
Dan Mustafa nampak terkejut melihat pria yang keluar dari mobil membawa buket bunga.
"Jangan-jangan dia." Batin Mustafa dalam hati.
Nathan segera berjalan menuju rumah, disana dia melihat jika bunda Raya sedang ada tamu.
"Assalamualaikum." Salam Nathan dengan senyum.
"Walaikumsalam Nak." Bunda Raya menerima uluran tangan Nathan.
Mustafa yang melihatnya menjadi bingung dan heran.
Nathan juga mengulurkan tangannya pada Mustafa, dan diterima dengan kikuk.
"Ayana ada di dalam, mungkin sedang masak." Ucap Bunda Raya.
Nathan terseyum. "Iya bun, saya permisi." Nathan pun berlalu pergi, dirinya tidak menggubris pria yang sejak tadi menatap dirinya, tujuan Nathan hanya satu istri kecilnya.
"Dia siapa?" Tanya Mustafa yang sudah penasaran.
Jika saingannya, tapi kenapa mencium tangan Raya, dan memanggilnya bunda.
"Dia, suami putriku tadi." Jawab bunda Raya pelan.
Musthafa membulatkan kedua matanya. "Suami, putri mu sudah menikah." Ucapnya terkejut.
"Ya, ceritanya panjang."
Mustafa hanya bisa mengehela napas lega, dia pikir pria tadi adalah saingannya.
"Syukurlah." Gumamnya dalam hati.
Musthafa seorang juragan ikan, beliau memiliki lahan kolam ikan yang luas, dan Mustafa juga sudah menduda lebih dari sepuluh tahun, dan memiliki putra yang usianya tidak jauh dari Ami, karena putranya baru akan masuk ke perguruan tinggi.
Grep
Nathan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, ketika Ami fokus memasak.
"Masak apa hm." Nathan mencium pipi Ami dari samping.
Untung saja Olive sudah keluar sejak melihat Nathan ingin masuk kedapur, karena tidak ingin melihat pemandangan yang bikin sakit mata Olive memilih pergi.
"Malu By, dilihatin Olive." Ucap Ami yang mendorong tubuh Nathan agar menyingkir.
"Tidak ada siapa-siapa." Nathan kembali mengecup pipi Ami.
__ADS_1
Ami pun menoleh kebelakang, dan benar Olive sudah tidak ada dikursinya.
"Pasti dia kabur, karena kamu datang." Ucapnya dengan wajah cemberut.
Ami mematikan api kompornya karena masakannya sudah matang.
"Baunya harum sayang." Entah apa yang dibilang bau harum oleh Nathan, karena bibirnya mencium leher Ami.
"By, malu kalau diliat Mama." Ami mendorong dada Nathan menggunakan tangannya, kini keduanya berhadapan.
"Untuk istriku tersayang." Nathan memeberikan buket bunga dengan senyum tanpanya.
Ami terseyum lebar. "Em, baunya harum." Ami mencium wangi bunga mawar merah itu.
"Hm, sama harumnya." Nathan kembali mencium pipi sang Istri.
"Ish, kamu kenapa sih, aku tu bau masakan tau." Kesal Ami, karena Nathan menciuminya terus-menerus.
"Tapi wangi." Nathan ingin mencium lagi, tapi deheman di belakang membuatnya mundur.
"Pesanan yang kamu order." Ucap Olive sedikit kikuk melihat wajah Nathan yang masam.
Olive datang mengganggu.
"Yaudah di siapin gih, mumpung tamu bunda belum pulang." Ami menaruh bunganya di atas meja.
Cup
Olive hanya menghela napas. "Nasib jomblo." Ucapnya dengan pasrah.
Nathan pergi dan masuk ke kamar Ami, pria itu ingin merebahkan tubuhnya sejenak sambil menunggu Istrinya menyiapkan makanan.
Kamar yang tidak besar, dan tidak terlalu kecil, tempat tidur juga tidak besar. Kamar Ami cukup rapi, bahkan benar-benar rapi.
Nathan mengambil bingkai foto yang dan diatas meja belajar Ami. Foto Ami yang masih kecil dan ketika SMP.
"Cantik sejak kecil." Gumamnya tersenyum, Nathan menaruh kembali dan dirinya merebahkan tubuhnya yang tegap di ranjang yang tak seberapa besar.
Semakin lama, matanya semakin berat dan Nathan terlelap dengan memeluk boneka pisang milik Ami.
.
.
"Zi, kamu harus bantuin kakak." Ucap Maudy pada Zian yang sedang duduk dimeja kerjanya.
__ADS_1
Zian menatap kakaknya nyalang. "Bantu apa lagi, gara-gara kakak hubungan aku dan Ayana berantakan." Kesal Zian menatap Maudy.
"Ck, apa yang kalian lihat dari gadis kecil itu." Maudy menatap adiknya sinis. "Dia tidak pantas untuk kamu dan juga Nathan, jadi kamu harus bantu kakak untuk menjauhkan dia dari Nathan." Ucap Maudy dengan senyum penuh arti.
Zian manatap kakaknya tajam. "Jangan coba-coba untuk mendekatinya kak, sudah cukup kakak buat hubungan aku dan Ayana semakin jauh, dan sekarang lebih baik kakak pergi." Zian mengusir kakanya dengan kesal.
"Kau..!! berani kau membentak ku hanya karena gadis murahan itu."
"Terserah." Zian pun pergi, karena kakanya tidak mau pergi.
Dirinya merasa bodoh sudah menuruti permintaan kakanya yang berakhir hubunganya dengan Ami menjauh.
"Adik, Sialan..!!" Maudy mengumpat kasar ketika Zian lebih memilih gadis itu dari pada dirinya kakanya sendiri.
.
.
"By.." Ami mengelus rambut Nathan yang masih memejamkan matanya.
"Hubby." Ami memanggil lirih tepat di depan bibir Nathan.
Cup
Nathan sedikit memajukan bibirnya dan mendapatkan kecupan dibibir Ami.
Perlahan matanya terbuka dan melihat bibir Istrinya yang cemberut.
"Kenapa manyun begitu." Ucap Nathan dengan suara serak. Nathan menggeser tubuhnya untuk bangun dan duduk.
"Kamu mau pergi keluar kota?" Tanya Ami dengan sendu.
"Loh kok tahu, aku kan belum kasih tahu." Ucap Nathan dengan bingung.
Ami semakin cemberut dengan mata yang terlihat sangat sedih.
"Jangan sedih sayang, aku hanya tidak akan lama, begitu selesai aku akan pulang." Nathan memeluk tubu istrinya dan mencium pucuk kepalanya.
Beginilah yang membuat Nathan terasa berat, dia seperti meninggalkan anaknya sendiri. Padahal Nathan hanya bekerja dan akan pulang jika urusanya sudah selesai.
"Apa aku boleh ikut."
Ami menatap wajah Nathan. "Boleh aku ikut." Tanyanya lagi yang belum mendapat jawaban.
"Tapi kamu harus sekolah sayang," Nathan mengusap wajah Istrinya. " jika kamu libur, kemanapun kamu mau kita akan pergi, tapi tidak untuk sekarang. Karena aku akan sibuk bekerja.
__ADS_1
"Em, makananya sudah siap," Ami berdiri dan meninggalkan Nathan.
"Ya tuhan." Nathan mengusap wajahnya kasar.