My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Ijin pamit


__ADS_3

Mario membawa Hawa ke kantin barat yang lumayan sepi, karena kantin bagian barat biasanya hanya ada para guru yang makan disana.


Keduanya duduk di bangku pojok dan saling bersisihan. Mario menunggu Hawa untuk menyelesaikannya makanan yang dia pesan.


Mario menyerupai kopi hitam yang tadi dia pesan bersama makanan yang Hawa pesan.


Setelah beberapa menit akhirnya Hawa meyelesaikan makanya dan mengusap bibirnya dengan tisu.


"Em, Kenyang deh." Ucap Hawa yang merasa staminanya kembali full setelah tadi terkuras di mapel pertama. Dan setelah ini dirinya akan kembali berjuang untuk ujian selanjutnya.


Mario tersenyum melihat tingkah Hawa. Menurutnya tingkah Hawa begitu menggemaskan mekipun usinya menginjak remaja.


"Eh, iya Hubby datang ke sekolah ada apa?" Tanya Hawa yang kini sudah menatap Mario.


Hawa menatap lamat-lamat wajah Mario yang memang tampan baginya, bukan hanya baginya bahkan semua makhluk wanita mengakuinya.


Mario kini menatap Hawa dengan serius, keduanya duduk menyamping agar bisa berhadapan.


"Satu jam lagi aku akan terbang ke Paris." Ucap Mario menatap wajah Hawa serius. Hawa masih diam tanpa ekspresi. "Perusahaan yang aku dirikan mengalami problem, dan Fabio menyuruhku untuk pulang ke Swiss." Tutur Mario lagi.


"Sekarang." Suara Hawa tercekat.


"Hm." Mario mengaguk. "Aku janji tidak akan lama, dan setelah semua selesai aku pasti akan segera kembali untuk mewujudkan impian ku, yaitu menikah denganmu." Ucap Mario sambil menggenggam tangan Hawa dan membawanya kepangkuan.

__ADS_1


Hawa masih tidak mengeluarkan sepatah kata, gadis itu masih diam mencoba untuk mengerti apa yang Mario katakan saat ini. Ke Swiss secara tiba-tiba membuat Hawa sedikit terkejut. Tapi Hawa juga tidak bisa egois karena Mario memiliki tanggung jawab di negara lain, dan Hawa ingin mengerti keadaan kekasihnya untuk saat ini.


Melihat Hawa yang diam saja, membuat perasaan Mario merasa bersalah. "Jika kamu tidak mengijinkan maka aku akan_"


"Kenapa? apa semua yang aku tidak ijinkan kamu akan menurutinya?" Tanya Hawa memotong ucapan Mario.


Mario hanya diam. Katakanlah dirinya bodoh karena cinta. Tapi memang Mario tidak ingin kehilangan cintanya apalagi membuat Hawa kecewa. Mario tentu saja tidak bisa.


"Tidak masalah aku kehilangan semua, asalkan tidak kehilangan kamu." Tutur Mario membuat bibir Hawa seketika mencebik.


"Gombalan atau rayauan." Ucap Hawa menatap Mario dengan senyum.


"Bukan gombalan atau rayuan, tapi memang kenyataan jika aku tidak bisa_"


Mario teekekeh. "Kamu memang pintar sekarang." Tangannya mencubit hidung Hawa.


"Ihh apaan sih byy.." Hawa menepis tangan Mario dari hidungnya.


"Jadi aku boleh pulang ke Swiss." Tanya Mario lagi.


Hawa tampak berfikir sebentar antara memberi ijin atau tidak. Meskipun dirinya yang menentukan tapi Hawa juga tidak ingin egois, karena Mario juga memiliki tanggung jawab lain selain dirinya.


"Hm, aku menginjinkan. Tapi jika dalam sepuluh hari kamu tidak kembali aku akan menyusul mu kesana." Tutur Hawa.

__ADS_1


Mario tersenyum senang. "Dengan senang hati aku menyambutmu sayang."


Hawa tersenyum begitu juga dengan Mario. keduanya kembali berbincang sebelum jam sekolah kambali masuk, dan pesawat Mario berangkat. Mungkin setelah ini mereka akan LDR-an dan hanya berkomunikasi lewat ponsel.


Dikediaman Julio, Livia baru saja turun dari tangga, wanita hamil itu tampak hati-hati saat menuruni tangga. Setelah Mike dan papanya pergi kekantor, Livia dirumah sendiri bersama art dan Vania ibu mertuanya.


"Livia coba lihat ini." Vania yang duduk disofa memanggil Livia untuk mendekat.


Di tangan Vania ada majalah fashion yang sedang dia pegang.


"Ada apa Mah." Livia duduk disebelah Vania, dan melihat apa yang Vania tunjukkan.


"Lihat bukannya ini bagus, pasti cocok untuk anak muda." Ujar Vania terseyum senang.


"Iya Mah, ini bagus. Apa lagi yang warnanya ini." Livia menunjuk gambar yang warnanya berbeda.


"Kamu benar ini bagus." Ucap Vania, membuat senyum Livia ikut mengembang. "Mama mau membelinya untuk siapa?" Tanya Livia antusias.


Vania terseyum lebar. "Untuk Hawa, dia calon menantuku."


Seketika senyum diwajah Livia berubah menjadi masam. "Oh, iya mah." Jawab Livia pelan.


Dadanya merasa sesak, jadi dirinya belum diterima oleh keluarga Mike sepenuhnya.

__ADS_1


Sungguh melang sekali nasibmu Livia.


__ADS_2