
Setelah tidak mendapatkan ijin dari sang Mama, Hawa mengurung diri di dalam kamar, gadis itu menyibukkan diri dengan duduk dikursi belajarnya, entah apa yang Hawa lakukan yang jelas bukan sedang belajar.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, Nathan melihat pungung kecil putrinya yang membelakanginya.
"Katanya princess papa menolak untuk makan."
Nathan duduk dipinggiran ranjang putrinya yang berukuran sedang, kamar bernuansa putih dan di kombinasi warna biru muda adalah hasil desain yang Hawa minta.
Nathan terseyum melihat putrinya tidak bergeming, masih sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Yang memarahi Mama, kok papa juga ikut dicueki." Ucapan Nathan berhasil membuat Hawa menoleh.
Hawa cemberut dengan bibir ditekuk ke dalam, gadis itu ternyata merajuk karena keinginanya tidak terpenuhi.
"Kemarilah." Nathan merentangkan kedua tangannya, menyuruh Hawa untuk mendekatinya.
Hawa yang wajahnya berubah sendu, langsung menubruk dada sang papa.
Nathan mengelus rambut panjang putrinya, dia juga mendaratkan kecupan kasih sayang dipucuk kepala sang putri.
"Mama hanya tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu, begitupun juga papa." Nathan tahu jika putrinya merasa terkekang, diusia seperti Hawa sekarang adalah suka-sukanya bermain. Tapi kondisi Hawa berbeda, apalagi saat usia Hawa menginjak tiga tahun pernah terjadi penculikan saat Ami membawa Hawa ketaman sore hari.
"Tapi Awa ingin melihat Mingyu papa," Hawa memeluk tubuh tegap papanya, terasa hangat dan nyaman, inilah pelukan kasih sayang cinta pertama untuk Hawa.
Nathan mengerutkan keningnya. "Mingyu? kamu sudah punya pacar?" Tanya Nathan dengan sedikit melonggarkan pelukannya, dan menatap wajah Hawa yang masih murung.
"Katakan siapa Mingyu itu?" Ucap Nathan lagi malah membuat Hawa menggaruk kepalanya.
"Hawa, jawab papa! Siapa Mingyu?" Tegas Nathan yang mengira putrinya memiliki teman pria.
"Ituloh Pah yang setelah hari Sabtu." Jawab Hawa.
.
.
.
"Mario!" Vania membulatkan kedua matanya saat melihat putra sulungnya berdiri didepan pintu, pria itu tersenyum melihat Mamanya berlari memeluknya.
"Mama apa kabar." Mario memeluk wanita yang sudah melahirkannya ini, wanita pertama yang dia cintai.
"Baik Sayang, kenapa tidak memberi tahu jika kamu pulang." Vania menangkup wajah putranya dengan tatapan haru.
__ADS_1
"Surprise untuk Mama." Marion terseyum memperlihatkan jejeran giginya yang rapi.
"Kamu bisa saja membuat Mama terkejut." Vania tertawa, Mario juga ikut tertawa.
"Apa kabar grandma? terakhir katanya grandma kurang sehat." Tanya Vania menanyakan ibu mertuanya.
"Ya, itu satu Minggu yang lalu Mah, dan sekarang grandma sudah sehat." Mario merangkul bahu Mamanya, keduanya berjalan beriringan menuju dapur.
"Apa papa belum pulang kantor?" tanya Mario sambil mengambil minuman dingin.
Vania yang sedang menyiapkan bahan masakan untuk makan malam.
"Papamu selalu pulang saat jam makan malam, dia banyak pekerjaan." Jawab Vania yang hanya mendapat anggukan kepala dari Mario.
"Apa Mike tidak membantu papa dikantor?" Mario menanyakan adiknya.
"Ck, mana mau dia membantu papamu, kamu tahu sendiri kan kalau Mike tidak suka yang berbau bisnis." Vania menoleh pada putranya sebentar, dan kembali pada kegiatanya. "Kasihan papa kamu Mario, tidak ada yang membantu." Ucap Vania berharap putra sulungnya memiliki empati untuk mau membantu papanya dikantor.
"Kenapa tidak kamu saja yang bantu papa dikantor?" Vania menoleh dan menatap Mario yang sendang menenggak minuman.
Vania menghela napas karena putranya hanya diam saja.
"Mario_"
"Kamu mau kemana?" tanya Vania yang melihat Mario ingin keluar bukan masuk ke kamarnya.
"Mau keluar sebentar mah, ada yang mau Rio cari." Jawab Mario sambil berlalu.
"Tapi kamu baru aja sampai nak!" Vania berteriak tapi tidak didengar oleh Mario.
Sebenarnya Mario sudah sejak kemarin sampai di tanah air, tapi pria itu memilih untuk tinggal di apartemen lebih dulu.
Mario sejak remaja tinggal bersama dengan grandma, ibu dari papanya yang tinggal di Swiss, selain kuliah, Mario juga sedang membentuk bisnis dengan salah satu sahabatnya di sana, Mario pintar dalam dunia IT atau pertelkomunikasian, pria itu sedang menggeluti bidang itu sejak satu tahun yang lalu, dan kini Mario dan sahabatnya sudah mampu membangun bisnis itu meskipun belum besar, tapi perkembangannya cukup diacungi jempol.
"Pah Husein antar Awa ke supermarket." Hawa berdiri didepan pak Husein supir Ami yang sedang duduk dipos satpam bersama Kino, penjaga rumah.
"Tapi non Hawa sudah ijin belum, bapak takut kalau nyonya marah lagi gara-gara non keluar tanpa ijin." Ucap pak Husein yang berdiri didepan anak majikanya itu.
"Sudah bapak, Awa sudah ijin dengan ibu negara." Jawab Hawa dengan mantap.
Pak Husein pun percaya dan segera mengeluarkan mobil yang sudah masuk dalam garasi.
Hawa terseyum lebar, karena dirinya akan membeli apa yang dia inginkan, sejak tadi matanya tidak bisa terpejam lantaran minuman rasa pisang kesukaanya sudah habis.
Jam sembilan malam Hawa keluar dari rumah, gadis itu meminta diantar kesupermarket yang lebih besar karena disana pasti pilihannya lebih lengkap, tapi jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Hampir dua puluh menit mobil yang Hawa tumpangi sampai ditujuan.
"Tunggu disini saja pak, Awa cuma sebentar."
Pak Husein hanya mengaguk, pria yang tak lagi muda itu menunggu anak majikanya di depan supermarket.
Hawa berlari kecil untuk mencari bagain rak yang dia cari. Dan saat menemukanya matanya berbinar.
"Ck, kenapa tempatnya diatas sih." Hawa berdecak dengan tangan keduanya berada di pinggang. Hawa nampak kesal karena tanganya tidak bisa menggapai deretan susu kotak yang dia cari.
"Kenapa tinggi tubuh Mama yang menurun sih, bukannya tinggi badan papa saja." Gerutunya dengan masih berusaha untuk mengambil kotak susu yang dia inginkan.
Karena malam jadi sekitar supermarket sepi, tidak banyak pengunjung.
Karena tumbuhnya yang belum tinggi sempurna membuat Hawa kesusahan, dan gadis itu tidak sadar jika dibelakangnya berdiri sosok pria yang memperhatikan dirinya.
Pria itu terseyum, melihat gadis remaja didepanya mengingatkan dirinya dengan gadis kecil yang mampu mencuri hatinya tujuh tahun yang lalu.
"Kalau tidak bisa jangan dipaksa, nanti bisa berantakan." Ucap Mario yang berdiri dibelakang Hawa, dengan jarak tidak ada satu langkah.
Hawa membalikan tubuhnya, mendengar suara bariton dibelakangnya.
Mata bulatnya berkedip indah dengan bulu mata lentik, Hawa menatap pria tampan dan tinggi didepanya, bahkan kepalanya sampai harus mendongak untuk bisa melihat wajah pria itu.
Mario maju satu langkah, pria itu mengambilkan apa yang Hawa inginkan.
"Seharusnya kamu minum susu yang tinggi kalsium agar pertumbuhan mu maksimal." Ucap Mario sambil menyodorkan kotak susu yang Hawa inginkan.
Mata gadis itu memincing, "Apa abangnya tidak lihat." Ucap Hawa menatap wajah Mario julid. Sedangkan Mario menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Hawa. "Saya masih umur tiga belas tahun, jadi jangan samakan Abang yang sudah puluhan tahun." Kesal karena ucapan yang seperti meledeknya karena tinggi badan, Hawa menginjak kaki Mario sebelum pergi.
"Awss, heh bocil ngak sopan." Ucap Mario sambil mengaduh karena kakinya lumayan sakit diinjak kuat oleh Hawa.
Hawa menoleh dengan menjulurkan lidahnya, meledek.
"Wleee, sukurin emang enak."
"Ck, sial." Mario mengumpat karena ulah Hawa yang menyebalkan.
.
.
Hot papa untuk temen tidurš¤
__ADS_1