My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Penangkapan2


__ADS_3

Nathan sampai di kantor polisi sudah ditunggu Ando dan pengacaranya pak Wisnu.


"Bagaimana?" Tanya Nathan setelah tiba didepan keduanya.


"Maudy masih saja mengelak meskipun Rian sudah mengakui perbuatannya karena disuruh Maudy." Jawab Ando, Rian adalah pria yang Maudy bayar untuk menaruh racun didalam kotak makanan yang dia pesan lalu dikasihkan kepada Ami.


Nathan berdecak malas. "Lalu cctv itu?" Tanya Nathan lagi.


"Ya, itu senjata terakhir kita, bairkan dia menikamati peran kebohongannya dulu, kita lihat wanita licik itu mau sampai kapan terus menyangkal." Ando terseyum menyeringai, dan Nathan hanya mengaguk.


Mereka masuk kedalam untuk menemui Maudy, dan ternayata didalam sudah ada kedua orang tua Maudy dan adiknya Zian.


Zian menatap Nathan dengan tatapan yang sulit diartikan, dan Nathan tidak memperdulikan anak ingusan seperti Zian.


"Nathan apa yang kamu lakukan dengan putri saya." Ucap tuan Mahendra dengan tatapan tajam.


Nathan hanya tersenyum remeh, "Kenapa anda bertanya pada saya tuan, tanyakan saja apa yang putri anda lakukan dengan istri saya."


Deg


Tuan Mahendra, Nyonya Mayang terkejut mendengar ucapan Nathan. tapi tidak dengan Zian yang memang sudah tahu.

__ADS_1


"M-maksud kamu apa?" Tuan Mahendra yang masih bingung bertanya, begitupun Nyonya Mayang.


"Putri anda ingin meracuni istri saya, tapi nasib baik masih melindungi istri saya dan temannya lah yang menjadi korban kegilaan putri anda." Ucap Nathan dengan penuh penekanan. Dirinya ingin sekali marah dan menghabisi orang yang sudah berniat jahat dengan istrinya. Tapi Nathan masih waras kali ini lawannya adalah seorang wanita.


"Tidak mungkin." Gumam nyonya Mayang.


"Dan anda tidak tahu saja jika putri anda sudah banyak melakukan kejahatan pada istri saya, dan saya masih diam. Tapi untuk sekarang jangan harap putri anda akan lepas dari jerat hukum."


Nyonya Mayang sudah berderai air mata, putrinya tidak mungkin melakukan hal sejahat itu. "Pah, Maudy tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Nyonya Mayang masih terus menyangkal.


Nathan hanya terseyum sinis. "Kalian tidak usah repot-repot untuk membela yang salah, dan apa yang anda lakukan tidak ada gunanya di restoran itu tuan Mahendra." Bukan Nathan, melainkan Ando yang bicara dengan senyum remeh.


Tuan Mahendra hanya diam dengan kedua tangan yang mengepal kuat. "Kau..!!"


"Tidak usah melindungi orang yang bersalah tuan, jika anda tidak ingin terkena juga." Sebuah perkataan yang mampu membuat tuan Mahendra bungkam.


Nathan dan Ando hanya bersikap santai mereka tidak akan membuka keburukan orang jika orang itu tidak ikut campur.


Tak lama Maudy di dampingi dengan seorang polwan untuk menemui mereka.


Maudy menatap Nathan nanar, sedangkan Nathan hanya menunjukkan ekspresi datar dan dingin.

__ADS_1


"Maudy.." Nyonya Mayang memeluk putrinya, dan menangis, Maudy hanya diam tanpa suara.


"Apa yang sudah kamu lakukan nak, kamu merusak karirmu sendiri." Nyonya Mayang menyayangkan perbuatan putrinya. Awalanya tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan putrinya, tapi melihat barang bukti yang sangat jelas jika putrinya adalah tersangka, Nyonya Mayang sudah tidak bisa lagi mengelak jika putrinya tidak melakukannya.


"Nathan.." Maudy menatap Nathan dan berjalan mendekatinya perlahan.


Perlahan air mata Maudy luluh, wanita itu menangis. "Aku melakukan ini semua hanya ingin mendapatkan kamu Nat, aku ingin kita kembali melanjutkan pertunangan kita dan menikah." Maudy menagis, tapi raut wajahnya tidak ada kesedihan, melainkan sebuah kekcewaan dan amarah.


Nathan hanya diam, dirinya terlalu malas untuk mendengarkan drama.


"Nat, apa tidak ada kesempatan lagi." Maudy ingin menyentuh wajah Nathan, tapi pria itu segera menghindar.


"Kamu hanya terjebak dengan perasaan cinta yang kamu miliki Maudy, dan perasaan cintamu itu yang menjadikanmu seperti ini." Nathan berkata tanpa melepas tatapannya pada wanita yang menangis didepanya. "Cintamu sudah menjadi ambisi dan itu bukan lagi dinamakan cinta."


"Kamu wanita cerdas, dan berpendidikan bahkan kamu sudah bersumpah dengan gelar dokter yang kamu junjung, dan aku sebagai teman kecewa dengan apa yang sudah kamu perbuat, sekarang waktunya kamu untuk introspeksi diri dan semoga dengan hukuman ini kamu akan menjadi wanita yang lebih baik." Nathan menepuk pundak Maudy pelan, dan berlalu pergi dari sana dengan perasaan lega.


Selama ini ternyata ada wanita yang begitu cintanya pada dirinya, dan sayangnya hanya cinta bertepuk sebelah tangan.


Maudy kembali menangis. Dirinya yang egois dan ambisi untuk mendapatkan pria yang dia cintai bahkan dengan cara licik Maudy lakukan, bukannya mendapatkan pria itu Maudy malah mendapatkan kehancuran karir dan nama baiknya sebagai seorang dokter.


Cintanya kepada Nathan terlalu besar, hingga hatinya tertutup dengan rasa dendam dan ambisi. Maudy hanya gadis biasa yang ingin mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi karena keegoisannya, dirinya terjebak dalam hukum yang akan menjeratnya, dan hidupnya sudah hancur.

__ADS_1


__ADS_2