My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Sikap yang menurutnya aneh


__ADS_3

Nathan menuruti permintaan Ami, gadis itu memintanya untuk mengantar ke jalan yang tidak pernah Nathan lewati.


Mobilnya berhenti di pinggiran rel kereta sudah tak terpakai, yang banyak sekali rumah-rumah yang sebenarnya sudah tidak layak pakai.


Bukan rumah susun, melainkan rumah yang hanya bisa berdiri yang bisa membuat mereka tidak kepanasan dan kehujanan. Nathan yang melihatnya merasa enggan untuk turun.


"Om bantuin bawa." Keluh Ami menatap Nathan yang hanya diam di dalam mobil padahal dia sudah berdiri di luar dengan dua kantung kresek besar merah.


"Kenapa kita kesini?" Ucap Nathan yang meraih dua kantung keresek yang Ami bawa.


"Buat ini lah, emang apa lagi." Ami melirik kresek yang Nathan bawa dan pergi meninggalkan Nathan yang melirik kantong kresek dikedua tangannya.


Nathan mulai mengerti apa maksud gadis itu, jika sebelumnya dia pikir Ami akan menghabiskan semua makanan ini ternyata dia salah.


"Selamat sore, ibu adek." Ami menyapa beberapa orang yang sedang bermain di luar, di pinggiran rel, ada pula yang duduk tiduran di sofa pinggiran sana.


"Om sini." Ami memanggil Nathan untuk lebih mendekat, gadis itu meraih beberapa bungkus nasi yang sudah dia beli, dan memberikan kepada anak-anak dan orang dewasa yang berada di sana.


Mereka sangat senang dan mengucapkan terima kasih, kedatangan Ami sontak membuat beberapa orang yang mendengar ada bagi-bagi nasi gratis mereka langsung keluar semua.


Ami tertawa melihat anak-anak yang rebutan." Jangan rebutan sayang, pasti kebagian.


Nathan pun hanya diam sambil tersenyum, lalu ikut membagikan ketika Ami mulai kerepotan.


Setelah beberapa menit dua kantung kresek yang mereka bawa habis ludes, semua senang dan banyak mengucapkan terima kasih, Ami malah mendapat ciuman dari ibu-ibu. Sedang-kan dengan Nathan mereka tidak berani, karena tatapan mata Nathan yang membuat mereka menciut. Tapi tidak membuat mereka bersedih karena Nathan mau tersenyum dan menjabat tangan mereka.


Brak

__ADS_1


Nathan menutup pintu mobil, melirik ke samping senyum Ami masih mengembang.


"Kakak lain kali kesini lagi ya." Ucap anak-anak yang mengikuti mereka naik mobil, Ami membuka kaca mobil lebar, begitupun dengan Nathan.


"Do'akan kakak semoga mendapat Rezki yang berlimpah." Ami terseyum dan mengusap salah satu kepala dari anak-anak itu.


Nathan pun mulai menjalankan mobilnya, mereka semua mengikuti dengan berlari sambil melambaikan tangan.


"Dadah, semua." Ami tertawa dan melambaikan kedua tangannya, Nathan pun tersenyum garisnya benar-benar membuatnya semakin tak bisa berpaling.


"Huh, untung semua kebagian." Ami mengehela napas, dengan bersandar di kursi mobil, bibirnya masih sedikit menyunggingkan senyum mengingat antusias orang-orang disana tadi. Mereka hanya mengingatkan Ami untuk selalu bersyukur jika dirinya masih beruntung, karena di luaran sana masih banyak orang yang tak seberuntung dirinya.


"Melamun hm." Nathan mengusap kepala Ami lembut, membuat Ami tersadar dan membenarkan duduknya. Jantungnya tiba-tiba terasa aneh.


"Mau beli makanan apa?" Kamu belum makan sesuatu sejak tadi." Tanya Nathan melirik Ami sekilas lalu pandanganya kurus ke depan.


Ami nampak berpikir dan dia ingat terakhir kali makan dengan Olive di pinggir jalan alun-alun kota. Tapi diingat lagi jika sekarang masih jam lima sore jadi belum buka.


"Nanti malam saja, lagian jam segini belum buka." Ucap Ami menatap Nathan.


Nathan hanya menoleh sekilas dan mengangguk.


Mobil Nathan sampai di basement apartemen, Ami langsung keluar dan berjalan lebih dulu, meninggalkan Nathan yang hanya menghela napas.


"Apa tidak bisa dia itu manis sedikit." Gerutu Nathan, lalu keluar dari mobil dan mengejar langkah Ami yang mulai menjauh.


"Kenapa buru-buru." Nathan merangkul bahu Ami tiba-tiba membuat gadis itu terkejut.

__ADS_1


"Em, tidak apa-apa." Ami berusaha menyingkirkan tangan Nathan tapi malah sengaja tangan Nathan pindah ke pinggangnya.


Ami yang kesal hanya mendelik, sedangkan Nathan tidak peduli dan tetap jalan merangkul pinggang istri kecilnya.


Ting


Pintu lift terbuka keduanya masuk dengan Ami yang berada sedikit didepan Nathan.


Ami menunduk memainkan sepatunya, jika bersama Nathan sepertinya lift berjalan lambat.


Nathan melirik wajah Ami yang menunduk. "Kemarilah." Nathan merangkul bahu Ami, memeluk gadis itu. "Boleh aku bicara?" Tanya Nathan yang melihat Ami hanya diam saja.


"Sejak kapan kamu sering datang kesana?" Tanya Nathan yang di maksud tempat kumuh tadi.


Ami mendongak, ingin melonggarkan pelukannya tapi Nathan tidak memberi kesempatan.


"Sudah lama, semenjak mulai bekerja." Jawab Ami yang pasrah tubuhnya di peluk.


Ting


Pintu lift terbuka Nathan masih memeluknya, membuat Ami kesal. "Om, lepasin." Ucap Ami yang sedikit berontak.


Nathan langsung melepaskannya dan tertawa.


Ami hanya menatap dengan kesal. Bisa-bisanya tertawa tanpa rasa salah.


Ami menekan password pintu apartemen, dirinya masuk lebih dulu dan berlari ke kamarnya untuk menghindari Nathan, kalau-kalau pria itu kembali berbuat yang menurutnya aneh.

__ADS_1


"Huff, kalau begini aku yang tidak mengerti." Gumam Ami yang bersandar di belakang pintu kamarnya. Sikap Nathan hari ini membuatnya susah untuk mengerti, hanya saja dirinya lebih memilih diam.


__ADS_2