
Satu Minggu berlalu Ami yang merasa resah tak bisa lagi hanya diam dan menunggu, entah mengapa perasaanya semakin gelisah tak menentu, bahkan terkadang dia menangis ketika membayangkan Nathan.
Terkadang dadanya juga merasakan sesak, ketika mengingat Nathan yang sudah tiga Minggu lebih tidak ada kabar sama sekali. Ami bahkan sudah tidak membalas lagi pesan Nathan yang masuk tengah malam, dirinya mengabaikannya.
Bukannya tidak perduli, hanya saja Ami ingin melupakan kekesalan yang disimpan di dadanya tidak bisa, Ia ingin memaki Nathan dan memberi hukuman pada pria itu, tapi dirinya tidak bisa.
Siang ini Ami sudah berpakaian rapi, sejak satu Minggu yang lalu Ami memilih menyendiri, dan tinggal di rumahnya yang sudah dibangun lebih nyaman dan bagus oleh ayahnya yaitu Mustafa.
Dan rumah itu sudah terbebas dari hutang yang pernah meminjamkan mereka uang, dan setalah lunah Mustafa membangun rumah peninggalan suami Raya menjadi rumah yang bagus.
Ami juga tidak menyuruh supir untuk mengantarkannya kemana pun, dia memilih memakai motor pemberian Nathan saat dirinya ngidam dulu, tapi belum menyadarinya.
Allan dan Indira yang sebenarnya keberatan, tapi mereka juga tidak bisa memaksa lantaran cepat atau lambat Ami akan tahu yang sebarnya, dan pasti gadis itu akan terluka.
Ami mengendarai motornya menuju gedung perkantoran yang tinggi, gadis itu sudah tidak asing wajahnya bagi karyawan Adhitama. Bahkan ketika masuk Ami mendapat hormat dan sapaan ramah.
Menuju lift Ami menggunakan lift karyawan, dia tidak menggunakan lift khusus petinggi.
Ting pintu lift terbuka Ami masuk kedalam, tapi saat dirinya berbalik dan menatap kearah lobby. Dia melihat suaminya yang baru mengendong seorang wanita keluar dari mobil, dan wanita itu tersenyum ketika Nathan mendudukkannya dikursi roda.
"Hubby.." Ami menggeleng, segera keluar untuk memastikan. mengucek matanya beberapa kali jika apa yang dia lihat tidak benar.
"Hub_"
Terlambat pintu lift petinggi yang dinaiki Nathan sudah tertutup rapat.
Jantung Ami kian berdetak cepat, dia tidak yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ami segera kembali masuk kedalam lift untuk mengantarnya kelantai sembilan tepatnya di ruangan Nathan.
"Tidak mungkin kan dia_" Ami mengenyahkan pikiran buruk tentang Nathan, gadis itu menyangkal jika Nathan tega mengkhianatinya.
Dengan perasaan tak menentu, entah kenapa jantungnya kembali berdetak cepat ketika pintu lift terbuka di lantai sembilan.
"Nat, miting lima belas menit lagi." Ucap Ando yang baru saja masuk keruangan Nathan.
Ando melirik sinis wanita yang duduk di kursi roda, hingga Sekar menunduk karena ditatap Ando sinis.
"Ya, gue udah baca berkasnya." Nathan duduk di kursi kebesarannya, dia tidak perduli dengan Sekar yang merasa terintimidasi oleh aisistenya.
"Nat, lu ngak ngabarin_"
"Stop Ndo, gue belum bisa." Nathan berucap dengan suara berat, pria itu menahan gejolak dadanya yang sesak ketika mengingat Ami.
"Tapi lu udah di sini beberapa hari, lu tega sama istri lu." Ucap Ando dengan penuh penekanan, tapi arah matanya menatap Sekar tajam yang masih menuduk.
__ADS_1
"Gue akan temui dia, kalau gue udah siap." Nathan mendongak menghalau air mata yang akan meluncur dari pelupuk matanya. Sungguh Nathan tidak ingin ini terjadi dia tidak ingin menikah lagi dengan wanita manapun, meksipun hanya menikah siri.
Nathan menikahi Sekar dengan status siri, dia tidak akan pernah menduakan Ami, apalagi menakdirkannya madu, tapi apa yang sudah terjadi bukan kehendaknya. Uang yang di miliki tidak bisa membuat mereka untuk membatalkan permintaan mereka.
"Sayang, maafkan aku." Nathan bergumam, wajahnya Ia tutup dengan tangan, dia tidak sekuat seperti dulu, dia lemah jika menyangkut wanita yang dia cintai.
Di ambang pintu Ami berdiri diam mematung, dia belum mengerti apa yang terjadi hanya saja, dia mendengar Ando yang menyebut jika Nathan sudah berhari-hari berada di sini.
"Nat, lebih baik lu beri tahu Ami secepatnya, gue takut dia tahu dari orang lain, dan pasti dia akan semakin kecewa, jika lu sudah menikahi wanita lain tanpa dia tahu."
Jederr
Bagai disambar petir di siang bolong, Ami menutup mulutnya dengan kedua mata yang membulat.
Jadi wanita yang Nathan gendong adalah istrinya, Istri keduanya, Ami menggeleng. Tidak, ini tidak mungkin, Nathan tidak akan mengkhianati pernikahannya.
"Stop, Ndo..!! gue nikahin dia karena terpaksa..!" Kedua mata Nathan memerah, di tidak suka mendengar ucapan Ando yang terdengar menyayat hatinya.
Nathan menebalkan kursinya, hingga tubuhnya membelakangi Ando, dia tidak bisa jika sahabatnya itu melihat dirinya yang begitu tersiksa.
Sekar pun mendongak, wanita yang duduk di atas kursi roda itu hanya diam tanpa bisa bersuara.
Nathan membawanya ke kantor setelah tadi mengantar Sekar cake up ke rumah sakit untuk menyembuhkan luka kakinya. Dan karena ada miting penting Nathan tidak sempat mengantar Sekar kerumah sewa, dan Nathan membawa Sekar kekantor.
Tapi kenyataanya sekarang berbeda, Ami sudah mengetahui dan mendengarnya sendiri, bahkan mereka tidak menyadari keberadaannya.
"Terserah lu Nat, hanya saja gue ngak yakin jik dia_" Ando menatap Sekar tajam, dan Sekar langsung menunduk dengan wajah pucat.
Ando tidak lagi melanjutkan ucapnya, dia memilih berbalik dan ingin pergi, tapi matanya membulat ketika melihat Ami yang berdiri dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Ay, s-sejak kapan kamu disitu." Suara Ando tercekat.
Nathan yang mendengar ucapan Ando segera berbalik, jantungnya serasa ingin terlepas, bahkan dia lupa caranya bernapas sampai membuat dadanya sesak.
"Sa_"
Ami berbalik dan pergi dengan luka didadanya. Gadis itu berlari sambil terisak.
"Sayang tunggu..!!" Nathan berlari mengejar Ami, pria itu mengusap pipinya yang sudah basah sejak tadi.
"Sayang jangan berlari, tunggu..!!"
Ami tidak perduli ketika dirinya harus menabrak beberapa orang yang melintas didepanya, dirinya ingin terus berlari dan pergi dari tempat yang sudah membuatnya mendengar kenyataan yang begitu pahit.
__ADS_1
Ami menekan tombol lift dengan cepat. "Ayo dong buka." Dirinya menoleh kebelakang, Nathan semakin mendekat, tangannya mengusap pipinya yang basah, tapi sialnya air matanya tidak mau berhenti.
"Ay, dengarkan aku dulu."
Ting
"Ay,.."
Telat Nathan tidak bisa meraih tangan Ami, karena pintu lift sudah tertutup.
"Ah sial..!!" Nathan menendang pintu lift itu, dia berlari menuju tangga darurat untuk mengejar Ami yang pasti menuju lobby.
"Kamu jahat By, kamu tega." Ami memukul dadanya, yang terasa sesak, bahkan untuk bernapas saja sangat sulit membuat dadanya semakin sakit.
Pintu lift terbuka, Ami segera keluar dan berlari menuju parkiran, tidak perduli dengan orang yang dia tabrak, yang jelas dia ingin cepat pergi dari kantor Nathan.
"Ay, tunggu..!!"
Nathan berlari cepat, ulah keduanya menjadi tontonan karyawan yang berada di lobby, mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan bos dan juga istirnya itu.
"Sayang dengarkan aku dulu." Nathan berhasil menghadang motor Ami yang akan keluar. Pria itu berdiri didepan motor Ami masih menyala.
"Minggir..!!" Teriak Ami menatap Nathan tajam penuh kekecewaan.
"Tidak sebelum kamu mau mendengar penjelasanku sayang." Nathan menggeleng, hatinya semakin berdenyut nyeri melihat tatapan kedua bola mata Ami.
Bremm...bremm
Ami menarik tuas gas di tangan kanannya, dia tidak perduli pada Nathan yang berdiri di depannya.
Brak
Nathan yang tidak mau menghindar Ami tabrak, membuat pria itu jatuh.
"Awss, Ayanaa..!! jangan pergi." Nathan berusaha berdiri, kakinya yang terasa ngilu tapi dirinya tidak perduli.
Berjalan menyeret kaki, Nathan masuk kedalam mobilnya untuk mengejar sang istri.
.
.
Sempet ikut nangis gaess, sampe bayangin adegannya kek mana..ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1