
Setelah dua hari dirawat Mario diperbolehkan pulang oleh dokter, pria tinggi dengan tubuh tegap itu sedang berada di rumah Adhitama.
Mario sengaja datang untuk menemui Nathan, pria itu menunggu di ruang kerja Nathan dengan harap-harap cemas.
"Ada apa kau pagi-pagi datang kemari?" Nathan masuk dan duduk di kursi kerjanya.
Mario memperbaiki duduknya, dan menaruh tangannya di atas meja.
"Aku hanya ingin meminta ijin untuk pernikahan kami dipercepat." Ucap Mario yang serius menatap Nathan.
Nathan menaikkan satu alisnya, "Memangnya kenapa, bukankah masih ada 2 Minggu lagi dari terakhir waktu yang Hawa minta." Tanya Nathan balik.
Mario menghela napas. "Ck, anda tidak tahu saja jika putri anda itu selalu membuat saya panas dingin." Ucap Mario dengan kesal, karena sepertinya Nathan akan banyak bertanya.
Mario lama-lama tidak bisa mengendalikan diri jika kekasihnya itu sangat berpengaruh untuk dirinya.
"Maksud kamu apa?" Nathan menatap Mario tajam.
Mario balas menatap Nathan dengan kesal. "Ijinkan saya menikah, atau_" Mario menatap Nathan dengan tatapan penuh arti.
"Sialan..!! awas saja kau macam-macam dengan putriku." Umpat Nathan saat tahu arti tatapan Mario.
.
.
Hawa menatap seseorang yang sedang bersandar di badan mobil, seorang pria yang sejak tadi membuat pusat perhatian seluruh siswi yang melihatnya. Gosip wanita yang beruntung mendampingi seorang Mario Maurer sudah tersebar si seluruh sekolah, dan ternyata Hawa Malika Adhitama adakah gadis beruntung yang akan menjadi pendamping seorang Mario Maurer.
"Sengaja ya.." Hawa berdiri didepan Mario sambil bersedakep dada, menatap penampilan Mario yang membuat Hawa kesal sendiri.
Sedangkan Mario membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Sengaja apa?" tanya Mario sambil menatap wajah Hawa yang masam.
Mario menegakkan tubuhnya untuk sejajar berdiri dengan Hawa.
"Sengaja mau tebar pesona." Ucap Hawa sambil mendelikkan kedua matanya.
__ADS_1
Mario yang mendengar ucapan Hawa mencoba untuk mencerna, dan Mario mengedarkan pandangan melihat kesekeliling baru itulah dirinya paham apa yang Hawa katakan.
Mario tersenyum tipis sambil menaikkan tangan kirinya kedalam saku celana.
"Kenapa? bukankah sudah biasa mereka melihat aku seperti itu." Ucap Mario dengan percaya diri.
Sontak Hawa semakin kesal dengan apa yang Mario katakan.
"Nyebelin..!" Hawa meninggalkan Mario dan masuk ke dalam mobil.
Mario hanya geleng kepala, merasa lucu dengan Hawa yang ternyata cemburu.
Menjadi pusat perhatian adalah makanan sehari-hari Mario disekolah Hawa, dirinya selalu menjadi pusat perhatian saat setiap kali menjemput Hawa kesekolah.
Didalam mobil Hawa memalingkan wajahnya ketika Mario masuk kedalam mobil, gadis itu masih kesal dengan Mario yang menurutnya sengaja tebar pesona.
"Jangan ngambek, nanti jeleknya bertambah."
Bugh
Hawa langsung memukul lengan Mario, dan saat kembali ingin memukul, Mario menangkap tangan Hawa.
Dengan sengaja Mario malah menarik tangan Hawa sehingga membuat tubuh Hawa mendekat padanya.
Tatapan keduanya begitu instens, Mario menatap lekat wajah Hawa begitu juga sebaliknya. "Tidak ada wanita paling cantik selain dirimu, hanya kamu yang akan aku lihat diantara ribuan wanita di dunia ini, jadi jangan pernah berpikir macam-macam." Mario menarik tengkuk Hawa, menyatukan bibir keduanya untuk beberapa detik saling memangut.
"Besok kita akan menikah."
.
.
-
Setelah Hawa selesai melakukan ujian sekolah, seperti yang Mario minta, Hawa menepati janjinya untuk menikah setelah ujian selesai.
Pernikahan mereka tidak dilakukan dengan mewah ataupun megah, hanya ada beberapa saksi dan kerabat yang datang. Mengingat Hawa yang masih pelajar, Mario maupun Nathan sengaja menyembunyikan pernikahan mereka di khalayak ramai.
__ADS_1
Seperti yang sudah pernah Nathan lakukan, ini seperti Dejavu yang pernah dia alami. Menikahi gadis yang belum genap 17 tahun, dan kini putrinya juga melakukan hal yang sama.
"Kamu begitu cantik sayang." Ayana sampai meneteskan air matanya melihat putri semata wayangnya akan melangsungkan pernikahan, dirinya tidak menyangka akan secepat ini melepaskan putri yang dia cintai secepat ini.
"Makasih Mah." Hawa sekuat tenaga menahan buliran air matanya agar tidak jatuh, gadis itu tidak ingin menangis didepan ibu yang sudah melahirkannya.
"Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi putri Mama." Ayana memeluk Hawa dengan perasaan senang dan sedih.
Sedih karena harus merelakan putrinya untuk pergi, bahagia karena Hawa sudah menemukan kebahagiaannya saat ini, meskipun begitu cepat.
Di ruang tamu yang sudah dihias sedemikian rupa, Mario sudah duduk didepan penghulu dan Nathan. Dua pria yang akan merubah hidupnya setelah dirinya mengucapkan ijab kabul. Mario duduk dengan jantung yang berdebar kencang, belum lagi rasa gugup yang tiba-tiba datang menyapanya disaat seperti ini.
"Bukanlah kita mulai acaranya sekarang."
Dada Mario semakin berdebar saja, meskipun hanya kelurga inti yang menyaksikan tapi tetap saja ini kali pertama dan terakhir dirinya melakukannya.
Mike menatap Mario dengan seksama, mulai hari ini wanita yang pernah berada dalam hidupnya akan melangsungkan pernikahannya. Meskipun masih ada sedikit rasa sesak tapi Mike tetap melakukan apa yang sudah di takdirkan untuk hidupnya.
Livia menggenggam tangan Mike, pria itu menoleh dan tersenyum saat Livia juga tersenyum padanya. Mike membawa tangan Livia untuk di kecup.
"Semua sudah ada jalan takdirnya." Ucap Livia membuat Mike mengagguk setuju.
Nathan menjabat tangan Mario, dan saat itu juga suara tegas Nathan berkumandang, hingga Mario yang langsung menyambutnya dengan tarikan napas.
Dan barulah kata sah saling menggema memenuhi ruang tamu yang digunakan untuk acara sakral itu.
Betapa terharunya Mario bisa melakukan semua ini, kepinginnya tercapai untuk memiliki pujaan hati seutuhnya. Mario tidak menyangka, jika gadis kecil yang dia dambakan kini sudah menjadi Istrinya, sungguh kebahagiaan yang sesungguhnya untuk dirinya.
"Jaga putriku seperti aku menjaganya semenjak dalam kandungan, jangan sekali-kali kau menyakitinya, jika itu terjadi maka aku orang pertama yang akan memisahkan kalian." Nathan berkata dengan suara berat menahan gejolak dalam dirinya.
"Aku berjanji papa, dengan sepenuh jiwa aku akan mejaga Hawa." Jawab Mario tegas tanpa ada keraguan.
Nathan hanya mengagguk, dan memeluk Mario yang sudah menjadi menantunya, menjadi bagian dari keluarga Adhitama.
Ruangan itu menjadi penuh haru, setelah acara sakral yang dilakukan Mario, kini mereka semua tinggal menunggu pengantin wanita yang akan datang sebagai seorang istri dari Mario Maurer.
.
__ADS_1
.
Satu kata untuk author 🤧