
Vania tersenyum lebar saat melihat orang yang dia tunggu datang.
"Lika, sayang." Binar bahagia tampak jelas diwajah Vania.
Hawa yang melihat Vania senang juga ikut tersenyum.
"Mama, apa kabar." Hawa menerima pelukan Vania, keduanya saling berpelukan erat.
"Mama baik sayang, kamu bagaimana?" Vania menyentuh kedua lengan Hawa dengan senyum yang tak pernah surut.
"Aku juga baik, seperti yang Mama lihat." Jawab Hawa dengan senyum tulus.
Keduanya saling berbincang ringan seputar kabar. Dan pria yang sejak tadi berdiri disamping mereka hanya bisa menatap dengan perasaan bersalah. Bagaimana bisa dirinya melepaskan wanita baik seperti Hawa, hanya karena sebuah napsu belaka.
"Mike terima kasih ya, sudah membawa Lika kerumah." Ucap Vania yang tentu saja senang karena Mike membawa Hawa kerumah.
"Iya mah." Balas Mike dengan senyum tipis menatap Hawa.
Hawa yang sejak tadi sadar jika Mike terus menatapnya menjadi tidak enak.
"Sayang Mama ingin membuat kue dan cake hari ini kamu maukan bantu Mama." ucap Vania.
"Boleh Ma." ingin menolak juga tidak mungkin, Hawa yang sebenarnya merasa canggung berada disana, tapi dirinya juga tidak enak jika menolak permintaan Vania yang baik padanya. Anggap saja ini sebagai bentuk rasa bersalahnya karena perjodohan mereka batal.
Mike mengikuti langkah kedua wanita yang berbeda usia itu, entah mengapa Mike ingin kembali pada Hawa.
"Apa papa Julio kekantor Ma?" tanya Hawa yang sudah membatu Vania didapur, tepatnya dimeja dengan peralatan membuat kue.
"Iya sayang, Papamu sekarang dikantor bersama Mario."
Deg
Entah mengapa mendengar nama Mario membuat jantung Hawa berdebar kencang.
"Mario membantu perusahaan papa Julio, sudah hampir satu bulan, dan papa mu itu memuji kepintaran Mario yang mampu membuat perusahaan papamu kembali stabil." Tutur Vania jujur.
Mike yang mendengarnya mendengus kesal. Kemarin papanya yang memuji kehebatan Mario dan sekarang mamanya juga, rasanya Mike muak mendengar mereka yang selalu memuji pria yang bukan siapa-siapa dikeluarga Bord.
__ADS_1
Hawa yang mendengar Vania memuji Mario juga ikut senang, jadi memang Om gantengnya itu benar-benar hebat.
"Mike yang anaknya saja tidak mau membantu papanya, tapi lihatlah Mario. Yang bukan siapa-siapa dikeluarga kami dengan senang hati membantu perusahaan Julio.
Hawa terperangah mendengar penuturan Vania. "Maksud Mama apa? Om Mario?" Hawa tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika Otaknya sudah berpikir kemana-mana.
"Mario bukan anak kandung kami." Ucap Vania.
Hawa semakin terkejut mendengarnya, dia tidak tahu jika Mario bukanlah anak dari Vania dan Julio dan itu berarti Mario tidak tahu keluarganya.
Banyak pertanyaan yang akan Hawa lontarkan, tapi dirinya sadar jika saat ini bukan hal yang tepat untuk bertanya pada Vania.
"Sudahlah Mah, tidak usah membahas parasit itu." kesal Mike geram.
"Mike jaga ucapan kamu!" Vania menatap tajam Mike. "Biar bagaimanapun dia sudah menjadikan bagian kelaurga Bord." Kesal Vania.
Mike membuang wajah, dirinya selalu kalah dengan Mario.
Drt...Drt..Drt..
Ponsel Mike tiba-tiba berdering membuat ketegangan yang sempat hadir kini perlahan melunak saat Mike mendapat telepon.
Hawa hanya melirik Mike yang sedang mendapat panggilan dari Livia, dan Hawa menyimpulkannya jika sekarang mungkin saja memiliki hubungan yang lebih dari sahabat.
"Sudah aku bilang gugurkan saja kandungan kamu!!" Pekik Mike yang begitu jelas didengar oleh Hawa dan juga Vania.
Jedeerrr
Bagai di sambar petir, Vania dan Hawa begitu terkejut mendengar ucapan Mike yang sama sekali tidak berprikemanusiaan.
"Mike, apa yang kau katakan..!!"
Plak
Vania mendaratkan tangannya kewajah Mike dengan keras, hingga ponsel Mike jatuh ke lantai.
.
__ADS_1
.
Hawa duduk gelisah saat dokter memeriksa keadaan Vania didalam kamar.
Tadi Vania sempat pingsan saat mengetahui jika Mike menghamili Livia, dan Mike yang kesal memilih pergi entah kemana.
Ceklek
Hawa yang sejak tadi gelisah kini mendekati dokter yang baru saja keluar dari kamar Vania.
"Dokter bagaimana keadaan Mama Vania." Tanya Hawa dengan wajah cemas.
Dirinya juga tidak menyangka jika Mike akan menjadi pria pengecut dan tidak bertanggung jawab.
"Nyonya Vania hanya syok sekarang beliau hanya butuh istirahat yang cukup, saya sudah memberi beliau obat agar tenang dan istirahat untuk satu jam kedepan." Jelas pria berjas putih yang menjadi dokter keluarga Julio.
Hawa bernapas lega, "Syukurlah." Ucapnya dengan senyum.
Dokter itupun permisi setelah memberi penjelasan.
"Sayang.." Hawa menoleh saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.
"Om.." Wajah khawatir Hawa kini berubah menjadi senyum manis untuk pria yang baru saja tiba.
Hawa memang menghubungi Mario saat Vania jatuh pingsan, karena untuk menghubungi Julio, Hawa tidak memiliki nomor pria itu.
"Kamu baik-baik saja." Tanya Mario yang langsung menarik Hawa kedalam pelukannya.
"Om, yang sakit itu mama bukan aku." Ucap Hawa kesal.
Mario hanya terkekeh. "Iya sayang, tapi sejak tadi pagi aku mengkhawatirkan dirimu, yang dibawa Mike. Aku takut kamu di apa-apain sama Mike."
Mario tidak berbohong, dirinya memang kahawatir sejak pagi, saat bekerja saja dirinya tidak fokus, untung saja tidak ada Julio bersamanya.
Mendengar itu Hawa tersenyum senang, dalam pelukan Mario, hatinya benar-benar senang.
.
__ADS_1
Kembang kopi Bestie Jan lupa 💋