
Eegghh
"Ups sorry." Ami menutup mulutnya setelah bersendawa.
Tuan Fork mengusap bibirnya menggunakan sapu tangan, pria paruh baya itu senantiasa menunggu Ami makan hingga selesai karena tergiur dengan kerja sama yang gadis itu ucapkan.
"Aku sudah selesai." Ami memberikan piring kosong itu kepada pria yang tadi membawanya makanan.
"Katakan, jangan membuat kesabaranku habis." Ucap tuan Fork tegas, baru kali ini dirinya seperti kambing congek hanya untuk menunggu seorang gadis makan.
"Ck, nasiku belum turun, kamu mau aku muntah disaat aku bicara." Protes Ami dengan mengusap perutnya.
"Kau mau memwpermainkan ku." Tuan Fork duduk tegak dengan menatap Ami tajam.
"Udah kayak singa gitu, ngak tau apa sejak tadi aku menelan nasi seperti menelan batu." Batin Ami menjerit.
"Wehh, santai tuan, jangan emosi." Ami mengangkat kedua tangannya, "Tenang aku akan beri tahu kerjasama kita." Ami terseyum manis, meskipun jantungnya berdetak tak karuan melihat wajah seram yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Jika Hubby tau, mungkin kamu yang akan dijadikan perkedel." Gerutu Ami dalam hati, berharap Nathan segera datang nolongnya, dia hanya ingin membuat pria itu mengulur waktu agar dirinya tidak kembali di sekap dan diikat, 'rasanya tidak enak'.
"Kita bekerjasama untuk mendapatkan rumah baca, jika hub_ eh maksudku pasti Nathan akan mendatangi surat itu dengan rayuanku." Ucap Ami dengan melancarkan aksinya. Dia tahu jika rumah baca itu mengundang banyak orang untuk bisa memilikinya, bangunan dan lahan yang Nathan buat memang tidak tanggung-tanggung, dan Ami yakin jika orang didepanya ini menginginkan rumah baca miliknya itu.
Ya, rumah baca itu milik Ami, atas namanya sendiri. Dan mereka tidak tahu jika untuk mendapatkan lahan rumah baca, tanda tangan Amilah yang harus mereka dapatkan bukan Nathan.
Tuan Fork nampa berpikir dengan mengusap dagunya yang berbulu dengan jemarinya, dia menatap wajah Ami untuk mencari kebenaran disana.
"Bagaimana." Ami memainkan alisnya, "Saya cukup pandai membuat pria itu untuk menandatangani surat yang anda inginkan." Nego Ami lagi demi keselamatannya dan juga suaminya.
"Apa yang kau butuhkan."
Ami terseyum lebar, dia bersorak dalam hati. "Kali aku akui jika otak kecil ku mulai bekerja dengan baik." Pujinya pada diri sendiri dalam hati.
"Gampang, anak buah anda hanya perlu menyiapkan_"
Mobil Jeff yang Ditya Kendari sampai di pinggir jalan yang lumayan jauh dari markas milik tuan Fork, mereka berhenti disana.
"Kalian cari posisi yang sudah saya beri arahan, ingat tawanan kita seorang wanita."
"Siap Ndan..!"
"Bubar."
Anak buah Ditya mulai menyusup masuk, mereka mencari tempat yang sudah di tandai, untuk bisa melihat lawan dengan posisi aman.
"Nat kamu masuk lebih dulu, kami tidak akan jauh darimu." Ucap Ditya, disini memang Nathan yang ditunggu. "Dan kamu harus bisa memancing mereka semua keluar."
Nathan mengangguk pasti. "Semangat Nat, demi sang bini."
Bugh
"Shhh, Nathan Sialan..!!" Umpat Ando ketika merasakan kakinya yang nyeri akibat diinjak Nathan kuat.
__ADS_1
Ditya geleng kepala. "Lebih baik kamu nikah, dari pada meledek bosmu terus."
"Ck, apa hubungannya." Kesal Ando ketika mendengar kata 'Nikah'.
Kedua teman itu berlalu memacari tempat persembunyian yang tidak jauh dari Nathan.
Nathan menatap bangunan didepanya dengan perasaan campur aduk, " Sayang tunggu aku."
"Dimana bos kalian." Nathan menatap Empat orang yang baru saja menghampirinya. "Katakan orang yang dia cari sudah berada di sini."
Keempat pria itu hanya saling tatap, hingga salah satu dari mereka memberi kode untuk masuk.
Nathan hanya diam menatap keempat orang yang berseragam hitam dengan tubuh besar, dan salah satu dari mereka masuk kedalam.
"Apa diantara kalian tidak memiliki kelaurga?" Tanya Nathan yang menatap mereka satu persatu.
"Tidak usah sok akrab." Pria bertato di bagian leher itu menjawab.
"Bukan sok akrab, hanya saja apa kalian tidak kasihan dengan mereka yang mengharapkan kalian memiliki pekerjaan yang halal." Nathan mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka, agar anak buah Ditya bisa menyusup masuk.
"Kami tidak punya keluarga dan kami tidak punya siapa-siapa." Jawab salah satu dari mereka.
"Menyedihkan sekali." Ucap Nathan pelan.
"Apa kau bilang..!" Pria besar dengan kulit hitamnya menatap Nathan nyalang.
"Tidak bilang apa-apa." Nathan melirik orang-orang Ditya sudah masuk ke markas.
"Ck, bos kalian lama sekali." Nathan menerabas pengawak itu dan masuk ke dalam, hingga Nathan bisa melihat pria yang tadi siang membuatnya emosi sedang menuruni tangga dengan wajah yang menyebalkan bagi Nathan.
"Kita bertemu lagi tuan Nathan." Ucap Fork yang berdiri dengan jarak dua meter dari Nathan, pria paruh baya itu memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Dimana istriku." Tanya Nathan dengan menatap tajam pria yang sudah berani menculik istrinya.
Tuan Fork tertawa jahat. "Dia sedang menunggumu diatas." Kepalanya menoleh pada tangga yang menuju ke lantai dua.
Nathan menyipitkan matanya. "Pergilah dia menunggumu." lanjut tuan Fork yang berjalan menuju sofa.
Nathan pun segera menaiki tangga satu persatu, pria itu tidak sabar untuk menemui Istrinya.
"Tuan apa tidak apa-apa membiarkan mereka berdua." Tanya salah satu pengawal mereka yang merasa ada sesuatu yang direncanakan.
"Memangnya bisa apa mereka dia atas sana," Tuan Fork tertawa, tawa yang mengerikan untuk mereka yang mendengarkannya.
"Sayang..!!" Nathan berteriak ketika sampai ditangga atas, pria itu membuka pintu satu persatu yang ada di lantai dua.
"Ay.."
Brak
Nathan melihat kamar yang kosong, hanya saja terdapat tali tambang yang tergeletak di atas ranjang.
__ADS_1
"Ayana..!" Nathan bergegas masuk dan mengedar kesekeliling tapi tidak ada istrinya.
"Hahahaha, rupanya kau memiliki Istri yang licik tuan Nathan."
"Emmh-emph.." Ami berontak, tapi mulutnya yang dibekap membuatnya tidak bisa berbicara.
"Ayana..!" Nathan membulatkan kedua matanya, kakinya melangkah maju, tapi bibirnya tercekat ketika sebuah pisau berada dileher Istrinya.
"Emph-emph." Ami menggeleng dengan air mata yang sudah mengalir.
Nathan mengepalkan kedua tangannya, menatap mereka dengan bengis. "Cukup kau tanda tangani maka semua akan beres." Ucap tuan Fork yang melemparkan map untuk Nathan tanda tangani.
"Lahan itu tidak mungkin lebih berharga dibanding dengan nyawa istri kecilmu ini."
Ahh
Ami memekik ketika penutup mulutnya ditarik paksa menyebabkan rasa perih dikulitinya.
"By, jangan By.." Ami menggeleng. "Lahan dan bangunan itu lebih penting, jika akupun si jual pasti tidak akan laku sebanyak itu, apalagi aku yang sudah tidak perawan."
Nathan membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Ami. "Iyakan, aku tidak salah." Ami menatap para pria yang matanya tertuju padanya. merasa risih dan juga takut.
"Diam kau."
"Auwss.."
"Berani kau menyakitinya." Nathan geram dan ingin maju, tapi kakinya berhenti ketika melihat Ditya yang sudah berdiri di belakang tuan Fork.
"Turunkan senjata kalian." Ditya mencekal tangan tuan Fork dengan tangan satunya yang mengarahkan senjata api ke bagian pelipis tuan Fork.
Anak buah yang masih memegangi Ami dengan senjata mereka terpaksa menurunkan dan angkat tangan.
"Byy.." Ami berlari memeluk Nathan dan disambut hangat oleh pria itu.
"Sayang, kau baik-baik saja." Nathan memeluk Ami erat.
"Ck, mereka malah asik ayang-ayangan." Kesal Ando yang melihat Nathan dan Ami berpelukan.
Sedangkan dirinya harus adu jotos dengan pengawal tuan Fork dibawah, meskipun dibantu oleh tim Ditya, tapi jumlah kawan lebih banyak, hingga mereka mampu melupakan lawan, dan hanya tinggal tiga orang termasuk bos mereka.
Tuan Fork yang memiliki kesempatan mencoba untuk mengambil senjata api miliknya.
"Eh, ngak ada ya." Bukan orang lain, tapi Ami yang memamerkan senjata yang berhasil dia ambil dari tuan Fork itu, ketika tadi dirinya disandera disampimg pria paruh baya itu.
"Sialan..!" Tuan Fork mengumpat, tidak ada yang bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya. Dan dengan mudah dirinya dibekuk menyerahkan diri.
"Kamu licik sayang." Nathan terkekeh, tidak menyangka istrinya bisa mendapatkan senjata itu dari lawan, yang mungkin saja tadi bisa membahayakan mereka.
"Tidak perlu pujian," Jawab Ami menatap Nathan penuh arti.
Nathan hanya menelan ludahnya kasar, sepertinya Ami memiliki rencana untuknya.
__ADS_1