My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Istri Nathan


__ADS_3

"Bu Sisil ngagetin aja sih." Kesal Ami yang jantungnya sudah mau copot.


"Lah, emangnya ibu hantu."


"Dih, si ibu bisa lawak juga." Ami terseyum lalu pergi.


Bu Sisil hanya geleng kepala. "Ternyata selera pak Nathan masih ABG."


Ami menunggu Olive di belakang sekolah, tempat biasa mereka beristirahat.


Mau masuk ke kelas jam sudah sudah tanggung, dan Ami lebih baik menunggu sahabatnya itu.


Tak lama bel sekolah berbunyi dan Ami hanya perlu menghitung untuk Olive sampai.


"Satu, dua, tiga, em_"


"Ay.."


Ami yang mendengar suara berbeda menoleh. "Loli."


Loli sahabat Nesya menatap Ami dengan raut wajah berbeda. "Sorry." Setelah mengatakan itu Loli berbalik pergi dan berpapasan dengan Olive.


"Lah, ngapain tuh si dayang." Tanya Olive yang duduk didepan Ami.


"Ngak tau cuma bilang Sorry doang."


Olive hanya mengangguk. "Tobat kali, ratunya udah k'o."


Ami hanya mengangkat bahunya acuh.


.


.

__ADS_1


Nathan keluar dari ruang metting dengan wajah lelah, ini kali pertama dirinya enggan untuk tugas keluar kota. Apalagi waktu yang dia butuhkan cukup lama untuk pergi kesana dan Nathan tidak bisa meninggalkan istrinya.


"Nat."


Nathan menoleh, dan kembali melanjutkan langkahnya ketika melihat siapa yang memanggilnya.


"Nathan tunggu dulu." Maudy, mengejar langkah lebar Nathan dan Nathan terpaksa berhenti karena Maudy mencekal lengannya.


"Apalagi, belum puas kamu mencelakai istri saya hah." Bentak Nathan membuat Maudy memejamkan matanya.


"I-istri, istri apa Nat." Tanya Maudy dengan suara bergetar.


"Cukup Maudy, saya bukan barang yang bisa kamu dapatkan dengan mudah, saya sudah menikah dan kamu jangan menjadi wanita murahan dengan terus mengganggu hidup saya." Tegas Nathan semakin membuat hati Maudy mencolos.


"Asal kamu tahu, saya bisa jebloskan kamu ke penjara atas apa yang sudah kamu lakukan dengan orang suruhan kamu untuk menyekap Istri saya. Dan sebelum saya melakukan itu, lebih baik jangan pernah kamu muncul di hadapan saya lagi." Setelah mengatakan itu, Nathan berlalu pergi masuk keruanganya, meninggalkan Maudy yang syok mendengar kenyataan.


"Nathan sudah menikah." Gumamnya menangis menutup mulutnya, hatinya terlalu sakit mendengar kenyataan yang Nathan ucapakan.


"Ngak..ngak..mungkin, Nathan hanya milik aku."


Mendengar jika dia akan dijodohkan dengan Nathan membuat Maudy begitu senang, Maudy sudah berharap jika dirinya akan menikah dengan Nathan pria yang dia cintai pada pandangan pertama.


Oleh karena itu diwaktu pertunangannya batal, Maudy begitu sakit dan tidak terima diperlakukan seperti itu, dan Maudy akan mendapatkan Nathan kembali apapun caranya.


.


.


"Pak antar Olive dulu ya." Ucap Ami yang baru saja masuk ke dalam mobil setelah belajar bersama dengan anak-anak pinggir kota.


"Kerumah kamu dulu aja Mi, aku ingin bertemu bunda Raya." Ucap Olive yang menolak jika di antar lebih dulu.


"Beneran, gak dicariin Mama kamu." Tanya Ami memastikan, karena dirinya tahu bagaimana Mama Olive.

__ADS_1


"Gampang nanti aku ijin."


"Oke."


Mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan perkampungan kumuh pinggir kota. Rencananya Ami besok akan membagikan nasi kotak untuk mereka semua di sana.


"Mi, Gimana kalau kita pesan makanan dari kafe kak Zian, lumayan kan buat tambahan mereka yang kerja di sana dapet tips." Ucap Olive dengan semangat.


Ami nampak berpikir, dirinya butuh sekitar 200 nasi kotak, dan dia juga belum mendapatkan ide untuk beli di kafe mana.


"Jangan deh, lebih baik kita cari tempat lain saja."


Ami merasa tidak bisa lagi berhubugan dengan Zian, apalagi setelah kejadian waktu itu membuat hubungan mereka benar-benar berjarak.


Dua puluh menit mobil yang mereka kendarai sampai didepan halaman rumah bunda Raya.


Ami dan Olive turun dan menurunkan barang belanjaannya yang dia beli di supermarket sebelum ke rumah bunda Raya.


"Biar saya saya pak, cuma sedikit." Ucap Ami yang menolak dibantu oleh supir membawakan barang belanjaannya dan dibantu Olive.


Supir itu hanya tersenyum, Istri bosnya itu benar-benar tidak seperti kebanyakan nona muda lainnya.


"Loh, kalian kesini." Bunda Raya yang kebetulan membuka pintu karena ingin kewarung membeli sesuatu mengurungkan niatnya.


"Iya bunda." Ami memeluk dan mencium bunda Raya, gadis itu benar-benar merindukan bundanya.


"Bunda," Olive pun ikut menyalami dan mendapat pelukan dari bunda Raya.


"Kenapa kesini gak bilang sih, kan bunda bisa masak makanan untuk kalian." Bunda Raya mengusap wajah putrinya yang berada di pelukannya.


"Sengaja, bunda." Ucap Ami dengan senyum.


Tak lama sebuah mobil juga memasuki perkarangan rumah bunda Raya tapi bukan mobil Nathan.

__ADS_1


"Siapa Bun." Tanya Ami penasaran.


Sedangkan bunda Raya yang mengenali mobil itu, hanya diam.


__ADS_2