
Mario sudah menunggu Hawa didalam mobil, pria itu janji akan membawa Hawa jalan-jalan dihari weekend. Karena hampir satu Minggu ini dirinya sibuk dengan pekerjaannya atau lebih tepatnya dibuat sibuk oleh Nathan karena harus mengembalikan perusahaan Julio stabil, Mario hampir tidak ada waktu untuk menemui kekasih kecilnya.
Blam
"Maaf lama Om." Ucap Hawa yang baru sama masuk mobil Mario.
Hawa memasangkan sealbead untuk dirinya sendiri. "Tidak masalah." Jawab Mario tersenyum sambil menepuk kepala Hawa pelan.
Hawa yang mendapat perlakuan seperti itu ikut tersenyum.
Mario sedikit menoleh kebelakang untuk mengambil sesuatu.
"Untukmu." Memberikan buket bunga besar kepada Hawa, Mario tersenyum melihat reaksi Hawa yang terkejut sekaligus takjub.
"Untukku." Tanyanya dengan bergantian menatap Mario dan bunga mawar yang cantik.
"Tentu saja untuk princess."
Hawa tersipu dan mengambil bunga cantik pemberian Mario, menghirup aroma wangi bunga segar yang begitu enak.
"Makasih Om." Ucap Hawa tulus.
"Sama-sama sayang." Mario mengusap pipi Hawa yang bibirnya masih mengembangkan senyum. hanya bunga saja sudah membuat senyum cantik Hawa mengembang sempurna.
Mario melajukan mobilnya menuju tempat yang Hawa inginkan, gadis itu ingin jalan-jalan ke danau yang sejuk dan indah di sore hari.
__ADS_1
"Kamu suka." Tanya Mario sambil menoleh pada Hawa yang sejak tadi senyumnya tak luntur.
"Suka, Hawa tidak pernah dikasih bunga seperti ini, dan ini seperti mimpi." Jawabnya jujur.
Mario tersenyum tipis, syukurlah Hawa menyukai bunga pemberiannya.
"Baiklah setiap hari tuan putri akan mendapatkan bunga yang cantik seperti orangnya." Ucap Mario melirik Hawa dan fokus kedepan.
Hawa terkekeh. "Percaya deh, Om kan tajir jadi uangnya tidak akan habis hanya untuk memberikan aku bunga." Tawa Hawa menular pada Mario.
Tangan kiri Mario menyentuh tangan Hawa untuk di kecup, dan menggenggamnya. "Semua yang aku miliki akan menjadi milikmu sayang, tanpa terkecuali."
Ahhh so sweet, tuhan sisakan satu pria seperti Om Mario untukku. Ucap author yang tidak tahu diri.
.
.
"Akhir-akhir ini aku sibuk, Maaf tidak bisa ada waktu untukmu." Ucap Mario mencoba terbuka, mengatakan apapun yang dia lakukan, agar Hawa juga merasa nyaman dan melakukan hal yang sama, sama-sama terbuka dengan apa yang mereka lakukan.
"Memangnya Om sibuk apa? bukankah perusahaan Om ada di Swiss." Tanya Hawa yang mulai penasaran, dirinya memposisikan duduknya sedikit menyamping untuk menatap Mario.
Sekarang Hawa merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Mario, jika tidak ada kabar saja Hawa sudah mulai gelisah galau merana Alias Gegana.
__ADS_1
"Kamu tahu persyaratan papamu?" Tanya Mario yang langsung mendapat gelengan kepala dari Hawa.
"Perusahaan papa Julio, sedang mengalami masalah dan penurunan, dan karena itu papamu memberikan aku syarat agar bisa melamarmu."
Seketika wajah Hawa kembali merona, setiap ucapan yang keluar dari bibir Mario entah mengapa selalu membuat Hawa penasaran dan tersipu.
"Satu bulan Hawa, Papamu hanya memberiku waktu satu bulan untuk mengembalikan perusahaan papa Julio kembali normal, bukankah itu gila." Kesal Mario.
Dia pikir perusahaan Julio mengalami penurunan hanya karena kualitas dan performa perusahaan itu turun, tapi ternyata perusahaan Julio mengalami penurunan karena memiliki hutang saham di perusahaan lain, sehingga membuat Mario ektra kerja keras untuk mencari donatur dana yang tidak mudah dan sedikit, Mario sedikit kuwalahan untuk menanganinya, dan semua itu hanya karena cintanya yang begitu besar untuk mendapatkan Hawa, dan restu untuk bisa melamar kekasih hatinya.
"Hawa yakin Om bisa." Hawa tersenyum, mengusap lengan Mario lembut. "Jika Om berhasil Hawa akan menuruti apa pun yang Om inginkan, termasuk melamar dan menikahi Hawa."
Mendengar ucapan Hawa seketika Semangat Mario bertambah berkali lipat, dia pikir untuk menyakinkan Hawa menikah diusia muda akan sangat sulit, tapi lihatlah ternyata gadisnya sudah memberikan lampu hijau dan memberinya semangat.
"Janji?" Mario memberikan jari kelingkingnya.
Hawa tersenyum, dan menyambut jari kelingking Mario untuk mengaitkan kelingking keduanya.
"Janji Om ganteng." Cicit Hawa tersenyum malu.
Hati Mario tidak bisa digambarkan lagi, betapa bahagia dirinya.
"Demi kamu sayang, Abang rela menjadi sapi perah calon mertua."
.
__ADS_1
Kembang kopi di pagi hari 😆