
Satu Minggu terasa cepat untuk orang-orang yang membantu acara pernikahan bunda Raya dan Mustafa, tapi tidak dengan calon pengantin yang terasa lama, apalagi Mustafa yang merasakannya terlalu lama.
Hari ini adalah hari min tiga, dimana Raya sedang mencoba baju di butik besanya yaitu Indira. Sebenarnya Raya tidak ingin memakai pakaian yang mewah, pikirnya Ia akan menyewa ditempat yang menyediakan. Tapi ini indira sendiri yang menyuruh Raya untuk mengunakan kebaya yang ada di tokonya, dan sekarang Raya sendang mencoba kebaya untuknya hijab.
"Mbak Raya cantik sekali." Indira tersenyum senang, melihat kebaya miliknya sangat cocok untuk ibu dari membantunya itu.
Raya hanya tersenyum menatap tampilan dirinya yang berbalut kebaya berwarna putih itu, kebayanya memang benar-benar cantik.
"Mbak, coba yuk keluar." Ucap Indira mengajak Raya keluar dari kamar pas.
"Buat apa jeng, ini sudah cukup saya mau ganti baju." Raya merasa malu jika dirinya harus dilihat banyak orang, meskipun diruangan khusus takutnya ada orang lain diluar.
Di luar banyak kaca mbak, jadi mbak Raya bisa melihat dari sisi manapun." Ucap Indira sambil membuka tirai yang menutupi keduanya dikamar pas.
Sreekk
Indira membuka tirai penutup, dan tidak disangka jika diluar berdiri seorang pria yang menatap penampilan Raya yang sedang mencoba baju.
"Mas Mus." Raya membulatkan kedua matanya, dirinya merasa malu dan juga salah tingkah.
Indira mengulum senyum, sedangkan Mustafa menatap Raya tak berkedip.
"Bagaimana mas, cocok tidak?" Tanya Indira meminta pendapat.
"Sangat cantik." Jawab Mustafa semakin membuat Raya tersipu malu, bahkan sampai menuduk agar rona wajahnya tak terlihat.
Mustafa menjawab tanpa mengalihkan tatapan matanya, pria itu benar-benar terpesona.
Mustafa pun berjalan mendekati Raya yang masih menuduk. Pria itu berhenti didepan Raya.
"Kenapa menunduk." tangan Mustafa menyentuh dagu Raya dan mengangkatnya agar bisa saling tatap.
__ADS_1
Bibir Mustafa tidak bisa untuk tidak tersenyum, pria itu melihat semburat merah di pipi putih Raya yang masih kencang itu.
Indira pun sudah mengundurkan diri, tidak mungkin dirinya menjadi penonton dua sejoli yang kembali merajut kasih yang sebentar lagi akan mengikrarkan janji.
"Aku malu Mas." Cicit Raya dengan suara pelan, kepalanya ingin kembali menunduk tapi ditahan oleh tangan Mustafa.
"Kenapa malu, sebentar lagi kita akan menikah." Musthafa mengusap pipi Raya mengunakan ibu jarinya.
Tidak disangka jika diusia mereka yang sudah tak lagi muda kembali dipertemukan jodoh yang mungkin saja tertunda pertemuannya, dan sebentar lagi mereka akan dipersatukan dengan sebuah ijab kabul.
Musthafa menyiapkan pesta sederhana, seperti yang Raya, minta. Tapi ijab kabul akan di lakukan di rumah Mustafa, karena Raya menyadari rumahnya yang kecil dan tidak mungkin kerabat calon suaminya akan menyambangi rumahnya.
Mustafa pun setuju, dan akat nikah akan dilakukan di rumah Mustafa, dan Raya akan di boyong kerumah Adhitama sebelum berangkat kerumah Mustafa untuk melaksanakan acara sakral itu.
Raya sudah berganti baju, wanita kini berbicara pada Indira dan mengucapkan terima kasih, Raya benar-benar merasa tidak enak dan merepotkan mertua dari putrinya itu.
"Mbak ingat ya, mulai besok kalian dipingit." Ucap Indira ketika Mustafa akan menutup pintu mobil untuk Raya.
Indira memang meledek calon pengantin itu, dia juga ikut bahagia.
"Sayang, bagaimana kalau kita makan dulu." Mustafa sibuk fokus menyetir, tapi bibirnya tidak sibuk hanya untuk bicara.
Raya menoleh dengan wajah kembali bersemu, merasa malu di panggil sayang kembali.
Tidak ada jawaban membuat Mustafa menoleh. "Kamu sakit?" Tanya Mustafa yang khawatir karena Raya hanya diam saja.
"Tidak." Raya menggeleng.
Mustafa hanya mengaguk, dan membelokkan mobilnya sebuah restoran.
Raya tidak pernah masuk ke restoran bintang lima seperti ini, dirinya merasa tidak pantas.
__ADS_1
"Kenapa kesini mas?" Tanya Raya ketika sudah turun dari mobil.
Musthafa yang akan menggandeng tangan Raya berhenti. "Memangnya kenapa Ray, kamu tidak suka?" Tanya Mustafa yang merasa bersalah karena dia tidak bertanya lebih dulu pada Raya. "Maaf Ray, kalau begitu kita pindah saja."
Mustafa ingin berbalik tapi dicegah oleh Raya. "Tidak mas, hanya saja aku tidak pernah masuk restoran bintang lima seperti ini." Ucap Raya jujur. "Aku takut memebatumu malu Mas."
Mustafa hanya menghela napas dalam, dia pikir Raya tidak menyukai tempat ini.
"Tidak apa, besok juga kamu akan terbiasa." Mustafa tersenyum dan kembali menggandeng tangan Raya untuk masuk kedalam restoran mewah. Musthafa sebenarnya juga tidak terlalu suka mendatangi restoran mewah seperti ini, dia lebih suka tempat makan yang udaranya sejuk dan asri, seperti saung-saung menyerupai persawahan. Tapi karena membawa Raya Mustafa mengajaknya kemari.
Setelah hampir satu jam menghabiskan makan di restoran dan berbincang kecil seputar kegiatan dan acara yang akan mereka gelar, kini Mustafa mengajak Raya mendatangi suatu tempat.
Duduk didepan nisan yang bernama Ayudia Hapsari, mendiang istri Mustafa.
Raya dan Mustafa hanya meminta ijin, dan mendoakan mendiang istri Mustafa. Keduanya meminta ijin untuk menggantikan kehadiran Raya sebagai pendamping Mustafa, dan Raya juga tahu tidak akan bisa menggantikan posisi mendiang istri Mustafa di hati calon suaminya.
Setelah dari makam mendiang istri Mustafa, Raya juga mengajak untuk mengunjungi makam sang suami. Disana Mustafa juga meminta ijin untuk menikahi Raya esok lusa.
"Mas kita mau ke mana?" Tanya Raya yang tahu jika jalan yang mereka lewati bukan arah rumahnya, melainkan jalan menuju pusat kota meungkin ke Mall.
Keduanya berada didalam mobil. "Kita belum membeli cincin pernikahan sayang." Ucap Mustafa yang memang berniat membawa Raya untuk membeli cincin pernikahan mereka, karena baginya itu sangat penting
"Tapi Mas, aku kan sudah pakai." Raya menunjukan jari manisnya yang sudah memakai cincin saat lamaran kemarin, dan baginya itu sudah cukup
"Itu beda sayang, sudah kamu menurut saja." Tangan kiri Mustafa menggenggam tangan Raya, dan mengecupnya.
Raya kembali dibuat berdebar seharian ini dengan perlakuan manis Mustafa, sungguh Raya tidak tahu jika Mustafa sangat lembut memperlakukan dirinya.
Raya tidak berfikir jika akan mendapatkan pendamping hidup lagi. Sungguh dirinya tidak memikirkan pernikahan dimasa dirinya yang sudah lama sendiri. Tapi Tuhan berkehendak lain karena mengirimkan seseorang orang menjadi pelindungnya dan imam dalam rumah tangganya.
Putri satu-satunya sudah bahagia dengan suaminya, dan kini dirinya yang mendapatkan kebahagiaan yang Tuhan kirimkan.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan, semoga keluarga kami bahagia selalu." Raya berdoa dalam hati.
Mendoakan kebahagiaan untuk keluarganya dengan keluarga baru yang akan mengayomi rumah tangganya.