My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Rasa bersalah


__ADS_3

Hawa melirik pada Sasa yang malah asik menanggapi keempat pria asing itu, sedangkan dirinya sudah merasa tidak nyaman melihat mereka mencuri-curi pandang padanya.


"Sa, udah yuk kita pulang." Ucap Hawa mengajak Sasa pergi.


"Kenapa cantik, kita masih asik ngobrol loh." Jawab salah satunya.


"Sasa.." Hawa kembali memanggil Sasa yang tidak meresponnya, dan Sasa langsung menoleh saat mendengar suara Hawa yang sedikit keras.


"Eh, iya Lika ada apa?" Tanya Sasa yang bingung melihat tatapan Hawa.


"Aku capek, kita pulang." Hawa menatap Sasa sambil memberi kode untuk pergi.


Sasa yang melihat reaksi Hawa mengerti jika sahabatnya itu sudah tidak merasa nyaman.


Hawa akan beraksi jika dirinya memang sudah tidak nyaman dengan keadaan sekitar. Dan dirinya tidak bisa melawan jika ada empat orang pria itu, jika hanya satu mungkin Hawa masih akan santai.


"Maaf ya Om-om ganteng, temen saya ngak enak badan pengen pulang." Ucap Sasa beralasan.


Hawa mendelik mendengar alasan Sasa. "Kamu sakit cantik?" tanya mereka.


"Ayo Sa." Hawa tidak menggubris pertanyaan pria itu.


"Hey, aku bertanya baik-baik kenapa kamu sombong sekali?" Tangan pria itu ingin menyentuh pipi Hawa tapi segera ditepis oleh Hawa.


"Jangan pegang-pegang." Ucap Hawa menatap tajam pria itu.


Sasa menjadi bingung sendiri, dirinya sudah mengerti kondisi sekiranya, sebentar lagi pasti akan ada keributan dan Sasa yang cepat tanggap langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk seseorang.


"Hahaa, selain sombong. ternyata dia galak juga man."


Keempatnya tertawa. "Untung cantik, jadi masih enak untuk di coba-coba."


Hawa semakin geram mendengar ucapan salah satu dari mereka.


Hawa menarik tangan Sasa, tapi salah satu dari mereka malah menarik tangannya.


"Lepas..!" Sentak Hawa, membuat pria itu melepaskan tangannya.


"Dih jual mahal segala." Pria itu tertawa.


"Eh, Om jangan macam-macam ya sama sahabat saya kalau kalian tidak ingin kena masalah." Sasa berkacak pinggang berdiri didepan Hawa.


"Hahaha kalian berani mengancam rupanya." Pria itu menatap Hawa dan Sasa dari atas sampai bawah menilai.


"Memangnya siapa kalian? anak pejabat?" pria itu malah meremehkan.

__ADS_1


Sasa yang kesal hendak memukul pria menyebalkan itu, tapi tangannya ditahan oleh pria itu dan di cekram erat.


"Argh sakit..!" Sasa kesakitan karena tangannya dicengkeram kuat.


"Sasa, lepaskan teman saya..!" Hawa membantu Sasa agar tangganya lepas.


"Jangan ikut campur nona manis, atau kamu ingin mengantikannya untuk di pengang.


"Akh, tolong..!" Hawa yang ditarik tubuhnya lasung menabrak pria itu.


"Lepas..!! tolong."


Sasa dan Hawa ketakutan, mendengar tawa mereka yang mengerikan, hingga tiba-tiba terdengar suara yang membuat tawa mereka berhenti.


"Lepaskan mereka!!"


Mereka semua menatap kearah sumber suara, dimana seorang pria berjalan menuju kearah mereka dan diikuti 2 orang pengawal.


"Om.." Mata Hawa sudah berkaca-kaca, tidak menyangka jika yang datang menolongnya adalah pangeran hatinya.


"Setelah ini aku pastikan Om-Om mesum kaya kalian akan mendapat masalah." Ucap Sasa dengan berani, bahkan Sasa menatap mereka menantang.


"Lepaskan atau_"


Mario terseyum tipis, tatapan matanya tajam seperti ingin menelan mereka semua hidup-hidup.


"Kalian sudah berani menyentuh milikku, maka kalian tidak akan aku lepaskan." Mario memberi kode pada bodyguard dibelakangnya.


Keduanya maju untuk memberikan pelajaran pada empat pria itu.


Bugh


Pria yang menyentuh tangan Hawa langsung tersungkur, saat mendapat pukulan dari tangan Mario langsung.


"Om," Hawa langsung berhamburan memeluk Mario, gadis itu menangis dalam dekapan Mario.


"Sudah jangan takut." Mario membalas erat pelukan Hawa, mencium pucuk kepala Hawa berulang kali, tidak bisa dipungkiri jika jantung Mario berdetak cepat. Napasnya memburu melihat wajah Hawa yang tadi ketakutan.


"Kita pulang." Ucap Mario dengan membawa Hawa untuk pergi dari tempat itu.


Niat mereka ingin mencari ketenangan, siapa sangka malah menjadi seperti ini.


Dua bodyguard yang menjaga Hawa, membuat mereka berempat babak belur, sudah dipastikan setelah ini mereka akan mendapat balasan karena sudah berani menganggu putri Adhitama.


Mario dan Hawa duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan Sasa duduk didepan samping pak Husein mengemudi.

__ADS_1


Hawa tidak berani bicara, gadis itu masih menutup mulutnya rapat-rapat, karena sejak tadi raut wajah Mario terlihat menyeramkan.


"Kenapa kamu mematikan ponsel, apa kamu sengaja tidak ingin tahu kabarku lagi?" Ucap Mario pada akhirnya.


Mario kesal dan juga khawatir, beruntung dirinya datang tepat waktu. Jika tidak pasti dirinya sudah menyesal.


"Aku_"


"Kamu tahu, sejak aku menginjakkan kaki di sana, sampai sekarang aku tidak tidur sama sekali." Hawa yang mendengarnya langsung menatap Mario, bisa Hawa lihat jika wajah kelelahan terlihat jelas di wajah pria disampingnya, apalagi lingkaran hitam yang begitu ketara di bawah kedua matanya. Badan Mario juga sedikit kurus.


"Aku sampai tidak tidur hanya ingin segera menyelesaikan masalah yang berusahaan ku hadapi, selama itu aku melupakan segalanya, karena yang aku pikirkan agar aku cepat kembali pulang dan bertemu kamu lagi."


Nyess


Perasaan Hawa seperti terkena pisau sangat tajam hingga tidak terasa rasa sakitnya.


"Dan saat aku sudah menyelesaikan semua, aku tidak bisa menghubungi kamu, dan saat itu aku tidak memedulikan keadaanku, karena aku hanya takut jika kamu marah dan meninggalkan aku." Mario menatap wajah Hawa dengan tatapan sayu, dirinya benar-benar lelah, bahkan sekuat tenaga Mario mempertahankan matanya untuk terbuka.


"Ku mohon jangan membuatku gila Hawa, aku tidak bisa." Ucap Mario lirik.


"Maafkan Awa Om, aku minta maaf." Hawa menatap Mario penuh rasa bersalah.


"Hm, jangan ulangi lagi." Kata Mario lirik, "Aku ingin tidur sebentar di sini." Mario menaruh kepalanya di bahu Hawa, pria itu benar-benar memejamkan matanya yang terasa begitu berat.


Hawa terseyum, dan saat itu tangannya menyentuh wajah Mario yang bersandar.


"Astaga Om!" Pekik Hawa terkejut.


"Ada apa Non?"


"Kenapa Lika?"


Tanya pak Husein dan Sasa bersama.


"Pak langsung ke rumah sakit, badan Om Mario demam tinggi." Hawa semakin ketakutan saat Mario tidak merespon ucapanya.


"Om, maafkan aku." Air mata Hawa tidak bisa dibendung lagi, gadis memiliki rasa bersalah yang luar biasa.


Bagaimana bisa dirinya egois, padahal niat Hawa hanya tidak ingin membuat Mario terganggu, tapi bapa yang dirinya sudah perbuat justru membuat Mario seperti ini.


"Kamu keterlaluan Hawa, membuat dia menjadi seperti ini." Rutuknya menyalahkan diri sendiri.


"Om maafkan aku."


Hanya kata maaf yang Hawa lontrakan pada pria yang tidak sadarkan diri itu, Hawa memindah kepala Mario dipangkuannya, seketika rasa panas ikut menjalar ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2