
Ami keluar dari kamar membuat Nathan hanya menoleh sekilas, pria itu masih fokus pada laptop didepanya, karena kesal mendengar Ami memuji pria lain Nathan menyibukkan diri dengan pekerjaanya. Dia tidak ingin melampiaskan kekesalannya dengan melakukan hal yang selalu Nathan lalukan, yaitu bercinta sampai puas.
"Ck, otak gue malah sesat gini sih." Nathan malah menayangkan bagaimana dia bercinta dengan Ami seperti biasan ketika memberikan hukuman pada wanitanya diatas ranjang panas. Membayangkan saja membuat sesuatu di bawah sana bereaksi. "Lu juga jon, bikin orang kesal." Nathan memaki singkongnya yang bereaksi hanya karena otaknya yang sesat.
Nathan merebahkan tubuhnya yang duduk di lantai menggunakan meja kecil untuk menaruh laptop, pria itu rebahan sambil menutup wajahnya. Entahlah karena sudah tidak lama menjamah Nathan seperti orang bo*oh.
.
.
Tok...tok...
Didalam kamar, Indira yang sedang duduk bersandar di atas ranjang menoleh kepintu, Allan yang baru saja keluar dari toilet juga melakukan hal yang sama.
"Biar Abang buka." Allan nawarkan diri untuk membuka pintu. Indira hanya mengaguk.
Ceklek
"Loh, Ay ada apa?" Tanya Nathan yang melihat menantunya berdiri didepan pintu kamarnya.
Ami nyengir menatap mertuanya dengan deretan gigi yang rapi." Mau ketemu Mama Pah." Ucap Ami memberanikan diri.
"Ada apa sayang." Indira muncul dari belakang tubuh Allan ketika mendengar suara Ami.
"Hehee..em Ay butuh sesuatu dari mama." Ringis Ami dengan wajah malu, meskipun Allan sudah menyingkirkan pergi, tapi ide diotak Ami membuatnya merasa malu dan juga tidak yakin.
"Ada apa?"
Dengan ragu Ami membidikkan sesuatu ditelinga Indira, gadis itu tidak merasa sungkan, hanya saja merasa malu jika mertuanya sampai tahu, tapi mau bagaimana lagi, sejak tadi dirinya tidak menemukan pakaian keramat didalam lemarinya.
Indira tertawa, lalu menutup mulutnya dengan cepat. "Mama ambilkan, kebetulan banyak yang masih baru, besok-besok Mama akan siapkan jaring ikan dilemari kamu." Goda Indira dengan terseyum.
Ami membulatkan matanya. "Lah dikira lemari gue kolam, segala ditaro jaring ikan." Ami menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia belum bisa mencerna ucapan Mamanya yang mengandung arti tadi.
__ADS_1
Ami kembali kekamarnya dan langsung berlari kecil menuju kamar mandi, dia ingat pesan Mama mertunya tadi.
"Ingat jangan kelelahan dan jangan lupa waktu, bilang sama Nathan jangan terlalu kuat."
"Kalau ngak kuat dan cepat ngak enak lah mah." Gumamnya dengan memakai baju keramat yang dia minta dari sang Mama. Otak mesum Ami mulai bekerja demi mendapatkannya wajah hangat suaminya.
"Lagian sih Mi, udah tau punya suami cemburunya minta ampun, pakai segalah muji pria didepanya. Emang mata gue itu ngak bisa dibohongi kalau liat barang ganteng." Ami terkikik sendiri dikamar mandi, gadis itu tersenyum lebar melihat penampilanya yang pasti tidak akan membuat Nathan menolaknya.
"Om, I'm coming" Ami segera keluar dari kamar mandi, gadis itu tidak sabar ingin menaklukkan singa jantan yang sedang ngambek.
"Lah, tidur apa ya?" Ami melihat Nathan tidur miring dengan tubuh sedikit melengkung dan dengan wajah tengkurap.
Ami berjongkok, tangannya menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, karena ketika kepalanya menunduk, rambutnya tergerai kedepan.
"Byy." Panggilanya dengan pelan, tangannya mengusap rambut Nathan lembut.
Tidak ada pergerakan, Ami menghela napas. "Sia-sia dong gue udah dandan kayak mi*bi gini."
"Byy, jangan tidur di lantai." Ucap Ami lagi dengan masih dengan posisi yang sama, kedua kakinya ditekuk sama kedepan, bermaksud untuk menutupi miliknya yang hanya menggunakan segitiga bermuara.
Nathan, yang sebenarnya tidak tidur, mencoba untuk tidak menggubris Istrinya gara-gara pikiran sesatnya dia harus menahan gairah yang ada.
Nathan yang mendengarnya langsung mengeadahkan kepalanya, pria itu mendongak.
"Eh, kamu kenapa?" Terkejut tentu saja, kenapa tiba-tiba Ami ingin menangis.
"Kami jahat,. Hiks...hiks..." Kesal Ami yang sudah menangis. Gadis itu menjadi cengeng dan perasa ketika hamil.
"Sayang, cup...cup.." Nathan menenangkan Ami seperti anak kecil membuat Ami semakin kesal, dan Nathan belum menyadari pakaian istrinya karena Ami masih duduk seperti tadi.
"Jangan nangis." Nathan mengusap air mata diwajah sang istri, pria itu merubah duduknya dan mengendong Ami seperti koala.
Nathan membulatkan kedua matanya setelah sadar dengan apa yang dia lihat, "Ay turun." Nathan memaksa Ami untuk turun dari gendongnya.
Ami yang sudah seperti koala malah mengeratkan kakinya dipinggang Nathan, dengan kedua tangan yang melingkar di leher Nathan erat.
__ADS_1
"Ngak mau." Ami menggeleng dengan memanyunkan bibirnya, dan malah memeluk leher Nathan, mengendus bau tubuh Nathan bagian leher membuat Nathan yang merasakannya meremang. Dan sesuatu di bawah sana kembali berontak lebih agresif.
"Sayang jangan memancing." Ucap Nathan yang mencoba menetralkan detak jantungnya.
"Aku tidak sedang memancing, apa kamu tidak lihat aku sedang kamu gendong." Ucap Ami polos, dengan menarik kepalanya untuk menatap wajah Nathan.
Keduanya saling memandang. "Shhh Ay, kau membuatku tersiksa." Rancau Nathan ketika Ami sengaja menggoyangkan pinganya turun.
Ami yang merasakan singkong premium Nathan yang sudah aktif, semakin bersemangat untuk menggodanya.
Bibir Ami dibuat mengerucut lucu. "Ayo aku bantu membebaskannya." Terseyum mesum Ami mengecup lebih dulu bibir Nathan.
Lembut dengan penuh perasaan, kedua tangannya melingkar erat dileher Nathan ketika ciumannya disambut rakus dan menggebu oleh Nathan.
"Sialan..! siapa yang menyuruhmu memakai baju setan ini." Umpat Nathan, yang melepas tautan bibirnya, dadanya sudah naik turun dengan napas yang memburu, posisi mereka masih sama, Nathan yang menggendong Ami.
Ami terseyum manis. "Tidak ada, tapi aku ingin membuat singa jantan ini kembali tersenyum." Dengan nakal Ami berekspresi dengan wajahnya yang centil dan manja membuat Nathan menahan napas.
"Dasar, gadis kecil nakal."
Nathan kembali melumatt bibir Ami rakus, kali ini tidak ada kelembutan hanya ada ciuman yang dalam dan semakin menuntut.
Nathan mengunci tubuh Ami di dinding, dengan posisi yang masih mengendong, dan kini kedua kedua tangannya sudah merayap menyusuri lekuk tubuh Ami yang sedikit semakin padat.
"Ugh, Byy." Ami yang cepat kali terangsang membuatnya tak sabaran, tanyanya menantunya menurunkan tali spaghetti yang berada di pundaknya.
"Emm," Mata Ami terpejam dengan leguhan tertahan, ketika Nathan menyesap dan mengulum pucuk dadanya dengan kuat, tangan Nathan juga aktif menjadi dukun pijat di bagian dada yang menganggur.
"Ahh, Byy aku tidak tahan." Ami berkata lirih, tubuhnya benar-benar merasa panas dengan kepala yang terasa ingin meledak, mendapat cumbuan yang memabukkan, membuat libido ibu hamil itu semakin menggila.
"Apa kau yakin." Kedua mata tajam yang sudah berubah sayu penuh gairah menatap wajah Ami yang sudah terbakar api gairah, keduanya sama-sama menghembuskan napas panas yang menderu.
"Aku takut menyakitinya sayang." Nathan mengecup bibir Ami sekilas. "Jika aku lepas kendali_"
"Tidak akan Byy, please." Wajah sayu yang memohon membuat Nathan semakin tak bisa menolak.
__ADS_1
"Em, ingatkan jika aku menyakiti kalian."
Ahhhhh