My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Rumah sakit2


__ADS_3

Ami dan Nathan meninggalkan rumah sakit menggunakan mobil yang tadi dikendarai oleh Ando, karena memang mobil yang mereka bawa adalah mobil Nathan dari kantor, dan Ando yang panik melupakan kunci mobilnya.


Nathan tidak peduli jika nanti Ando akan kesusahan untuk pulang, yang jelas rasa kesal Nathan belum hilang.


Ami duduk bersandar di kursi jok mobil gadis itu masih mengingat kejadian di Mall tadi. Andai Olive tidak menyelamatkannya pasti dirinya yang akan berbaring di rumah sakit dan membuat semua kelaurga khawatir.


Kedua orang tua Olive sudah Ami beri tahu, berhubung Olive yang sudah sadar dan mereka sudah melakukan panggilan Vidio, kedua orang tua Olive menitipkan pada Ami dan juga Niko, dan mereka akan datang sore karena ada keperluan yang memang tidak bisa ditinggal.


"Kamu kenapa sayang?" Nathan yang sejak tadi memeperhatikan istrinya hanya diam saja menjadi khawatir.


Ami yang ditanya menoleh, tumbuhnya sedikit bergeser agar menghadap pada suaminya.


"Tidak apa-apa, hanya saja masih kepikiran dengan Olive." Jawab Ami jujur, dirinya memang masih memiliki rasa bersalah.


"Dia sudah tidak apa-apa lagian, Olive juga sudah memaafkan dan tidak mempermasalahkannya." Nathan menyentuh tangan Ami, dan menggenggamnya untuk di kecup.


Hati Ami meleleh, disaat perasaannya sedang tidak menentu tapi suaminya mampu membuatnya merasa nyaman dan tenang.


"Terima kasih By, sudah membuat perasaanku lebih baik." Ucap Ami dengan senyum manis.


"Tidak perlu berterima kasih, karena aku dengan senang hati melakukannya." Nathan terseyum, senyum yang menular pada Ami.


Keduanya memiliki keberuntungan masing-masing, dimana mendapatkan pasangan yang mampu membuat hari-hari mereka menjadi berwarna, Nathan juga tidak menyangka jika dirinya dipertemukan dengan gadis belia yang statusnya masih pelajar hingga menjadi istrinya.


Sejak pertemuan pertama dirinya dengan Ami, Nathan sudah memiliki ketertarikan pada gadis itu, namun karena gengsi Nathan hampir saja kehilangan gadis itu jika saja dirinya terlalu nlama menyadari perasaanya.


Ayana Malika Ifana, Gadis beruntung yang dinikahi oleh Nathan Adhitama Putra pertama dari keluarga kaya dan terpandang Allanaro Adhitama, nasib mujur menghampiri gadis yang hanya hidup dengan ibunya semejak sang ayah meninggalkan mereka, kehidupan yang berliku dan keras membuat gadis itu kuat dan tegar.


"By, mampir ke toko kue." Ami menunjuk toko kue didepan sana yang terlihat.


Nathan hanya mengaguk, menuruti permintaan sang Istri.


Sampainya didepan toko Ami turun diikuti oleh Nathan. "By, kamu mau ikut masuk." Tanya Ami yang melihat Nathan ikut turun dari dalam mobil.


"Ya." Nathan langsung merangkul pinggang kecil istirnya.

__ADS_1


"Byy, malu banyak yang lihat." Ami berusaha menyingkirkan tangan Nathan, tapi pria itu malah semakin mengeratkannya.


"Biarkan saja, mereka punya mata untuk melihat." Nathan bicara dengan wajah datar dan cuek.


Ami tidak bisa berkutik dan pasrah dengan perlakuan suaminya yang memang super posesif.


Di dalam Ami memilih kue kesukaan bunda Raya, dan beberapa cemilan juga.


Didalam sana mereka memang terlihat paling mencolok, karena Ami yang masih berseragam SMA mampu menaklukkan seorang Nathan Adhitama, dan siapa yang tidak mengenal keluarga Adhitama.


"Sayang aku ambil ponselku dulu di mobil." Ucap Nathan yang melupakan ponselnya.


Ami hanya mengangguk.


Bugh


"Upps sorry." Ami tidak sengaja menyenggol bahu pembeli lainya, dan keduanya pun menoleh.


"Nesya..!" Ami membulatkan kedua matanya ketika melihat Nesya yang ada disana, karena sejak Nesya dikeluarkan dari sekolah, mereka tidak pernah saling bertemu lagi.


"A-ami." Nesya tergagap, dirinya juga tidak menyangka jika akan bertemu Ami di sini, dan ini suatu kebetulan.


"Nes kamu." Ami tidak melanjutkan ucapanya lagi, ketika Nesya mengucapkan tangannya.


"Kenapa? lu mau mengejek gue..!" Ucap Nesya dengan wajah yang menahan tangis, gadis itu merasa dunia tidak adil padanya, dan sekarang dia merasa malu bertemu Ami rivalnya saat disekolan.


"Nes." Ami menggeleng.


Nathan pun yang tadi pamit kini sudah kembali dan hanya diam memandang keduanya, mungkin Nini waktunya mereka berbicara.


"Lu pasti seneng kan liat gue kayak gini, lu pasti ngetawain gue kan, gue emang pantas lu ketawain." Air mata Nesya mengalir, gadis yang dulu terlihat kuat dan sombong kini terlihat lemah.


"Nes, gue gak ngetawain lu justru gue seneng bisa ketemu lu sekarang." Ami berkata dengan tulus, gadis itu menatap wajah Nesya lekat. "Gue minta maaf jika gue banyak salah sama lu, sampai lu membenci gue." Keduanya mata Ami sudah berkaca-kaca.


Nesya yang mendengar ucapan Ami menggeleng. "Ngak Mii, bukan lu yang minta maaf tapi gue." Nesya menyentuh tangan Ami, "Gue minta maaf karena gue udah jahat sama lu, dan sekarang gue terima hukumnya." Ucap Nesya yang masih menangis.

__ADS_1


Ami terseyum, "Kita sama-sama belajar dari kesalahan dan gue harap kita bisa lebih baik dan menjadi teman, gue harap lu ngak benci gue lagi Nes."


Nesya langsung mengangguk. "Gue udah ngak benci Lu Mii, gue sadar perbuatan gue dulu udah keterlaluan."


Keduanya berpelukan sebentar, meluapkan masalah yang pernah mereka lakukan dulu, dan kini keduanya sudah berlapang dada untuk menghapus semua kesalahan dimasa lalu.


Nathan yang melihatnya tersenyum, istrinya berbesar hati memaafkan orang yang pernah berbuat jahat padanya, dan kini hanya ada senyum dan kebahagiaan diwajah sang Istri.


"Sudah." Nathan mengambil alih keranjang kue yang Ami beli, pria itu menagatar istirnya kekasir, untuk membayar kue yang Ami beli.


"By, tadi aku bertemu_"


"Nesya." Potong Nathan.


Ami mengaguk dan tersenyum.


"Kamu melakukan hal yang terbaik sayang, aku bangga." Nathan menepuk kepala Ami lembut.


Keduanya berada di dalam mobil untuk mengunjungi rumah bunda Raya.


"Hm, hidup tanpa rasa bersalah dan saling maafkan adalah ketengan lahir dan batin." Ucap Ami terseyum.


Membuat Nathan ikut tersenyum. "Dan kamu salah satu orangnya."


Ami terseyum senang, hatinya merasa lebih lega.


Setiap orang memiliki jalan kehidupan yang berbeda, dan roda kehidupan pun berputar, Ami yang dulu selalu ditindas dan dihina, siapa sangka jika sekarang hidupnya lebih baik dari orang yang menindasnya dahulu, jadi jangan pernah merendahkan kehidupan orang yang berada dibawah kita, karena suatu saat jika Tuhan sidah berkehendak maka bisa jadi kita di bawah orang yang pernah kita rendahkan.


Sedangkan ditempat lain, tepatnya di rumah sakit, Ando yang sudah terbakar api kemarahan kini semakin tidak bisa mengontrol emosinya, segala umpatan dia lontarkan ketika tidak melihat mobil yang dia bawa tadi ada diparkiran rumah sakit.


Dan sekarang dirinya harus memesan taksi untuk mengantarnya pulang.


"Nathan sialan..!!"


.

__ADS_1


.


Menjelang End Sayang 🥰🥰


__ADS_2