My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Zian yang mulai mencari tau


__ADS_3

Nathan mengusap bahu Ami yang polos, pria itu terseyum sendiri ketika mengingat apa yang baru saja dia lakukan pada gadis yang berada di dekapannya.


Kulit putih itu kini menjadi banyak bekas kismark yang dia buat. Apalagi Ami sempat protes dengan apa yang tadi malam Nathan lakukan, lehernya terdapat tanda kepemilikan.


"Ck, gue udah kaya ABG labil." Decaknya sambil terkekeh.


Meskipun belum memiliki Ami seutuhnya, setidaknya Nathan sudah menjadikan Ami milikinya, tidak ada yang boleh menyentuh miliknya.


"Kenapa harus gadis seperti kamu." Nathan menatap wajah Ami yang terlelap, kebiasaan gadis itu jika tidur adalah mulutnya yang terbuka. "Kamu jauh dari tipe wanita yang aku inginkan, tapi kamu mampu merubah tipe wanita yang aku inginkan saat kamu datang dalam hidupku." Nathan terseyum.


Ami memang bukan tipe Wanita yang dia inginkan, jauh dari kata standar untuk dirinya. Dan Nathan bisa melihat sesuatu yang mampu membuat hatinya memilih gadis seperti Ami.


"Jika seperti ini, pasti sainganku adalah pria-pria remaja seusiamu." Nathan terkekeh sendiri membayangkan bagaimana dirinya bersaing dengan para cowok yang akan mendekati istirnya nanti, jelas gadis cantik dan memiliki hati yang baik seperti Ami tidaklah sulit untuk para pria tidak menaruh hati padanya.


Nathan sendiri sudah terjerat dengan pesona dan ketulusan hati gadisnya.


"Tidak boleh, menyukai pria lain selain aku, tidak boleh ada yang mendaki kamu jika mereka tidak ingin aku patahkan kakinya. Kalau ada kamu yang akan menanggung hukumannya." Nathan bicara dengan Ami yang memejamkan mata, entah apa yang membuat pria itu bisa seperti orang yang tidak waras.


"Om, berisik." Kesal Ami menutup telinganya dengan mata yang masih tertutup, dirinya merasa terganggu mendengar suara Nathan yang bicara sendiri.


"Ck, ternayata kamu mendengarnya." Nathan mengusap wajah Ami, yang sedikit tertutup rambut.


"Hm.." Ami hanya bergumam, dan kembali mendengkur halus.


Nathan memindahkan kepala Ami di bantal, pria itu bangun.

__ADS_1


"Tidurlah," Mengecup kening dan pipi Ami, Nathan masuk ke kamar mandi yang ada di sudut ruang pribadinya. Dia membersihkan diri untuk kembali bekerja agar bisa pulang dengan cepat.


.


.


.


"Ol kamu tidak tahu Ayana kemana?" Tanya Zian yang mendatangi rumah Olive, pria muda yang yang menunggu Ami dicafenya hari ini tidak menampakkan dirinya. Zian juga menghubungi nomor Ami tidak aktif, mengirim pesan juga tidak terkirim dan hanya centang satu.


Olive menatap kakak kelasnya dengan menghela napas. "Kakak cari Ami kenapa kesini, lagipula Ami tidak ada disini dan aku tidak tahu dia ada di mana." Olive menatap lurus kedepan. "Jika kakak punya rasa untuk Ami lebih baik tidak usah kakak lanjutkan, karena nantinya kakak akan kecewa."


Zian yang mendengar ucapan Olive, menatap Olive dengan penuh tanda tanya. "Maksud kamu apa? Gue bebas mau punya rasa sama siapapun termasuk Ayana, dan loe gak pantes bicara seperti itu. Ayana itu sahabat loe." Setelah mengatakan itu Zian pergi dari kediaman rumah Olive dengan kesal. Dirinya merasa jika Olive tidak menyukai jika dia dekat dengan Ami.


Zian mengendari motor besarnya, dirinya memikirkan ucapan Olive barusan. Bukannya Zian pria bodoh yang tidak bisa melihat jika ada yang disembunyikan oleh sahabat Ayana. Apalagi sudah beberapa kali Zian melihat Ayana dengan pria dewasa yang sama terakhir ketika pria itu datang kesekolah dan Ami yang awaknya ingin pergi dengannya tiba Olive menggagalkan semuanya. Asumsi Zian bertambah kuat ketika Ami menunggu di halte dan masuk ke dalam mobil mewah pria yang dia tahu pemilik yayasan terbesar disekolahnya.


Diam-diam Zian memperhatikan Ami dari jauh, dan mencari tahu apa yang disembunyikan gadis yang dia sukai, dan sampai sekarang Zian belum menemukan jawabannya.


.


.


.


Ami bangun sendiri di dalam ruangan yang asing, tapi dia sadar berada di mana. Buru-buru mencari pakaiannya yang tergeletak di lantai dan memungutnya.

__ADS_1


"Dasar On mesum tak berperasaan." Ami langsung berlari masuk ke kamar mandi, bagian atas tubuhnya polos, tapi tidak dengan bawahnya yang masih utuh.


"Gila lu bos, berhasil juga bikin bini klepek-lepek." Ucap Ando dengan tertawa.


Nathan tidak perduli dengan ucapan manusia didepanya yang suka menertawainya.


"Pasti semua masih ori ya bos, belum ada yang second." Ando tertawa lagi, membuat Nathan melempar pena kearah pria yang bermulut lemes itu.


"Pergi lu, bikin sakit telinga aja." Nathan yang kesal manatap Ando tajam.


"Dih, sama gue kesel, sama bini kesemsem." Ando meledek Nathan lagi. "BtW berkat dia gue dapet mobil impian gue, seharusnya waktu itu gue minta taruhan yang lebih mahal dari harga mobil itu. Karena loe dapet barang yang masih ori semua."


Nathan hanya diam tanpa menggubris ucapan Ando yang tidak ada benarnya.


Tanpa mereka sadari Ami, yang ingin keluar mendengar ucapan Ando yang sejak tadi berbicara.


Tangannya terkepal kuat, matanya memanas.


Selain karena sebuah permainan, ternayata dirinya juga menjadi bahan taruhan.


Ami berlari, keluar menuju pintu ruang Nathan, gadis itu ingin keluar dari tempat yang begitu membuatnya terluka.


"Sial.!! Ayana..!!" Nathan yang melihat gadisnya berlari keluar mengejarnya.


"Brengsek lu Ndo." Nathan menatap Ando tajam, sebelum menghilang dari pintu.

__ADS_1


__ADS_2