My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Ikan berlanjut


__ADS_3

Yang di katakan pelayan benar adanya, setelah tahu jika ikan kesayangan miliknya dijadikan pepes dan dia sendiri pun ikut makan bahkan dengan lahapnya sampai menghabiskan dua ikan, kini Mustafa hanya bisa duduk di didepan kolamnya yang hanya tersisa dua ikan saja.


"Mbak apa bapak selalu seperti itu kalau lagi galau?" Tanya Raya yang berdiri di ambang pintu bersama satu pelayan lama disana.


"Iya nyah, bahkan bapak reka ngak makan sehari semalam." Jawab pelayanan yang bernama mbak Sum.


"Masak sih Mbak." Raya tidak percaya jika suaminya benar tidak akan makan ketika sedang galau.


"Benar nyah, coba aja nyonya suruh makan dan lihat pasti baik tidak mau makan seharian nanti, dana pasti hanya duduk merenung seperti itu." Ucap mbak Sum lagi dengan serius.


Raya menatap suaminya yang sejak bangun tidur hanya duduk disana, dan tidak melakukan apa-apa. Jika biasanya Mustafa akan olahraga pagi dan mengunjungi tambak ikanya yang di belakang rumah, kini pria itu tidak melakukannya sama sekali.


"Mas.." Raya menyentuh bahu suaminya. "Aku lapar." Ucap Raya dengan suara manja. Meskipun usianya tak lagi muda tapi ternyata Raya juga memiliki sifat manja, apalagi dalam keadaan hamil wanita ingin selalu dimanja.


Musthafa menoleh kesamping. "Mau makan apa?" tanyanya dengan wajah lesu, tidak ada senyum di bibir pria yang terbiasa menampilkan senyum padannya.


"Em," Raya bingung ingin makan apa, karena baru saja dirinya makan cake yang kemarin putrinya bawa, dia hanya ingin membuat suaminya makan.


Karena melihat Raya yang lama menjawab dan seperti berpikir. Mustafa memiliki pemikiran lain. "Mau ikan lagi, biar aku ambilkan."


Mustafa berdiri dan mengambil jaring yang kemarin Raya gunakan, pria itu sudah siap untuk mengambil ikan.


"Mas, tidak..! aku tidak mau ikan itu." Wajah Raya tiba-tiba semerbak, air matanya mengenang dipelupuk matanya.


"Loh, kenapa nangis sayang." Mustafa yang melihat istrinya akan menangis segera memhampiri dan membuang jaring yang dia pegang tadi.


"Huuaaa..kamu marah sama aku." Raya menangis meraung-raung.


"Sayang, aku tidak marah." Mustafa memeluk Raya yang masih menagis.


"T-tapi kamu suruh aku makan ikan itu lagi, pasti kamu marah kan karena aku mengambil ikan mahalmu tanpa ijin." Raya sesenggukan dengan air mata berlinang, bahkan ingus wanita itu sampai keluar.


Sroott


Raya membuang ingusnya menggunakan baju yang Mustafa pakai tanpa rasa bersalah.


"Ya Tuhan, sayang itukan jorok." Wajah Mustafa benar-benar masam pria itu tidak sanggup melihat apa yang sedang Istrinya lakukan.


Raya menatap tajam suaminya. "Kamu bilang aku jorok?" Tanyanya dengan menggebu-gebu.


"B-bukan begitu." Mustafa kehabisan kata-kata, mau membela pasti tetap saja salah.

__ADS_1


"Kamu memang marah sama aku Mas, kamu nggak sayang sama aku dan anak kita." Raya kembali menangis dan melangkah pergi.


"Loh sayang kok kamu malah marah-marah sih."


Mustafa mengejar istirnya yang berjalan masuk lebih dulu, tidak lupa dirinya juga membuka baju yang sudah Raya pakai untuk membersihkan ingusnya.


"Bun jangan marah-marah kasihan anak kita." Mustafa langsung memeluk Raya dari belakang ketika mereka sudah berada di dalam kamar. Raya menyingkirkan tangan Mustafa yang melingkar di perutnya tapi tidak bisa.


"Mas lepas." Air matanya masih mengalir, bahkan masih terdengar Isak tangis.


"Aku tidak marah sayang, apapun boleh kamu minta asalkan kamu senang, ikan besok aku bisa beli lagi, tapi ngidam kamu tidak bisa di ulang lagi." Ucap Mustafa yang masih memeluk Raya dari belakang, pria itu menaruh dagunya di bahu Raya.


"Jadi Mas tidak marah?" Tanya Raya dengan membalikkan tubuhnya, kini keduanya sedang berhadapan tanpa jarak.


Mustafa menggeleng. "Tidak, Mas hanya merasa sedih karena kehilangan." Ucap Mustafa jujur, dia tidak akan marah tentang apapun yang mengenai kebagian istrinya.


Tangan Mustafa mengusap pipi Raya yang basah. "Jangan marah-marah dan sedih kasihan anak kita ikut sedih." Mustafa menampilkan senyum.


"Em, kalau begitu ayo Mas makan, sudah siang tapi mas belum makan." Raya ingin meraih tangan sumainya mengajak keluar tapi Mustafa menahanya.


"Kenapa? kamu tidak mau makan?" Tanya Raya melihat suaminya yang masih diam.


Mustafa menarik tangan Raya hingga tubuh keduanya saling menempel, bukan hanya tubuh tapi bibir keduanya sudah saling memanggut dan menyesap bibir lawan masing-masing.


"Mass shh."


.


.


.


Di sekolah Ami dan Olive berlarian dengan tawa lepas kedua gadis itu paling bahagia karena pada akhirnya mereka sudah meneyelsaikan ujian akhir yang mereka tunggu-tunggu.


Tidak hanya mereka tapi semua murid yang juga menantikan apa yang sudah mereka tunggu selama tiga tahun.


"Mii, aku senang akhirnya bisa menyelesaikan sekolah disini." ucap Olive yang memang senang, karena dia mendapat beasiswa bisa sekolah disana.


"Aku juga senang Ol, bisa meneyelsaikan soal-soal tanpa kendala." berbeda dengan Ami yang sekarang tidak memikirkan biaya, gadis itu fokus untuk bisa mengerjakan soal tanpa hambatan dia ingin lulus dan tidak ingin tinggal kelas dan itu pasti mustahil jika seorang istri Nathan Adhitama akan tinggal kelas mau di taruh mana muka tampan suaminya, ehh.


Mereka berjalan menuju kantin, ingin makan di kantin sebelum mereka merindukan menu kantin yang akan tidak mereka dapatkan lagi, tapi untuk Ami mah kecil, ada suami siaga yang akan mengabulkan permintaannya.

__ADS_1


"Mbak pesan bakso dong, dua minumnya es teh di antar kesana ya." Ucap Olive yang memesan.


Ami hanya duduk menunggu, dengan ponsel ditanganya.


Olive pun mendekati sahabatnya yang asik dengan gawainya.


"Hayoo, yang ketahuan lagi chatingan sama cowok." Olive sempat melirik, dan di sana tertera nama Kak Kiko.


"Biarin, Napa jelous lu." Ledek Ami menatap Olive menggoda.


"Dih, ngak banget. cemburu kok sama kamu." Olive berdecih sedangkan Ami mencebik.


Tak lama pesanan mereka datang, tapi terganggu dengan deringan ponsel Olive mendapat panggilan.


"Halo Pah."


"..."


"Apa?" Mata Olive sudah berkaca-kaca. "I-iya Pah, Olive pulang sekarang." Olive pun memasukkan ponselnya kembali.


"Kenapa Ol.?" Tanya Ami khawatir.


"Nenek, nenek masuk rumah sakit, aku harus kesurabaya sekarang." Olive buru-buru meraih tasnya.


"Biar aku antar." Ucap Ami pada Olive yang terlihat panik.


Olive mengangguk. Kedua gadis itu meninggalkan bakso yang belum mereka sentuh, Ami lebih dulu membayar dan langsung mengejar Olive yang sudah lebih dulu keluar.


"Nenekmu masuk rumah sakit, dan ingin bertemu kamu, ada yang ingin beliau sampaikan."


Ucapan papa Olive tadi berputar di otaknya, gadis itu tidak tahu apa yang akan disampaikan oleh neneknya, yang jelas Olive tidak ingin terjadi sesuatu pada nenek satu-satunya.


.


.


Ngak bosen deh, Otor promosiin karya sendiri 😂


Jangan lupa mampir prennn, ranting, fav, liKe komen 🥰🥰🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2