My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Muka kusut, dicuci londri


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir siswa/i melaksanakan ujian sekolah, dan setelah itu mereka akan ikut merayakannya perpisahan untuk kakak kelas mereka yang di tingkat akhir kelulusan.


Acara sudah disusun demikian oleh dewan guru dan ketua OSIS beserta jajarannya. Acara akan diselenggarakan satu Minggu sesudah meyelesaikan ujian, dan pasti momen yang paling di tunggu untuk semua siswa/i Pertiwi.


Jika Ami dan Olive akan naik kelas dua belas, maka Zian dan teman-temannya akan menghadapi kelulusan.


Semua nampak antusias mengerjakan ujian terakhir mereka hari ini, karena esok mereka sudah bebas belajar dan hanya mengunggu hasilnya, apalagi libur yang lumayan panjang menanti mereka.


Ami dan Olive sudah menyelesaikan soal terakhir, dan bel pulang sudah berbunyi karena waktu mereka untuk mengerjakan sudah habis.


"Baiklah anak-anak, mari kita ucapkan Alhamdulillah." Ucap guru yang mengawasi ujian mereka, dan mereka semua kompak untuk mengucap kata 'Alahamdulillah' "Semoga hasil kalian besok memuaskan."


Setelah itu siswa/i membubarkan diri untuk pulang, ada juga yang hangout untuk sekedar melepas penat setelah satu Minggu belajar dengan keras. Dan hari ini mereka seperti bebas dari tuntutan.


"Ay.." Zian menghampiri Ami dan Olive yang berjalan keluar kelas. Zian berlari kecil untuk menghampiri Ami.


Zian tidak sendiri melainkan ada Vano, dan juga Beno sahabat Zian.


"Kalian mau ke mana? Apa ada acara?" tanya Zian ketika sudah sampai di depan Ami dan Olive.


Olive nampak menatap Ami, gadis itu tidak mau membuat sahabatnya kesal.


"Tidak, ada apa kak?" Ami balik bertanya.


"Kalau begitu kita rayakan bersama, anggap saja setelah satu minggu ini kita bekerja keras untuk belajar dan sekarang waktunya kita bersenang-senang." Ucap Zian, yang langsung menarik tangan Ami untuk mengikutinya ke parkiran motor.


"Eh, kok main tarik aja." Ucap Olive sedikit kesal. Tak lama tangannya juga di tarik oleh Vano.

__ADS_1


"Lelet kamu Ndut, ayo." Vano menarik tangan Olive untuk mengejar Zian dan juga Ami.


"Lah, terus gue narik apa dong." Beno garuk kepala dan segera berlari mengejar teman-temannya.


Sampainya di parkiran Ami dibuat tidak berkutik, gadis itu diam di tempat, meskipun tangan Zian masih menariknya.


"Ay, kenapa?"


Olive juga dibuat mengangga, bagiamana tidak jika di depan sana ada pria tampan yang baru saja turun dari mobil, dan jangan lupakan penampilannya bisa membuat para wanita terkena syok jantung.


Olive sampai mengedipkan matanya berkali-kali untuk melihat pria tampan yang begitu menggugah mata.


"Ay, ayo." Zian kembali menarik tangan Ami, meskipun dia tahu ada pria yang mungkin bisa menghipnotis Ami juga untuk mengagumi pria itu. Karena Zian mengenal pria itu sebagai donatur terbesar di sekolah, dan pria itu begitu banyak di gandrungi para siswi, sebelum dirinya.


Ami berjalan pelan, dirinya menunduk untuk menghindari tatapan Nathan, yang mungkin saja sedang menatapnya dari kaca mata hitam pria itu.


"Kenapa juga kesini sih." Gumam Ami pelan.


"Tidak."


Ehem


Ami menghentikan langkahnya, Zian juga demikian.


"Maaf pak, anda menghalangi jalan kami." Ucap Zian, menatap Nathan tidak suka. Karena baginya Nathan bisa saja menjadi saingannya untuk Ami.


Nathan masih diam, tatapan matanya tajam melihat tangan Ami yang masih di genggam cowok itu.

__ADS_1


Ami yang melihat tatapan Nathan, buru-buru melepaskan tangannya dari Zian. Membuat Zian menoleh.


"Mi, kayaknya kita harus pulang deh, Mama sama Papa nyuruh kita pulang sekarang." Ucap Olive yang tiba-tiba berdiri disamping Ami. Gadis itu tidak bisa berpikir lain selain menyelamatkan diri sebelum ada yang curiga.


"Maaf, kak lain kali saja kita perginya." Setelah mengatakan itu, Ami menarik tangan Olive segera pergi, Ami melirik Nathan sekilas. Dan tersenyum pada Zian untuk meminta maaf.


"Ck, gagal deh ngedate." Ucap Vano, dengan frontal membuat Zian dan Nathan menatapnya tajam.


"Lah, kenapa kalian menatapku begitu." Vano pun pergi, dia tidak merasa takut pada pria dewasa yang digilai oleh para siswi, justru karena Nathan pamor gantengnya disekolahnya turun, dan penggemarnya menjadi sedikit.


Nathan segera pergi, dirinya tidak peduli dengan tatapan Zian yang seperti mengintimidasi nya. Bagi Nathan pria remaja itulah yang akan menjadi penghalangnya.


Fyuhh


Ami mengehela napas lega, bisa keluar dari dua pria yang memang tidak dia inginkan untuk sekedar pergi bersama. Karena Ami ingin pulang kerumah bundanya yang sudah satu Minggu tidak Ia datangi.


"Untung, otak aku bisa encer." Ucap Olive yang juga merasa lega.


"Gak kebayang tadi mau alasan apa."


Mereka berdua duduk di halte yang tidak jauh dari sekolah. Tak lama suara klakson mobil membuat mereka menoleh.


Karena hafal mobil siapa, Ami enggan untuk masuk.


"Mi, kayaknya kalian butuh bicara deh, kasian Om ganteng mukanya kusut gitu." Bisik Olive pada Ami, Olive sempat melihat wajah Nathan yang ditumbuhi bulu-bulu halus, karena itu Olive bilang kusut, karena biasa yang Olive lihat Nathan selalu rapi.


Ami malah tertawa. "Gue cuci si londri ya biar gak kusut." Ucap Ami. Membuat Olive meringis.

__ADS_1


"Masuklah." Ucap Nathan dari dalam mobil, dengan membuka kaca dibagian samping.


Ami menatap Olive sekilas. Mungkin ini saatnya mereka bicara dengan kepala dingin.


__ADS_2