
Ami langsung menolong Olive yang kesakitan, gadis itu panik tentu saja apalagi melihat darah yang keluar dari pelipis Olive dan tiba-tiba Olive pingsan.
"Olive,, bangun." Ami pun sudah menjatuhkan air matanya, gadis itu benar-benar takut.
"Nona biar kami bantu." Dua pria berbadan besar dan berpakaian hitam tiba-tiba datang untuk menolong.
"Kalian siapa?" Tanya Ami yang juga sedikit takut melihat dua orang berpakaian serba hitam dan kekar.
"Kami pengawal anda yang ditugaskan oleh tuan Nathan."
Ami yang mendengar membelalakkan kedua matanya, gadis itu tidak percaya jika dirinya dikawal seperti putri kerajaan.
Karena bengong salah saru dari mereka kembali berucap.
"Nona, teman anda harus segera dibawa kerumah sakit."
Mai tersadar dan langsung mempersilahkan salah satu dari mereka menggendong Olive.
Ami yang panik mencari ponselnya didalam tas untuk menghubungi seseorang.
"Halo kak.."
Mobil yang mereka tumpangi sampai diparkiran rumah sakit, Olive yang tidak sadarkan diri langsung di bawa oleh perawat dengan mendorong brankar rumah sakit.
Ami mengikuti perawat yang membawa sahabatnya, dan dirinya lupa untuk memberi tahu suaminya.
"Dok selamatkan teman saya." Ami sudah bercucuran air mata, Olive sahabatnya terluka karena menyelematkan dirinya.
"Anda tunggu diluar dulu nona, biar dokter yang menangani." Ucap suster yang melarang Ami untuk masuk.
Ami duduk dengan perasaan bersalah dan juga takut, jika Olive tidak menariknya, pasti dirinyalah yang berada didalam sana.
"Olive maafin gue." Ami menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa? oke saya kesana." Nathan menutup sambungan teleponnya.
"Kenapa Nat?" Tanya Ando yang masih duduk didepan Nathan.
"Ikut gue kerumah sakit." Nathan bangkit berdiri dengan berjalan keluar dari ruangannya diikuti Ando yang masih bingung.
Jika Istrinya yang masuk rumah sakit, pasti pria itu akan kesetanan dan panik. Tapi wajah Nathan hanya biasa saja.
"Nat, siapa yang masuk rumah sakit?" Tanya Ando lagi, tapi tidak mendapat jawaban dari Nathan.
Hingga keduanya masuk kedalam mobil, dan Ando yang sebagai supir untuk kali ini.
Nathan mencoba untuk menghubungi nomor istrinya namun juga tidak cepat di angkat hingga membuat Nathan kesal sendiri.
__ADS_1
"Ck, kenapa ngak di angkat sih." Kesalnya tapi masih terus mencoba, hingga deringan kelima baru mendapat jawaban.
"Hallo.." suara serak terdengar diseberang sana, "Byy.." Ami menangis terisak.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Nathan yang mulai khawatir karena mendengar Istrinya menangis.
Ando yang fokus menyetir hanya mendengarkan.
"Olive byy, ini semua karena aku." Tutur Ami dengan terisak, semakin membuat Nathan tidak tega.
"Kamu tenang sayang, jangan menagis. Olive pasti baik-baik saja, sebentar lagi aku sampai sana, sudah jangan sedih."
Ando yang mendengar ucapan Nathan membulatkan matanya.
"Nat, maksud lu apa Olive pasti baik-baik saja." Tanya Ando dengan perasaan yang berkecamuk. Otaknya sudah memikirkan hal yang negatif.
"Olive mengalami insiden di Mall dan dilarikan kerumah sakit karena tak sadarkan diri." jelas Nathan seketika membuat mata Ando memebeliak lebar.
"Sialan lu Nat..!! kenapa gak bilang dari tadi." Ando mengumpat dengan kesal.
Laju mobil yang awalnya dengan kecepatan rata-rata, kini langsung melesat bagaikan angin.
"Ndo, gue belum mau mati." Umpat Nathan dengan wajah kesal karena Ando menambah kecepatan tinggi membuatnya sedikit was-was.
Padahal jika Nathan yang di posisi Ando, pasti Nathan lebih gila mengemudikan mobilnya.
Ciittt
Dencitan ban mobil terdengar begitu nyaring orang-orang yang berada tidak jauh dari mobil mereka menoleh secara bersamaan.
"Ndo lu gila..!!" Lagi-lagi Nathan mengumpat.
Dan Ando tidak memperdulikan umpatan Nathan pria itu segera keluar dari dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
Brak
"Ando Sialan..!!" Sudah tak terhitung berapa kali Nathan mengumpat karena kelakukan Ando, bahkan pria itu sudah berlari masuk rumah sakit dan tak terlihat.
"Lihat aja lu bakalan balik nyari gue." Ucap Nathan dengan tersenyum sinis.
Nathan keluar dari mobil, dan memilih jalan pintas lain, pria itu sengaja membalas Ando karena sudah membuatnya kesal.
Karena Nathan tidak memberi tahu di mana Olive di rawat, dan karena Ando yang begitu panik pasti pria itu tidak berfikir jika dia bisa bertanya pada resepsionis.
Dan benar saja setelah Nathan pergi, kadal buaya yang panik dan tidak berpikir itu berlari keluar dan menghampiri mobilnya.
"Nathan sialan..!!" Ando meremas rambutnya kasar dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih, yang ada hanya kepanikan dan khawatir.
__ADS_1
Apakah Nathan tidak tahu jika jantungnya sudah mau lepas.
Ando mondar-mandir dengan berkacak pinggang, antara frustasi juga merasakan takut pria seperti orang gila.
"Ya salam." Ando menepuk keningnya ketika otaknya mengingat sesuatu, Ando kembali berlari masuk kedalam.
"Sayang." Nathan langsung memeluk, tubuh Istrinya ketika melihat Ami berdiri disamping Olive yang berdiri di samping ranjang Olive. Sedangkan Niko sudah duduk di kursi samping Olive.
Olive baru saja sadarkan diri, setelah dipindahkan diruang rawat inap.
"Byy." Ami memeluk suaminya erat, tapi sudah tidak lagi menangis.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Nathan dengan menangkup kedua pipi istrinya.
Ami menggeleng. "Tidak."
"Syukurlah.." Nathan mengecup kening istrinya didepan dua orang yang melihat mereka malas.
"Ck, keluar gih kalau mau bucin-bucinan, bosan gue lihat lu berdua." Ketus Niko tanpa melihat keduanya, Niko lebih memilih menatap Olive yang menatapnya tidak percaya.
Berani sekali Niko mengatai Nathan yang notabennya orang terpandang seperti itu, meskipun kerabat tapi rasanya tidak pantas.
Nathan hanya melirik sinis, pria itu tidak menghiraukan ucapan Niko yang terkesan meyindirnya.
"Kak, kamu belum tahu rasanya bucin, jadi jangan suka meledek." Kesal Ami menatap Niko tajam.
Niko hanya memutar kedua matanya malas.
"Lu disuruh kerumah sama bunda, katanya bunda pengen di buatin pepes sama lu." Ucap Niko menyampaikan pesan dari bundanya.
"Sekalian jatah lu nginep dirumah papa." Lanjutnya yang menatap Nathan dan Ami bergantian. "Udah lama kan lu gak nginep di rumah."
"Ck, aku kan lagi ujian kak, kalau untuk menginap belum bisa, tapi nanti aku kerumah papa." Jawab Ami yang mendapat anggukan dari Niko.
"Sayang, sebaliknya kita pulang sekarang sebelum sore." Ucap Nathan yang merasakan sebentar lagi ada singa yang mengamuk.
"Em, oke." Ami pun mendekati Olive.
"Olive maafin gue sekali lagi ya.." Ami menatap Olive sendu, raut rasa bersalah masih menggelayutinya meskipun Olive sudah memaafkan.
"Iya Mii, aku udah ngak papa, lagian ada kak Niko yang jagain aku." Olive melirik Niko yang mendapat senyum tipis dari pria itu.
"Em, gue balik ya."
Olive tersenyum dan mengangguk.
Nathan mendekati Niko yang masih duduk. "Gue harap lu tidak buat keributan sama asisten gue yang udah seperti singa." Nathan terseyum dan menepuk pundak Niko.
__ADS_1
Sedangkan pria itu hanya diam mendengar ucapan Nathan.