
Ami dilarikan ke UKS setelah Loli meminta bantuan, diantaranya para siswa yang masih perduli dengan kemanusiaan, mereka membantu Ami untuk dibawa ke UKS.
"Olive sakit." Ami terus merintih memegangi perutnya yang terasa begitu sakit. Dirinya sudah tidak bisa membendung tangisnya.
"Sabar, Mi." Olive mengusap air matanya yang ikut terjun bebas sejak tadi, dirinya juga takut terjadi sesuatu pada sahabatnya.
"Kami tidak bisa menanganinya, takutnya terjadi sesuatu pada kandungannya.
Olive menatap pegawai UKS itu dengan tajam. "Kenapa tidak bilang dari tadi." Bentak Olive dengan emosi.
Olive dan Loli sudah menunggu Ami disana hampir tiga luluh menit, dan petugas itu baru mengatakannya sekarang.
"Liv, sebaiknya kita bawa Ami kerumah sakit." Loli juga begitu panik, bahkan gadis yang dulu rivalnya sebagai anak buah Nesya kini juga ikut menitikan air mata.
Olive mengaguk, "Tapi mau minta tolong siapa, para guru sedang rapat." Ucap Olive yang kalut. Yang membawa mobil hanya para guru sedangkan mereka masih mengurus wali murid yang berdemo tadi.
"Telepon pak Nathan Liv, atau siapa saja." Ucap Loli memberi solusi.
Olive pun segera menghubungi nomor seseorang yang sejak tadi dia banyak berkirim pesan.
"Ha-halo kak."
.
.
Mobil Nathan melesak masuk setelah gerbang sekolah terbuka. Para murid yang yang masih berkerumum di lapangan sekolah, menyingkir semua ketika melihat mobil yang sangat mereka kenali melewati mereka. Jika mereka tidak cepat menyingkir mungkin bisa tertabrak.
Nathan memakirkan mobilnya asal, pria itu langsung keluar dengan wajah panik dan juga marah.
"Nat, bini lu di UKS." Teriak Ando semakin membuat jantung Nathan kian berpacu.
__ADS_1
"Ngak, kamu kuat Ay." Gumam Nathan yang masih berlari untuk menuju UKS. Dirinya tidak memperdulikan hal lain, yang ada di pikiran Nathan hanya istri kecilnya.
Istrinya yang lebih penting, sisanya Ando yang akan mengurus setelah Nathan memastikan Istrinya baik-baik saja.
Para murid melihat Nathan yang berlari dengan wajah panik membuat mereka heran dan juga merasa senang, bisa melihat wajah tampan seorang Nathan bisa juga panik dan kahawatir.
Duh, mereka semua menghayal ingin menjadi bagian dari seorang Nathan.
Brak
Nathan mendobrak pintu UKS yang tertutup, napas Nathan tersengal dengan dada naik turun mendengar suara Isak tangis dan rintihan seseorang yang sangat Nathan kenali.
Langkahnya cepatnya membawa ke ranjang paling pojok, ya Nathan menemukan istirnya yang kesakitan berbaring di ranjang.
"Sayang, apa yang terjadi." Nathan mengusap kepala Ami, dan menggenggam tangannya.
"By, sakit." Ami merintih dengan wajah yang sudah sebab. "Sakit By."
Nathan tak kuasa menahan genangan air mata dipelupuk mata. Buliran bening itu jatuh juga.
Olive dan Loli berpelukan keduanya menangis.
Nathan mengendong Ami, tapi tatapan matanya tertuju pada ranjang yang membuat tubuhnya membeku.
Olive yang melihat, menutup kedua mulutnya. Jantungnya semakin berdebar kencang.
"Lol, i-itu darah." Ucap Olive dengan suara serak.
Dengan cepat Nathan membawa keluar istrinya untuk menuju mobil.
Sepanjang jalan lorong menuju mobil, apa yang dilakukan Nathan menjadi pusat perhatian seluruh murid yang memang berada di lapangan sekolah. Wajah Nathan begitu datar dan menakutkan dengan tatapan matanya yang dingin.
__ADS_1
Olive dan Loli mengikuti Nathan dari belakang, kedua gadis itu memikirkan hal yang mungkin saja terjadi setelah melihat bercak darah yang berada di ranjang tempat Ami berbaring.
"Pak, Nathan ada apa dengan Ayana." Kepala sekolah yang melihat nampak kahawatir.
Tapi tidak mendapatkan jawaban dari Nathan, pria itu semakin mempercepat langkahnya agar cepat sampai dimobil.
Para wali murid yang juga ikut melihat bagaimana seorang Nathan terlihat begitu panik dan juga kacau menjadi bingung, siapa yang tidak tahu seorang Nathan Adhitama selain donatur terbesar disekolah anaknya, mereka juga tahu siapa keluarga Adhitama.
"Ada hubungan apa pak Nathan dengan gadis hamil itu."
Kasak kusuk wali murid mulai terdengar.
Kepsek pun mengikuti Nathan yang membawa Ami.
"Sayang, bertahanlah." Nathan kembali menjatuhkan air matanya, sebelum masuk mobil, dan hal itu dilihat banyak murid yang melihatnya.
"Kak aku ikut." Olive segera masuk ke kursi bagian depan ketika Ando sudah ingin masuk dibagian kursi kemudi.
Ando yang mengemudikan mobil Nathan untuk membawanya kerumah sakit.
Dijalan Ando mengemudikan dengan kecepatan di atas rata-rata namun masih pada jarak aman agar tidak membahayakan pengguna jalan lainnya.
"Byyy.." Ami sudah tak bisa lagi berkata, tumbuhnya lemas, dan rasa sakit di perutnya semakin membuatnya tak bisa lagi menahan.
"Sabar sayang, kamu kuat." Nathan mencium kening dan wajah Ami, tangannya menggenggam tangan Ami yang selalu menyentuh perut nya.
"Byy, aku tidak kuat." Ami berkata lirih, teganya sudah habis dan rasa sakit semakin menjalar.
"Tidak sayang, kamu harus kuat demi anak kita." Nathan memeluk istrinya. Nathan mendudukkan Ami dipangkuannya.
Olive masih sesenggukan, dirinya belum bisa menceritakan apa yang terjadi ketika melihat sahabatnya begitu tersiksa dan kesakitan.
__ADS_1
"Ami, bertahanlah."
"Apa yang terjadi." Tanya Ando pada Olive yang duduk disampingnya, mata Ando fokus pada jalan didepanya.