My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Ide meminta maaf


__ADS_3

Ceklek


Ami membuka pintu kamar, matanya mengedar kesudut kamar, tapi tidak melihat suaminya didalam. Langkah kakinya mendekati pintu kamar mandi dan dia tidak mendengar suara air bergemericik.


"Kok nggak ada suaranya?" Pikirnya Natha mungkin sedang mandi, tapi telinganya tidak mendengar jika Nathan ada didalam kamar mandi.


Ami ingin membuka pintu kamar mandi itu, tapi belum sempet tangannya menyentuh handle pintu, tiba-tiba pintu sudah dibuka dari dalam.


"Ya Tuhan..!" Ami memekik dengan meneyentuh dadanya karena terkejut, tiba-tiba pintu terbuka dan Nathan yang berdiri dengan dada bidang yang telanjang seperti biasa hanya menggunakan handuk untuk menutupi asetnya.


Ami terseyum, bibirnya sudah ingin terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi Nathan sudah lebih dulu berjalan melewatinya, dengan tatapan datar.


Dada Ami langsung sesak, melihat Nathan yang benar-benar marah dan mengabaikannya.


"By, Maafkan aku." Ucap Ami lirih dibelakang Nathan yang sedang memakai kemeja, Nathan tidak menjawab masih sibuk dengan pakaian yang dia ke kenakan.


"Maafin aku By, aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Ami yang langsung berdiri didepan Nathan, ketika matanya melihat Nathan yang akan memakaikan dasi. Biasanya Nathan akan meminta tolong padanya, dan mencarinya jika tidak terlihat hanya untuk memakaikan dasi.


Ami memakaikan dasi Nathan, meskipun Nathan hanya diam, tapi sangat berpengaruh untuk kesehatan jantung Ami, yang berdetak hebat, pria tinggi dan tampan didepanya sama sekali tidak meliriknya.


Bahkan kedua tangan Nathan hanya diam, tidak seperti biasanya yang ditaruh dikedua sisi pinggangnya.

__ADS_1


Khawatir dan kesal tentu saja Nathan rasakan, mungkin selama ini dia terlalu memanjakan sang, Istri dan menuruti semua permintaan gadis itu hingga, membuat Ami sedikit egois dan membangkang, itulah yang Nathan pikirkan sekarang.


Ami menepuk kedua dada Nathan pelan bertanda tugasnya sudah selesai, dasi itu terpasang rapi dileher Nathan.


Ami tersenyum dengan manis mencoba membuat untuk tetap tenang agar tidak terlalu gugup.


"Sudah selesai aku berangkat." Nathan mengecup kening Ami sekilas dan berlalu pergi dengan membawa tas kerjanya yang sudah Ia siapakan di atas ranjang.


Nathan pagi ini memang sedang ada pertemuan penting dengan klien, bahkan dirinya tidak sempat untuk sarapan bersama keluarga, karena waktunya tidak keburu.


Hati Ami tiba-tiba mencolos, gadis itu sangat perasa dengan keadaanya yang hamil, Ami yang sedih memilih kembali berbaring di atas ranjang dengan meringkuk dibawah selimut.


Aileen beranjak dari duduknya dan menaiki tangga untuk menuju kamar kakaknya dilantai dua.


Ceklek


Karena tahu hanya ada Ami, Aileen langsung membuka pintu, melihat kedalaman Aileen bisa melihat jika diatas ranjang ada Ami yang sedang berbaring.


"Dek, kamu tidur?" Aileen duduk dipinggir ranjang dibekang tubuh Ami yang memunggunginya.


"Ay, sarapan dulu." Ucap Aileen lagi, tapi tidak mendapat respon.

__ADS_1


Karena kahawatir, Aileen mencoba menyentuh kening Ami, dan suhu tubuhnya normal.


"Tidak panas, mungkin dia tidur." Gumam Aileen hanya bergumam.


Aileen pun keluar dari kamar Nathan dan kembali menutupnya rapat.


Mendengar pintu tertutup Ami membuka kedua matanya, dan mengehela napas dalam.


Dirinya ingin meminta maaf, tapi butuh cara agar Nathan luluh dan bisa memaafkannya. Sejak tadi Ami terus memikirkan kejadian tadi pagi, Ami lama berpikir hingga merasa, dirinyalah yang salah dan egois, hanya mementingkan kemauannya saja, tanpa memikirkan bayi yang dia kandung sangat dinantikan oleh suaminya dan juga keluarganya.


"Em, apa aku harus kekantor dan membawa makanan siang?" Ucap Ami yang terlintas ide untuk bisa mendapatkan maaf dari Nathan.


"Ya, sepertinya ide bagus. Masak kesukaanya." Ami terseyum lebar ketika menemukan ide.


.


.


Jangan lupa RATE_nya yaa cinta🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2