
Sampainya dirumah Hawa sudah melihat kedua orang tuanya yang berdiri di ambang pintu.
"Mama.." Hawa turun dari dalam mobil dan berlari memeluk Mamanya, rasanya tidak bertemu satu hari saja, Hawa menjadi rindu.
"Awa.." Ami membalas pelukan putrinya, dan mencium pucuk kepala Hawa.
"Awa kangen." Ucap Hawa manja.
Ami tersenyum, putrinya yang hampir tujuh belas tahun ini masih suka manja.
"Baru pergi satu malam sudah rindu? lalu bagaimana jika kamu menikah dan dibawa suami kamu?" Ucap Ami menatap wajah Hawa lembut.
"Awa akan minta tinggal di sini, tidak mau pergi." Jawabnya dengan merengek, dan kembali memeluk sang ibu.
Ami menggelengkan kepalanya, melirik Nathan yang berdiri disampingnya.
Tyo menurunkan koper milik Hawa dan membawanya masuk kedalam. Sedangkan Mario ikut turun dan menemui Nathan.
"Eh, Om Mario tidak pulang?" Tanya Hawa yang baru saja ingat, jika Mario menumpang dimobilnya. Tapi bukan itu yang Hawa pikirkan, melainkan bagaimana jika papanya bertanya macam-macam karena ada Mario yang tak lain kakak dari Mike, sedangkan kedua orang tuanya tidak tahu jika dirinya dekat dengan Mario.
"Ikut saya." Ucap Nathan dengan wajah datarnya.
Mario mengagguk dan mengikuti langkah Nathan, tapi mendengar suara Hawa, Mario berhenti.
"Kak mau kemana?" Tanya Hawa dengan wajah cemas. Apalagi wajah papanya seperti marah menatap Mario tadi.
__ADS_1
"Ikut papamu, kenapa?" tanya Mario yang berdiri menghadap Hawa.
Hawa meremat kedua sisi tangannya pada dress yang dia pakai dengan bibir Ia gigit bagian bawah.
Mario yang melihatnya mengerti. "Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah." Mario tersenyum, dan menepuk pucuk kepala Hawa pelan.
Ami yang melihatnya senyum-senyum sendiri.
"Cie...yang khawatir pangerannya di bawa sang raja." Ledek Ami pada putrinya.
Wajah Hawa merona malu, bibirnya menyembunyikan senyum.
"Mama ihhh, sok tahu." Ucap Hawa yang merasa malu.
"Udah ahh, Ayo bantuin Mama masak untuk makan siang." Ami menarik lengan putrinya untuk kedapur, siang ini mereka akan makan bersama, bersama Mario.
.
.
"Ck," Nathan berdecak. "Saya tidak yakin jika Mike saja bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu maka besar kemungkinan kau juga_" Nathan menjeda ucapnya dengan menatap Mario intens.
Mario yang mengerti akan ucapan Nathan pun menghela napas. Apakah dirinya harus jujur? sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat.
"Ikatan darah memang lebih kental dari air, tapi bagaimana kita bisa sama jika ikatan darah itu saja tidak ada." Ucap Mario tenang.
__ADS_1
Nathan menatap Mario tidak mengerti. "Maksudmu kau dan Julio_" Tangan Nathan bergerak memberi jarak ibaray Mario dan Julio.
Kepala Mario mengaguk. "Saya bukan keturunan keluarga Bord." Tegas Mario tanpa rasa takut.
Nathan membulatkan kedua matanya. "Lalu kau_"
"Saya diasuh oleh nenek Jenny, ibu dari papa Julio, beliau mengasuh saya sebelum papa Julio dan mama Vania menikah, dan saat mereka menikah saya diangkat menjadi anak pertama mereka." Tutur Mario secara garis besarnya.
Nathan masih diam belum memberi respon tentang ucapan Mario.
"Oleh karena itu, saya tidak tinggal disini, karena saya memilih menemani nenek Jenny yang tinggal di Swiss. Dan saya kembali ke sini hanya untuk menemui gadis kecil yang berusia enam tahun, yang sudah membuat saya jatuh hati."
Nathan kembali mendengus kesal. "Kau menyukai putriku disaat dia belum bisa membuang ingus." Kesal Nathan yang malah membuat Mario tersenyum tipis.
"Lalu apa kau tahu keluargamu?" Tanya Nathan yang sebenarnya ikut prihatin.
Mario mengaguk. "Marvin Maurer adalah papa saya." Jawab Mario mantap.
"Apa?"
"Oh mau good." Nathan mengusap wajahnya kasar, mana mungkin pria yang duduk didepannya adalah putra satu-satunya dari keluarga Maurer.
.
.
__ADS_1
Yaelah Om, pantas saja kau itu berbeda dengan si Mikey 🤣