My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Ikan sultan


__ADS_3

Raya duduk didepan meja rias, wanita itu baru saja selesai mandi setalah bangun tidur, karena ingat sedang ada putrinya Raya terpaksa membasahinya tubuhnya disore hari.


"Tumben kamu keramas Bun." Mustafa yang baru saja tiba dirumah dan langsung menuju kamar atas, dimana kamar mereka berada.


Mustafa mencium pucuk kepala Raya dan memeluknya dari belakang.


Raya menatap wajah sumainya dari balik cermin.


"Em, memangnya kenapa? apa aku tidak boleh mandi dan keramas." Tanya Raya dengan mata memincing.


"Em, bukan begitu." Mustafa melonggarkan pelukannya, pria itu harus mencari jawaban yang tepat jika tidak ingin membuat nyonya marah.


"Lalu apa? ucapan mu, sepeti menyindir aku yang jarang mandi." Ketus Raya dengan wajah kesal.


"Nah kamu sendiri kan yang bilang."


Raya membulatkan kedua matanya, sedangkan Mustafa menutup mulutnya rapat-rapat.


"Aku marah denganmu." Setelah mengatakan itu Raya pergi meninggalkan Mustafa yang kebingungan.


"Lah, gini amat punya bini. Hamil bikin pusing." Mustafa mengusap keningnya.


Dibalik kebahagiaan yang menimpanya, karena Tuhan telah memberikan mereka kepercayaan dengan malaikat kecil yang dititipkan dirahim sang Istri. Mustafa juga merasakan ketidak enaknya ketika kehamilan sang Istri selalu memicu emosi bagi Raya, apalagi semenjak hamil Raya tidak suka menyentuh air, wanita itu akan mandi dua hari sekali bahkan sampai tiga hari. Sedangkan kegiatan Raya hanya makan dan tidur, wanita itu tidak lagi suka memasak seperti ketika belum hamil, dan sekarang Mustafa harus kembali makan dengan makanan yang disiapkan pelayan.


Karena jika masuk kedapur dan bergelut dengan bumbu maka Raya akan mengalami mual hebat hingga tubuhnya lemas tak bertenaga, dan mulai saat itu sampai sekarang Raya praktis tidak kembali masak di dapur.


Mustafa mengikuti kemana langkah Istrinya pergi dan ternayata Raya menyambangi meja makan yang sudah tertata rapi menu makanannya.


"Bun, kamu masak?" tanya Mustafa melihat menu diatasi meja yang seperti dulu Raya masak.


"Tidak Mas." Raya langsung duduk, Mustafa pun juga.


"Jadi siapa yang masak? kalau pelayan rasanya tidak mungkin?" Tanya Mustafa lagi, dengan menatap wajah istrinya.


"Ami yang masak, mungkin dia kecapekan dan ketiduran." Jawab bunda Raya, sambil mengambil bungkusan ikan pepes yang tadi putrinya buat.


Dirinya sudah tidak sabar ingin memakan ikan hasil tangkapannya di kolam sang suami.


Mustafa hanya mengangguk, dia juga yang sudah lapar ingin menyantap makanan yang putri sambungnya buat, karena rasa masakan Ami pun sama persis dengan masakan sang Istri, membuat Mustafa tidak sabar untuk mencicipinya.


Sedangkan orang yang mereka bicarakan masakannya masih bergelung dibawah selimut.

__ADS_1


"Engh, terus sayang lebih cepat." Nathan dibuat mabuk kepayang dengan goyangan sang istri, pria itu seperti terbang ke langit merasakan aset miliknya yang semakin dimanjakan.


"By, kamu nakal."Ami meremas rambut Nathan ketika pucuk dadanya dihisap kuat oleh Nathan, dan kedua tangan Nathan bekerja memijat kelembutannya.


"Ugh, byy aku." Ami mendongak dengan menekan miliknya yang berkedut hebat, dirinya sudah mendapatkan puncaknya untuk yang ketiga kali, tapi Nathan belum sama sekali.


"Ini sungguh enak sayang." Nathan memejamkan matanya ketika miliknya terasa hangat terjepit seperti diurut.


"Ugh..By aku lelah." Ami ambruk didada suaminya, mereka masih setia olahraga diatas sofa dengan Ami yang memimpin.


"Tapi aku belum sayang."


"Byy." Ami kembali merasakan gairahnya naik, ketika bibir Nathan kembali menyentuh leher hingga turun ke dadanya, sudah Benyak bekas tanda yang Nathan buat hingga rasanya sudah tidak ada tempat lagi di sana, tapi Nathan menyukai tato yang dia buat bahkan kedua dada Ami sudah tidak putih mulus seperti semula.


"Lebih cepat byy.." Ami kembali merintih dengan tubuh yang menungging di atas sofa, sedangkan Nathan semakin gencar menumbuk lubang lembab yang semakin lama semakin nikmat jika semakin kuat dan dalam.


"Milikmu benar-benar nikmat sayang akuh sss_" Nathan mendesis dengan memejamkan matanya ketika milik Ami kembali berkedut dan membuat milikinya seperti di urut.


"Byy, Aku samp_Arrghh.." Tubuh Ami menegang dengan getaran hebat, gadis itu kembali merasakan deburan gelombang yang nikmat menembus miliknya.


"Rasakan ini sayang...Ahh."


"Arrghh..!!" Suara panjang keduanya menandakan permainan telah usai, permainan panas yang mengundang gelora yang membara kini meledak dan melebur menjadi satu dalam kelenaan yang tiada tara.


"Ah." Leguhan kecil keduanya ketika Nathan melepas miliknya, dan kini Ami terkapar tak berdaya di atas sofa dengan posisi tengkurap.


"Kamu luar biasa sayang," Nathan mengecup bahu polos istrinya yang basah oleh peluh, bahkan napas Ami masih terdengar memburu.


Nathan mengendong Istrinya untuk kekamar mandi, dia tahu jika sang istri tidak ada tenaga lagi meskipun hanya untuk sekedar membersihkan diri.


"Em, Byy jangan lagi." Ami menepis tangan Nathan yang menyabuni tumbuhnya, tapi tangan nakal itu malah dengan senagaja memainkan bulatan kecil kelembutannya.


"Gemas sayang." Jawab Nathan terkekeh.


Ami memanyunkan bibirnya dengan wajah kesal.


Setelah dua puluh menit keduanya berada didalam kamar mandi, dan tidak melakukan apa-apa, karena Nathan cukup puas dengan membuat sang istri yang kewalahan.


"Nah itu mereka." Bunda Raya menunju dua orang yang baru saja menuruni tangga. Keduanya berjalan untuk menghampiri dua orang yang sudah duduk dimeja makan.


"Malah Yah." Ami menyapa ayahnya begitupun dengan Nathan.

__ADS_1


Nathan menarik kursi untuk Ami duduk. "Terima kasih By." Terseyum manis membuat Nathan ikut tersenyum.


"Sepertinya kamu baru mendapatkan servis Nat?" Tanya sang ayah dengan wajah menggoda.


Nathan terseyum, sedangkan Ami melirik.


"Em, Ayah seperti tidak pernah saja." Jawab Nathan membuat Mustafa tertawa.


Ami dan bunda Raya hanya geleng kepala.


"Ya, kamu benar. Tapi saya sudah lama tidak mendapatkan servis." Mustafa melirik Istrinya cuek, bunda Raya asik memakan pepes ikan yang terakhir.


"Sabar Yah, karena dulu aku juga pernah merasakannya." Nathan menjawab dengan santai, dirinya tidak heran jika wanita hamil moodnya sangat tidak stabil dan selalu bikin darah tinggi naik.


"Ayah makan pepes yang aku buat?" Tanya Ami untuk mengalihkan obrolan seputar ranjang pria itu.


"Ya, masakan mu enak sayang. Dan ayah baru merasakan daging ikan yang seperti ini, sampai ayah menghabiskan dua biji." Mustafa tertawa, baru kali ini dirinya merasakan daging ikan seperti ini.


Ami meringis mendengar jawaban papanya, sedangkan bunda Raya hanya diam menikmati sisa terakhir.


"Kamu beli dimana ikan itu, ayah ingin memeliharanya untuk dimakan." Ucap Mustafa membuat Ami menelan ludah, sedangkan Nathan sudah mengulum senyum, entah apa reaksi mertuanya jika ikan yang dia makan adalah ikan yang dia pelihara dan Ia beli dengan harga yang fantastis persatu ekornya.


"Tidak usah nanti, sekarang saja ayah sudah memelihara dan memakanya." Jawab bunda Raya.


Mustafa mengernyit. "Maksud kamu?" Tanyanya dengan penasaran.


"Tadi aku menyuruh Ami untuk mengambil ikan di kolam, karena anak kita ingin makan ikan itu."


"K-kolam? kolam mana?" Tanya Mustafa yang sudah memiliki firasat buruk.


Sedangkan Ami mulai ketakutan jika ayahnya akan marah.


"Kolam belakang."


Ami memejamkan mata, tidak sanggup melihat reaksi ayahnya.


"Ikan yang ayah beli dengan harga 1M per biji, dan tadi bunda menyuruh Ami untuk menangkap empat ekor, dan yah ayah pasti tahu ikan apa yang ayah makan tadi."


"Apa? satu M?" Ami membelalakkan kedua matanya, sedangkan Raya meringis melihat wajah suaminya yang tanpa ekspresi.


"Bayi sultan." gumam Mustafa lemah dengan wajah sedih.

__ADS_1


__ADS_2