My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Pantai


__ADS_3

Tempat pukul satu siang Mario sampai di bandara Soekarno Hatta. Mario langsung memesan taksi untuk menuju kediaman kekasih.


Wajah pria itu terlihat begitu lelah, bahkan lingkaran hitam begitu jelas terlihat dibawah mata pria itu.


Sepanjang perjalanan udara Mario tidak bisa beristirahat, pria itu memikirkan Hawa yang tidak bisa dihubungi.


Pikiranya hanya tertuju pada Hawa, pria itu tidak memikirkan hal lain, bahkan kesehatan dirinya tidak dia hiraukan.


Drt..Drt... Drt...


Ponselnya di dalam saku celana bergetar, Mario yang sedang menyandarkan kepalanya dikursi penumpang kembali duduk tegak.


Tangannya buru-buru merogoh ponselnya di saku, dan ternyata nama Oma nya, bukan Hawa.


"Halo grandma." Sapa Mario dengan suara berat.


"Dasar cucu kurang ajar! kau tidak datang mengunjungi grandma mu ini, apa kau melupakan wanita tua ini." Janny terdengar kesal dan memaki Mario dari seberang sana.


Mario memijat keningnya yang terasa berat. "Maaf grandma, Mario tidak sempat." Jawab Mario sambil kembali menyandarkan kepalanya di kursi.


Jenny masih kesal dan uring-uringan, Mario hanya mendengarkan tanpa mau menjawab, dirinya merasa lelah, tapi tidak bisa beristirahat karena memikirkan Hawa.

__ADS_1


Setelah puas memarahi Mario, Jenny lebih dulu mematikan sambungan teleponnya.


Mario bernapas lega, dan mencoba memejamkan matanya yang terasa berat.


Ting


Ponselnya bunyi tanda ada notif masuk, Mario kembali membuka matanya untuk melihat ponselnya.


Dan seketika matanya terbuka lebar saat melihat notif yang masuk.


"Pak putar balik ke Ancol." Ucap Mario yang lelahnya tiba-tiba menghilang.


Supir itupun menuruti penumpang yang dia bawa, mobilnya berbalik arah untuk menuju Ancol.


"Kalau setiap hari pemandangannya seperti ini, otak ku bakalan encer tau ngak sih." Ucap Sasa yang sedang menikmati pemandangan didepan sana.


"Dih, kamu Mah gitu. lihat kaya gitu udah langsung melek 100watt." Ledek Hawa sambil terkekeh.


Sasa hanya tertawa. "Lagian bosen tau Wa, disekolah yang diliat gitu-gitu aja, mau liat kak Adam, dia saja tidak mau melirikku." Tuturnya.


"Mana mau kak Adam melirik cewek, kiamat kali dunia." Ucap Hawa yang menggosipkan kembarannya.

__ADS_1


Sasa bukan hanya memandang pantai, tapi gadis itu memandang banyak pria yang sedang mengambil foto iklan. Pria yang umurnya sekitar 20 tahunan itu sedang berpose dan di ambil gambarnya. Karena keduanya bukan tipe netizen yang heboh seperti orang-orang disekitarnya, alhasil keduanya menjadi pusat curi pandang oleh beberapa pria yang sedang foto syut itu.


"Lah Wa, kok mereka berjalan kesini." Ucap Sasa yang melihat empat pria berjalan kearah mereka.


Hawa dan Sasa memperbaiki posisi mereka, dan membenarkan kaca mata yang mereka pakai diatas kepala. Mereka memang begitu cantik dan menarik perhatian para pria yang melihat, terutama Hawa yang begitu jelas dengan kecantikannya.


"Hay manis, boleh ikut gabung." Ucap salah satu dari empat pria itu yang sudah berdiri didekat mereka.


Hawa dan sasa saling tatap, mereka tidak pernah dalam posisi seperti ini, didekati pria yang tidak kenal dengan jumlah yang banyak. Mekipun tempat umum dan ramai, mereka masih saja merasa takut.


"Eh, mau ngapain ya Om, kan kita ngak kenal." Ucap Sasa yang memilih menjawab.


"Kalau begitu kita kenalan dulu." Kita satunya lagi, yang sejak tadi melirik Hawa, bukan hanya satu merek melirik Hawa semua.


Hawa yang ditatap seperti itu menjadi risih dan tidak nyaman. Dan saat itu juga tangannya menyentuh ponsel untuk mengaktifkan, hingga langsung terkoneksi dengan Mario yang berada di dalam taksi.


"Nama kamu siapa cantik?" Tanya pria yang sudah duduk di kursi malas mereka, Hawa langsung bergeser duduk dengan Sasa.


"Om mau tau nama kami?" tanya Sasa.


Hawa langsung menarik tangan Sasa yang bicara sembarangan.

__ADS_1


"Iya dong, kalian gadis cantik. Pasti kami ingin tahu nama kalian." Pria itu tersenyum.


Senyum yang membuat Hawa semakin ngeri dan takut. Dan kenapa pula tadi bodyguard papanya dia suruh menunggu diluar, karena Hawa pikir tempatnya akan aman dan nyaman. Tapi kedatangan empat orang tadi membuat Hawa sedikit cemas.


__ADS_2