My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Pertemuan


__ADS_3

Hawa melirik pria yang duduk disebelahnya, sejak tadi jantungnya tidak bisa dikontrol dengan normal, apalagi bau parfum maskulin pria itu yang begitu menyengat dengan aroma yang membuat Hawa betah menempel seperti lintah jika bisa.


Sasa duduk tenang dan fokus pada layar lebar didepanya sambil sibuk memasukkan popcorn kedalam mulutnya.


Layar besar menampilkan film romantis seorang pria yang memperjuangkan cintanya, Hawa yang memang sejak masuk sudah tidak bisa fokus lantaran pria yang duduk disampingnya terlalu sayang untuk dilewatkan.


'Kenapa sih harus om-om kan aku masih umur 16tahun, coba kalau kak Mike seperti Om ini. Pasti aku tidak makan hati terus." Hawa curhat dalam hati.


'Ish, mikirin apa si Awa, ingat kamu sudah punya tunangan." Ucapnya lagi. Dirinya sadar jika jodohnya sudah didepan mata.


"Aaaaa..."


Adegan ciuman yang membuat beberapa orang menjerit baper membuat Hawa yang sejak tadi melirik pria disampingnya mencoba untuk melihat film didepan, dan ternyata malah membuatnya syok.


"Aaa."


Hawa memalingkan wajah tepat di pundak pria itu, meskipun pernah melihat kedua orang tuanya berciuman, tapi melihat antara gadis dan pemuda yang di film membuat Hawa malu bukanya baper.


"Kenapa?" Tanya pria itu tepat didepan wajah Hawa yang menutup mata.


"Em, itu Om. Aku belum cukup umur." Cicit Hawa yang masih memejamkan matanya.


Pria itu tersenyum, lucu mendengar ucapan gadis yang menutup mata saat melihat adegan ciuman.


Karena tidak sengaja tertabrak, pria itu menawarkan mengajak keduanya menonton, dan kebetulan keduanya yang ingin nonton alhasil Sasa memanfaatkan keadaan agar uang sakunya tidak berkurang, dan meminta pria itu mentraktir keduanya untuk menonton.


"Terus kenapa pilih nontonnya film dewasa?"


Krikk...krik...krikk..


Hawa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan menjauhkan kepalanya dari pundak pria yang memiliki aroma maskulin terpilih.


"Heee,, itu Sasa yang pilih." Jawab Hawa jujur.


Pria itu hanya mengaguk, menatap wajah cantik gadis didepanya, mekipun dalam keadaan gelap dan hanya ada sinar dari cahaya layar besar didepan, kecantikan Hawa masih terlihat begitu jelas membuat pria itu seakan tidak mau mengalihkan tatapannya.

__ADS_1


"Lika, kita harus segera kesekolah, ini sudah hampir jam pulang sekolah." Ucap Sasa yang sedikit panik karena takut jika supir yang menjemputnya tidak menemukannya disekolah dan mengadu pada Mamanya.


Hawa melihat jam diponselnya, benar saja tiga puluh menit lagi jam sekolah pulang.


Mereka baru saja keluar dari gedung bioskop, dan mereka cukup lama menghabiskan waktu di Mall tadi.


"Oke, kita balik kesekolah." Ucap Hawa yang tangannya di tarik langsung oleh Sasa.


"Eh," Kaki Hawa berhenti saat tangan satunya di genggam oleh pria tadi, otomatis Sasa menghentikan langkahnya karena Hawa tidak bergerak.


"Om, kenapa?" Tanya Hawa yang melihat tanganya dicekal pria dewasa didepanya, dan pria itu menatap gelang yang ada dipergelangan tangannya.


"Sasa kamu bisa pergi sendiri." Ucap pria itu menatap Sasa.


Sasa yang ditatap menjadi kikuk. "Tapi Om, aku kan pergi sama_"


"Biar dia sama saya," Ucap pria itu tegas.


Sasa melirik pada Hawa yang menggelengkan kepala, bertanda tidak boleh meninggalkannya pada orang yang tidak mereka kenal.


Hawa membulatkan kedua matanya, "Om modus penculik!" Pekik Hawa.


"Ck, bodoh kau Lika." Sasa menoyor lengan Hawa membuat Hawa sedikit oleng dan menyender didada pria itu.


Mata Hawa mengerjap lucu ketika matanya menatap lekat wajah pria tampan yang sangat dekat dengannya.


"Om ganteng." Gumamnya pelan, yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Hawa buru-buru menggelengkan kepalanya dan menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan pria itu.


"Bagiamana?" Tanya Sasa meminta pendapat Hawa.


"Jika kamu pergi sekarang maka kamu tidak akan terlambat sampai disekolah, dan pasti kamu tidak dimarahi ibumu." Ucap pria itu yang sedikit kesal karena Sasa tidak segera pergi.


"No, Tidak mau dimarah kanjeng ratu." Sasa yang ketakutan langsung berlari menuju keluar Mall, dan meluapkan Hawa yang hendak mengerjarnya.


"Micin Sasa, tunggu ak_"

__ADS_1


"Awa.."


Langkah kaki Hawa seketika berhenti, tubuhnya berbalik menatap pria yang berdiri menatapnya dengan senyum.


"Om tahu nama_"


"Hawa Malika, atau Awa. Hm." Pria itu maju dua langkah untuk lebih dekat dengan Hawa yang berdiri mematung dengan wajah bingung.


"Apa kau ingat siapa yang memberimu ini." Pria itu menyentuh tangan kiri Hawa yang memakai gelang.


Hawa menatap gelang dan wajah pria itu bergantian.


"Katakan siapa yang memberimu gelang ini?" Tanya pria itu lagi.


Hawa mengerjapkan matanya beberapa kali, mencermati dan mengingat wajah pria didepanya dengan seksama.


"Om Ganteng." Ucap Hawa lirih.


Bibir Mario tersenyum lebar, hati pria itu jelas berbunga-bunga mendengar sebutan Hawa untuk dirinya.


"Kau masih mengingatku?" Mario tak kuasa menutupi kebahagiannya, dirinya sejak tadi sudah menahan sesuatu yang membuncah dalam dirinya ketika melihat gadis kecilnya berada didepan matanya.


"Hu'um." Hawa mengaguk dengan senyum lebar, ternyata pria yang sejak tadi didekatnya adalah Mario yang dia beri panggilan Om Ganteng.


"Kemarilah." Mario merentangkan tangannya, menyuruh Hawa untuk masuk ke dalam pelukannya.


Hawa yang tidak berpikir panjang langsung masuk kedalam dekapan Mario.


Mario memeluk erat tubuh kecil Hawa, pria itu merasakan hatinya yang bergetar antara rindu dan juga menahan sesak saat mereka bertemu, entah perasaan bahagia atau perih yang jelas Mario merindukan pertemuan yang selama tiga tahun ini.


Cekrek


Cekrek


"Ck, lumayan nih foto."

__ADS_1


__ADS_2