My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~Perjodohan


__ADS_3

Dirumah besar keluarga Nathan Adhitama. Tepatnya setelah twins berusia lima tahun, Nathan memboyong keluarganya kerumah baru yang sudah dia siapkan, pria itu menyiapkan rumah besar untuk keluarga kecilnya. Karena ingin memiliki ank banyak Nathan sengaja memilih rumah yang besar.


Pukul tujuh malam kelima orang yang sedang duduk dimeja makan sedang menikmati hidangan makan malam yang dibuat sang Mama.


Masakan Ami bagi ke-empat orang dengan generasi berbeda itu, adalah makanan terenak seperti masakan Oma dan nenek mereka, yaitu Indira dan Raya.


"Masakan Mama selalu yang terbaik." Daniel mengacungkan kedua jempol nya sambil tetap mengunyah makanan didalam mulutnya.


"Em, aku mau belajar masak sama Mama." Hawa berusaha menelan makanan yang berada didalam mulutnya sebelum bibir kecilnya berbicara.


Sedangkan Adam lebih suka makan dalam diam, tanpa banyak bicara seperti papanya Nathan.


Ami terseyum. "Daniel segera habiskan, dan kerjakan PR sekolah." Ucap Ami dengan menatap putra bungsunya.


"Siap Mama tercinta." Daniel mengacungkan kedua jarinya yang membentuk love, Nathan yang melihatnya mendelik.


"Eh, anak kecil ngapain tangannya kayak gitu." Ucap Nathan sambil menatap putra bungsunya dengan tatapan menyelidik.


"Papa ini simbol cintaku sama Mama," Jawab Daniel sambil tersenyum penuh arti.


"No, yang punya simbol cinta untuk Mama cuma papa, kamu anak kecil tidak ada cinta-cintaan." Ucap Nathan lagi membuat Ami menggeleng kepala.


Adam yang sudah selesai lebih dulu menatap adik dan papanya hanya geleng-geleng, dirinya beranjak dan langsung mendekati sang Mama.


Cup

__ADS_1


"Terima kasih Mama tersayang, masakan Mama memang juara." Adam mencium pipi Mamanya sebagai ucapan terima kasih, dan memeluk bahu Ami dari belakang.


"Sama-sama sayang."


Jelas yang dilakukan Adam membuat Nathan membulatkan kedua matanya, Adam menatap melirik Papa meneyringai.


"Wah, Dam kamu minta gulat sama Papa." Nathan sudah siap ingin memberi Adam pelajaran, karena sudah berani mendominasi wanita yang dia cintai didepan matanya, jangankan dengan Adam yang sudah beranjak remaja, dengan Daniel saja Nathan kerap bertengkar karena Daniel suka menopoli Mamanya.


Adam menjulurkan lidah, dan mencium pipi Ami lagi setelah itu melesat pergi saat Nathan hendak berdiri.


"By, sama anak masih aja cemburu." Ucap Ami menatap suaminya dengan heran.


"Ck, kamu selalu begitu." Jawab Nathan seperti seorang pria merajuk.


Hawa yang melihat tingkah kedua orang tuanya hanya bisa cekikikan, gadis itu menyukai sesuatu yang berhubungan dengan kedua orang tuanya, dan Hawa merekam dalam ingatannya tentang semua apa yang di lakukan kedua orang tuanya.


"Papa, boleh Awa bertanya?" ucap gadis itu dengan senyum manis, duduk bersila di atas sofa disamping Nathan, Hawa memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan sang papa.


Nathan yang mendengar ucapan putrinya menoleh, ketika tadi fokusnya hanya kedepan tv.


"Tanya apa princess." Tangan besar Nathan mengacak-acak rambut Hawa, membuat gadis itu memanyunkan bibirnya.


"Ish, papa Hawa bukan anak SD lagi." Ucap Hawa sambil membenarkan poni rambutnya yang acak-acakan karena ulah sang papa.


"Tapi kamu tetap akan menjadi princess papa." Nathan mencuri ciuman di pipi putrinya dengan sengaja membuat Hawa menjerit kesal.

__ADS_1


"Papa! ih Awa udah gede." Hawa cemberut, gadis itu tidak mau dianggap kecil terus.


"Gede apanya, buktinya kamu kalau nangis masih panggil Mama kamu." Jawab Nathan sambil tergelak.


Ami dari arah dapur membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk suami dan putrinya.


"Kalau Awa belum gede, kenapa Awa sudah dijodohkan?." Jawaban Hawa seketika membuat Nathan yang sedang tertawa bungkam.


Ami yang baru saja datang, melirik suaminya.


"Apa jodoh Hawa pria seperti papa, yang menyayangi dan mencintai Mama?" Gadis itu mengedipkan matanya menatap wajah papanya yang sedang menatapnya.


"Papa do'akan kamu akan mendapatkan pria yang akan menjagamu dengan sepenuh hatinya."


"Kenapa Papa berdoa, jika papa sudah menjodohkan Awa dengan pria itu, itu berarti dia baik dan bisa menjaga Awa seperti papa menjaga Mama." Tidak puas dengan jawaban papanya, Hawa masih menuntut jawaban dari Nathan.


Ami hanya menggelengkan kepalanya pelan, saat suaminya ingin menjawab lagi, entah mengapa dari nada bicara Hawa hati Ami merasa terenyuh, putrinya seperti terkekang dengan kata perjodohan.


Nathan terseyum, dan mengelus rambut panjang Hawa. "Jika Hawa sudah besar dan cukup umur, pasti Hawa akan bisa membedakan pria yang tulus dan memiliki cinta yang besar pada Hawa." Nathan menatap sendu putrinya, sering makan malam dirumah Julio karena undangan mereka, mungkin saja Hawa merasa risih, karena Vania selalu membahas perjodohan.


Yang sebenarnya Nathan dan Ami tidak akan memaksakan jodoh untuk anak-anaknya, karena mereka akan melakukan apapun asal anak-anaknya bahagia dengan pilihannya masing-masing.


.


.

__ADS_1


Sabar gengs, sebentar lagi ada yang nonggol 🤣


__ADS_2