami melebarkan kedua matanya.


"By, kamu_"


"Ya, karena itu yang aku lihat apalagi kamu tersenyum dan dia menatap kamu seperti pedofil." Geram Nathan menatap Ami tajam.


Ting

__ADS_1


Pintu lift terbuka Nathan lebih dulu keluar meninggalkan Ami yang berdiri dengan wajah kesal.


"Memangnya dia tidak sadar, jika dirinya juga pedofil." Ami mengentakkan kakinya kelantai dengan kesal.


Membuka pintu kamar, Ami tidak melihat Nathan diatas ranjang, dan ketika berjalan masuk Ami melihat Nathan yang berkutat dengan laptopnya.


"By.." Ami memanggil disamping Nathan, tapi tidak mendapatkan respon.


"By, kamu masih sibuk." Tanya Ami lagi dengan pelan.


"Tidurlah, aku masih banyak pekerjaan." Balas Nathan tanpa melihat Istrinya, dia fokus pada laptop didepanya.


Karena kesal, Ami pun melangkah pergi masuk kedalam kamar mandi.


Ami menatap dirinya didepan cermin. Dengan senyum meneyringai dia memiliki ide cemerlang.


"Aku tau kamu tidak akan bisa menolakku." Gumamnya dengan senyum penuh arti.


Nathan memang sedang serius dengan pekerjaannya, dirinya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar waktunya bisa tersisa untuk sang Istri.


Jika tidak Nathan akan banyak menghabiskan waktu di luar dan pasti akan membuat istirnya kesepian.


"Apa pekerjaan itu lebih penting dari aku." Ami memeluk bahu Nathan dari belakang, dan berbisik disamping telinganya.


Nathan masih diam, dan masih fokus.


Ami pun menatap layar laptop suaminya, yang memang Nathan sedang sibuk.


"By, apa kita_"


"Ck, bisa tidak jangan ganggu sebentar." Kesal Nathan menatap Ami dari samping sejenak dan kembali pada laptopnya. "Aku sedang ingin menyelesaikan pekerjaan ku, jika kamu ganggu pekerjaan ini tidak kan selesai." Lanjutnya lagi.


Ami pun melonggarkan pelukannya, dan mundur satu langkah.


Hatinya tiba-tiba langsung nyeri, mendengar ucapan Nathan. Apakah dirinya hanya menjadi penganggu?


Ami melangkah pergi, merebahkan dirinya di atas ranjang dan menutupi tubuhnya yang tadi menggunakan Ligeri untuk menggoda suaminya.


Tapi mendengar ucapan Nathan cukup membuatnya merasa sedih.


Nathan yang masih kesal dan cemburu tidak memperdulikan istirnya, dia tidak tahu jika istirnya membuatnya agar tidak marah lagi, tapi justru Ami mendapat kata-kata pedas lagi dari Nathan

__ADS_1


__ADS_2