My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Gara-gara lolipop


__ADS_3

Direstoran hotel xxx Nathan baru saja keluar dari mobil, pria yang menggunakan kacamata hitam itu merapikan jasnya yang sebenarnya tidak berantakan.


Ando yang sudah berdiri disamping Nathan menatap kesekeliling, pria itu menghela napas lega ketika area parkir nampak sepi. Bukan apa-apa, Ando hanya merasa malu jika banyak orang yang melihatnya membawa alat pengharum yang menyemprotkan bau lemon secara otomatis.


Alat metic itu Ando pegang, karena tidak bisa masuk saku.


Nathan berjalan lebih dulu dengan Ando yang mengikuti dari belakang, apalagi alat pengharum itu akan bekerja mengeluarkan aromanya lima menit sekali membuat Ando tidak bisa jauh dari Nathan, sebenarnya pekerjaan ini mempertaruhkan wajahnya yang tampan, sungguh sangat tidak mencerminkan wajahnya yang cool.


"Selamat datang tuan Nathan apa kabar?" Nathan menjabat tangan pria yang baru saja menyambutnya.


"Baik, dan sepertinya anda juga sangat baik." Nathan terseyum tipis pada pria yang usianya tidak jauh darinya itu, hanya saja lebih muda untuk Nathan.


Pria itu terkekeh, " Ya, anda benar."


Ando ikut berjabat tangan setelah menaruh alat pengharum yang di bawa tadi di sudut meja sebelahnya. "Ando asisten tuan Nathan."


Pria itu menerima dengan baik, begitu juga asisten nya.


Mereka membicarakan proyek baru yang akan di lakukan, dimana Nathan yang akan menggelontorkan dana untuk proyek yang kliennya buat. Perusahaan mereka cukup lama menjalin kerja sama, sebelum pindah kepemimpinan kepada keduanya, kedua orang tua mereka juga masih berteman baik.


Setelah hampir satu jam membahas proyek, dan Nathan menyanggupi proposal yang sudah dia baca dan teliti, yang ternyata cukup menguntungkan baginya, karena proyek ini hanya dirinya yang memegang saham tiga puluh persen, dan dua puluh persen dia bagi ke-empat klien lainya.


"Jika Anda berkenan lusa saya akan mengadakan syukuran atas kelahiran putra saya." Ucap pria yang bernama Hans.


Nathan menatap sebentar dan tersenyum, "Baiklah karena Anda mengundang saya, saya dan istri akan datang."


Hans terseyum senang, kedatangan pemilik Adhitama Grub akan menghadiri acara syukuran dikediamannya sungguh suatu penghormatan.


Ehem


Nathan berdehem pelan, untuk membasahi tenggorokannya. Arah matanya tak lepas dari obyek yang membuatnya tak bisa berpaling. Nathan menelan ludahnya kasar.


Ando masih sibuk dengan berkas yang harus ditandantangani oleh pihak Hans, karena Nathan sudah menyelesaikan lebih dulu berkas dari Hans.


Mata Nathan sejak tadi tidak lepas dari seseorang yang sedang asik makan, Nathan benar menginginkannya.

__ADS_1


"Tuan, anda kenapa?" Hans yang sejak tadi mengajak Nathan bicara tidak me dapatkan respon bahkan pria itu sama sekali tidak terusik dengan obyek yang menurutnya sangat penting.


Ando yang baru menyadari melihat kearah Nathan, dan mengikuti tatapan Nathan yang lurus kedepan.


"Yasalam." Ando menepuk keningnya sendiri. "Eh Nat lu mau kemana, jangan aneh-aneh Nat." Ando yang melihat Nathan berdiri dan menghampiri orang yang duduk menjadi was-was.


"Pak, apa yang terjadi?" Tanya asisten Hans pada Ando.


"Ck, Dia aneh sejak istrinya dinyatakan hamil." Ucap Ando kesal, dan dia membulatkan matanya ketika melihat Nathan merebut permen lollipop yang anak kecil itu pegang.


"Ya, Tuhan Nathan dimana kewarasan mu." Gerutu Ando cepat mendekati Nathan.


Hans hanya geleng kepala, "Dia lebih parah dari Saya Sam." Ucap Hans pada aisistenya.


Pria bernama Sam itu hanya melirik. "Parah anda tuan, bayangkan malam-malam saya harus mengantar anda kestasiun kereta api, hanya untuk mengelusnya saja. cih." Sam berdecih, mengingat bagaimana bosnya yang juga pernah mengalami ngidam yang aneh.


"Huawaa Mama...!!"


Anak kecil itu menagis ketika permen kesukaannya di rebut paksa, karena saat Nathan memintanya baik-baik tidak di kasih, bahkan Nathan sudah memberikan uang untuk ganti, tapi tetap tidak dikasih. Alhasil Nathan merebutnya paksa karena dirinya ingin sekali memakan permen itu. Dan kebetulan anak itu masih duduk sendiri ketika ibunya pergi ketoilet.


"Cup...cup...sayang udah ya nangisnya nanti om beliin yang banyak." Ando masih mencoba menenangkan gadis kecil itu, tapi bukanya diam malah semakin kencang menangis, membuat Ando bingung dan malu karena semua atensi pengunjung melihat kearahnya.


"Duh, dikira gue penculik lagi." Gumamnya yang merasakan sesuatu.


Menoleh kearah Nathan pria itu sudah tidak ada, dan Ando mengumpati Nathan yang sudah duduk di meja yang tadi mereka duduki bersama Hans.


"Eh, kamu ngapain anak saya sampe nangis, kamu penculik ya..!!"


Bugh..


bugh..


bugh..


Dari belakang Ando disembur dengan ibu-ibu yang memukulnya menggunakan tas, dan Ando kesakitan karena tas itu berat.

__ADS_1


"Bu, tolong jangan main tuduh." Ando melindungi wajahnya menggunakan tangan, agar tidak terkena pukulan.


"Alah, bilang aja kamu modus. Pasti kamu pria tampan yang menyamar untuk menculik anak-anak..!!"


Ibu-ibu itu masih terus melancarkan serangannya, hingga Sam, asisten Hans mendekati mereka.


"Maaf nyonya, dia rekan saya, dan_"


"Oh, jadi kamu juga komplotannya, bagus ya..!! sini kalian semua aku pukulin satu-satu."


Bukanya datang membantu, Sam malah ikut menjadi sasaran, dia pria itu saling membela diri, tapi ibu-ibu yang bar-bar lebih mendominasi.


Pengunjung yang berada di restoran hanya tertawa, karena mereka tahu dari awal sebab anak itu menangis.


"Ck, dasar asisten edan, salah sapa ngtain gue ngak waras." Nathan menatap Ando sinis. Ternyata pria itu balas dendam dengan yang Ando katakan tadi.


Hans hanya tertawa, apalagi melihat aisistenya yang jilid suka membatinnya dalam hati ikut diserang, sungguh kedua pria tampan dan gagah itu kalah dengan ibu-ibu.


Ami terseyum senang ketika perutnya sudah terasa kenyang, bahkan sangat kenyang hingga membuatnya malas bangun.


Indira yang melihatnya ikut tersenyum. "Enak kan?" Tanya Indira yang langsung diangguki oleh Ami.


"Enak banget mah, aku sampai ngak bisa bangun." Indira tertawa, Ami memang lucu dan menggemaskan.


"Jangan tidur dulu sayang, kamu habis makan." Ucap indira yang sudah melihat mata menantunya sayu.


"Emm, Ami ngantuk mah." Ami menguap, gadis itu benar-benar tidak bisa menahan kantuk nya lagi.


Indira hanya geleng kepala, dia tahu bagaimana rasanya ibu hamil yang namanya ngidam, dan indira sudah merasakan dari yang teler hingga yang biasa saja, jadi dia tidak mengambil hati perkara Ami yang tidak mendengarnya.


"Ya sudah, pindah gih di sofa, nanti biar Mama hubungin suami kamu." Ucap indira yang menyuruh Ami untuk pindah, karena gadis itu duduk di karpet lantai dengan bertumpu di meja.


"Makasih mah."


Tanpa menunggu lama, ibu hamil muda itu langsung terlelap setelah kepalanya menempel pada bantal sofa.

__ADS_1


"Sepertinya Nathan junior benar-benar menurun." Gumam Indra dengan hati senang, melihat Ami yang terlelap.


__ADS_2