
Kamar yang awalnya rapi kini sudah berantakan dengan selimut bantal dan guling berserakan dilantai, bahkan keduanya sempat bermain di dalam bathtub, dilanjutkan dengan disofa dengan Ami yang memimpin, dan kini mereka kembali melakukanya diatas ranjang untuk yang kedua kali.
"Em, By aku lelah." Mata Ami sudah terpejam, tubuhnya terasa remuk dan lelah.
Nathan bergeser kesamping pria itu memeluk tubuh istrinya untuk dia dekap, dari belakang.
"Terima kasih." Nathan mencium kepala Istrinya, yang kelelahan, mengingat aksi panas keduanya tadi membuat Nathan tersenyum sendiri.
Hari masih siang tapi permainan panas mereka begitu memabukkan, baru kali ini mereka bermain tanpa henti, bahkan jika istrinya tidak menyerah lebih dulu mungkin Nathan masih ingin menggempurnya.
"Ck, kenapa gue kayak kecanduan gini sih." Ucapnya pada diri sendiri.
Baginya jika menyentuh tubuh istrinya hanya sekali, Nathan tidak akan puas dan dirinya akan meminta lagi sampai istrinya itu menyerah karena kelelahan.
Beranjak karena merasa haus, Nathan mengambil boxer dan memakainya.
Di pojok ruangan terdapat lemari pendingin pria yang setengah telanjang itu mengambil minuman kaleng dan duduk di sofa yang menghadap ke jendela kaca besar di kamar hotel itu.
Waktu sudah beranjak sore, dan mereka masih betah didalam hotel.
Bersyukur hari ini semua masalah yang dia alami terselesaikan, Nathan tidak menyangka jika dirinya bisa menikah siri dengan wanita lain. Kalau bukan karena bantuan mereka para sahabat dan papanya, mungkin dirinya masih terperangkap dalam masalah ini. Dan Nathan bisa gila jika Ami terus mendiamkannya, apalagi hal yang paling fatal yaitu Ami meninggalkannya. Tidak, Nathan tidak akan bisa hidup tanpa ada Ami disampingnya dirinya lebih rela kehilangan apa yang dia miliki dari pada kehilangan separuh hidupnya yaitu Istri.
Nathan beranjak untuk ke balkon, dirinya bisa melihat awan cerah sore hari. Dia belum memikirkan kapan akan pulang ke Jakarta, Nathan masih ingin menikmati waktu berduaan dengan sang istri.
Menghidupkan sebatang tembakau, Nathan menghembuskan asapnya keudara. Nathan memang bukan perokok aktif, hanya sesekali jika dirinya menginginkannya.
Drt ..Drt..Drt..
Ponselnya berdering di dalam genggaman Nathan, dan tertera nama papanya, Nathan tadi memang mengirim pesan hanya sekedar mengucapkan kata terima kasih jika mereka menyukai kamar yang papanya hadiahkan.
"Halo Pah."
"Papa tahu kalian butuh suasana pengantin baru." Ucap pria paruh baya diseberang sana.
Nathan terseyum tipis dengan menghembuskan kembali asap keudara.
"Apa papa akan pulang?" Tanya Nathan yang memang tahu jika Mama atupun papanya tidak bisa saling berjauhan.
"Tentu saja, papa tidak mau malam ini tidur sendirian lagi." Allan terkekeh, dan Nathan melakukan hal yang sama.
"Ya, papa hati-hati, terimakasih untuk hadiahnya. Kami suka." Ucap Nathan jujur, dia melirik kearah ranjang dimana Ami yang bergerak dalam tidurnya.
"Ingat, buatkan cucu yang banyak papa tidak sabar ingin mengendong cucu."
Nathan terseyum, ketika sebuah tangan kecil melingkar di perutnya, dan kecupan ringan dikulit punggungnya.
"Tenang saja Pah, Nathan junior sedang coming soon." Ucap Nathan dengan memejamkan matanya, ketika jemari Ami mengelus didadanya.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum dibelakang punggung Nathan, sengaja ingin menggoda sang suami, yang sedang bertelepon dengan papa Allan.
"Ya, sudah papa sudah sampai di bandara, lakukan dengan benar, biar cucu papa cepat hadir."
Allan mematikan sambungan telepon lebih dulu, karena sudah sampai di bandara bersama ke-tiga pria tampan yang masih muda.
"Ck, Om sih pakai segala kasih kamar paket bulan madu." Gerutu Ando yang kesal, karena dirinya pasti akan dapat banyak pekerjaan jika Nathan tidak ada.
Niko hanya menyimak, sedangkan Ditya sedang menerima telepon dari seseorang membuatnya menyingkir sebentar.
"Biarkan saja yang penting saya dapat cucu cepat." Ucap Allan terseyum senang.
"Kenapa harus menunggu cucu, kalau Om saja bisa buat." Ucap Ando enteng, membuat Allan menatapnya tajam.
"Kamu mau saya turunkan gaji kamu." Ucap Allan membuat Ando menggeleng cepat.
"Bagus, lebih baik kamu menurut dan gantikan pekerjaan bos kamu."
Niko menahan tawa saat melihat wajah tertekan pria yang pernah membuat hati Olive sakit.
Ditya datang dengan wajah berseri pria itu tersenyum dengan bodohnya.
"Lu Napa senyum-senyum, kesambet?" Kesal Ando Ditya yang menjadi umpan kemarahannya.
Ditya hanya menggeleng, dan berlalu mengikuti Allan yang sudah lebih dulu bersama Niko.
"Sayang..." Suara Nathan tertahan ketika jemari Ami merayap sampai di bawah perut sixpack miliknya.
Hap
"Jangan memancing sayang, kalau tidak ingin menjerit lagi."
Nathan menahan tangan Ami yang akan menyentuh bagian bawah perutnya dia tau sang istri hanya menggoda, dan Nathan tidak ingin membuat Ami kelelahan.
"Em, pelit." bisik Ami dengan suara manja.
Gadis itu malah menekan dadanya dipunggung Nathan, hingga membuat Nathan merasakan dua benda kenyal yang mengganjal membuatnya merasa nyaman.
Ami memang masih polos, gadis itu hanya melilitkan selimut di tubuhnya.
"Em, nyaman By." Ami memejamkan matanya, memeluk erat tubuh kekar didepanya, hidungnya menyukai aroma tubuh Nathan yang seperti ini, aroma keringat setelah bercinta.
Hangat..
Itulah yang dirasakan Ami.
Nathan membalikkan tubuhnya, dan merangkul pinggang Ami yang tertutup selimut.
__ADS_1
"Kamu nakal sayang, bagaimana jika aku memakan mu lagi." Nathan terseyum menyeringai sedangkan Ami menatap wajah suaminya yang benar-benar menyebalkan.
Nathan kembali menyapu bibir tipis dan kenyal yang membuatnya candu, memangutnya dengan rakus dan kuat, dengan tangan yang berada di samping kepala Ami.
Keduanya berdiri di samping jendela, selimut yang Ami lilitkan lolos begitu saja ketika Nathan menggendongnya seperti koala tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.
Bagaimana bisa dia berpaling dari wanita yang sudah membuatnya setengah gila jika tidak menyentuh ataupun melihat keberadaan wanitanya.
"By, emph." Ami melingkarkan tangannya dileher Nathan, gadis itu mendongak ketika bibir Nathan menyusuri leher hingga bahunya, sentuhan Nathan benar-benar membuatnya bisa melayang dan menggila, Ami menyukainya.
"Em, sayang." Suara Nathan terdengar berat ketika asetnya disambut dengan pijatan lembut didalam lembah yang begitu melenakan.
Ami duduk di atas perut Nathan yang menyadarkan tumbuhnya di bahu sofa, dengan kepala yang mendongak dan mata terpejam.
Ami menyukai ekspresi wajah Nathan yang seperti ini apalagi bibir Nathan yang sedikit terbuka dan urat lehernya yang menonjol, membuat Ami semakin ingin membuat Nathan mabuk kepayang.
"kenapa rasanya selalu nikmat seperti ini."
Kedua tangan Nathan membantu pinggul Ami yang bergerak naik turun, dengan tempo cepat.
"By aku.." Ami memeluk leher Nathan erat, tumbuhnya bergetar dengan napas yang memburu, dia baru saja mencapai puncaknya, dan Nathan belum sama sekali.
Ah
Nathan berdiri, tanpa melepas pangutan keduanya, berjalan menuju ranjang yang sudah berantakan, dengan jail Nathan menghentakkan pinggulnya sambil berjalan, membuat Ami meleguh dan sedikit menjerit tertahan.
"Maaf sayang, aku tidak bisa berhenti." Nathan mengecup kening turun ke mata dan wajah Ami tak luput dari sasaran bibir Nathan untuk dicium.
"Byy, lebih cepat."
"Sure.."
Alunan suara merdu keduanya saling bersahutan, Nathan dan Ami mengejar kenikmatan yang selalu melenakan untuk dikejar. Tidak ada kata lelah dan bosan, Nathan ingin kerja kerasnya membuahkan hasil untuk mendapatkan Nathan junior.
Semoga, dan author akan mengabulkan.
.
.
Lemes Bestie....😩
Ayang butuh Semangat...🤧
.
.
__ADS_1