My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Like father, like Son


__ADS_3

Mobil yang Nathan kemudikan sampai di parkiran butik IC Boutique. Ami yang melihat loga nama di atas bangunan itu menggangga. Tidak pernah terbayangkan jika dirinya akan mendatangi butik ternama yang ternayata milik Mama mertuanya.


"Sore sayang." Allan lebih dulu masuk dan menghampiri Istrinya yang sedang memberikan arahan pada pegawainya.


"Abang, dimana mereka?"


Ami masih diam mematung di depan toko milik Indira gadis itu seperti tidak percaya atau merasa insecure lebih dulu.


"Kenapa bengong, tidak mau masuk?" Tanya Nathan yang berdiri disamping Ami.


"Bu_bukan, apa aku tidak mimpi di ajak ke butik yang terkenal mewah dan bagus itu." Ucap Ami menatap sekilas Nathan.


"Oh, aku pikir kamu tidak tempat ini." Nathan pun menarik tangan Ami tiba-tiba dan mengajaknya masuk.


Ami yang diperlakukan seperti itu, menatap tangan besar yang menggandengnya, terasa hangat hingga menjalar ke hatinya.


"Sayang, aku kira kamu tidak mau datang." Indira yang melihat menantunya datang langsung menyambut dan mencium kening Ami, Ami juga membalas dengan mencium punggung tangan Indira.


Nathan yang melihat Mamanya antusias menyambut istrinya hanya memutar kedua matanya malas, seakan dirinya tidak terlihat dan disapa.


"Apa hanya menantu Mama yang terlihat, dan aku tidak." Ketus Nathan, membuat Indira dan Ami menoleh. Indira tersenyum sedangkan Ami hanya mencebik.


"Mama sampai lupa kalau ada jagoan Mama." Indira malah menggoda Nathan, karena Nathan tidak suka di panggil jagoan, itu adalah sebutan ketika dirinya masih kecil dulu.

__ADS_1


"Stop Ma, jangan panggil Nathan jagoan." Kesalnya menatap Mamanya kesal.


"Lah, kan memang kamu jagoan Mama, dan Aileen princess Mama." Ucap Indira sambil membawa Ami menuju ke ruangannya untuk mencoba baju yang sudah dia rancang khusus untuk menantunya.


Nathan dan Allan mengikuti perginya dua Wanita yang berbeda generasi itu.


"Sepertinya Mamamu lebih menyukai istrimu dari pada kamu." Ledek Allan pada putranya.


Nathan hanya melirik papanya jengah. "Dan sebentar lagi papa juga bernasib sama." Balas Nathan dengan seringai tipis di bibirnya. Dan Allan menatap Nathan kesal.


"Sayang Mama sudah buatkan gaun ini untuk kamu." Indira menunjukan beberapa gaun untuk Ami, bahkan tidak hanya satu Indira juga mendesainnya hanya untuk Ami, tidak di jual.


"Mah, ini." Ami tidak percaya melihat deretan pakaian dan gaun yang begitu indah, dirinya seperti mimpi bisa melihat dan menyentuhnya.


Nathan dan Allan, hanya duduk di sofa, pria itu hanya melihat bagaimana dua wanitanya sedang mengobrol dan masuk kedalam ruang ganti.


"Papa akan siapakan tiket bulan madu untuk kalian." Allan menatap Nathan yang hanya menghela napas.


Allan tahu jika putranya belum menyentuh Istrinya sama sekali, karena yang Allan lihat mereka malah saling menjaga jarak. Hanya Allan yang menyadari hal itu.


"Lebih baik tiketnya untuk papa dan Mama honeymoon saja." Jawab Nathan santai. Jika tadi dirinya tidak menjawab saat di mobil, itu karena ada Ami.


"Kenapa dua Minggu lagi libur sekolah, dan Papa rasa itu waktu yang tepat, soal pekerjaan ada Ando, dan papa akan membantumu." Bujuk Allan lagi.

__ADS_1


Nathan kembali mengehela napas, dirinya tidak tahu harus bicara apa. Dirinya saja menahan mati-matian untuk tidak menyentuh Ami, karena masih sekolah.


"Kamu tahu, wanita akan merasa dicintai ketika kita memperlakukannya dengan lembut, dan kita harus bisa membuatnya merasa nyaman. Tanpa kita meminta pasti mereka akan jatuh cinta kepada kita sendiri seiringnya waktu. Apalagi wanita seperti Ayana, pasti belum pernah merasakan jatuh cinta kecuali cinta pertamanya yaitu ayahnya." Tutur Allan panjang lebar, dirinya tahu karakter Nathan yang keras dan tegas, apalagi pada wanita yang baru datang di kehidupannya, Sena yang jelas Nathan cintai masih bisa menyakiti perasaan wanita itu lewat kata-katanya yang pedas.


Nathan hanya diam, menyaring ucapan papanya untuk dia pikirkan.


"Sayang lihatlah." Tiba-tiba suara Indira mengintrupsi, membuat kedua pria itu mendongak menatap keduanya.


Ami dengan memakai gaun putih panjang seperti gaun pesta pernikahan, dan gaun itu terlihat sangat pas di tubuhnya. Nathan menatapnya tidak berkedip, bahkan jakun pria itu naik turun.


Ami yang mendapat tatapan Nathan untuk kedua kali, menjadi sedikit tersipu malu. Wajahnya sedikit merona.


"Mama mau minta kalian foto prewedding, menunggu acara resepsi pernikahan kalian masih lama, dan harus menunggu menantu Mama lulus sekolah." Keluh Indira yang sudah tidak sabar melihat Ami memakia gaun yang sudah dia buat.


"Mah, itu dadanya terlalu terbuka, apa tidak ada yang lain." Kesal Nathan yang sudah sadar dari lamunannya.



"Ish, kamu sama saja kayak papamu." Indira melengos.


"Lain kali kalau Mama mau membiarkan dia pakaian, jangan yang terbuka seperti ini." Nathan melirik ke arah dada dan bahu Ami yang terbuka, reflek Ami menutupi dengan kedua tangannya.


"Ck, Pah kenapa sifat posesif mu itu nurun padanya." Indira menatap Allan yang hanya tersenyum.

__ADS_1


"Like father, like Son. Mah." Ucap Allan membuat Indira mencebik.


__ADS_2