My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Selesai


__ADS_3

Nathan memeluk bahu Istrinya yang sejak tadi sudah terlelap. Keduanya berada di dalam burung besi yang akan membawa mereka melihat kebenaran yang akan membawa hubungan mereka membaik.


Nathan sengaja tidak menggunakan jet pribadi miliknya, dia ingin perjalanan ini seperti layaknya orang-orang. Romantis, duduk berdua bersama beberapa penumpang yang lain di kelas bisnis yang nyaman.


Sejak tadi malam hubungan keduanya sudah sedikit membaik terutama Ami yang sudah mau bicara, meskipun masih irit, Nathan sudah bersyukur.


"Engh.."Ami menggeliat ketika jemari Nathan mengelus wajahnya lembut.


"Bangun sayang, kita sudah sampai." Bisik Nathan ditelinga Ami.


Gadis itu perlahan membuka matanya, dan bergeser untuk menegakkannya duduknya.


Nathan dan Ami keluar bandara di sambut oleh Ando dan juga Niko, Entah bagaimana pria itu bisa satu mobil berdua tanpa ada aksi mencaci maki, yang jelas mereka menjemput bos dan adik tirinya.


"Kak," Ami terseyum dan berlari kecil ingin memeluk Niko tapi sebelum sampai memeluk tubuh kakaknya, Ami lebih dulu menabrak punggung lebar Nathan.


Jadi bayangin Nathan lari dahului Ami sebelum peluk Niko..🤣


Nathan melotot menatap Niko, sedangkan Niko hanya mencebik.


Bugh


"Kamu ngapain sih By." Kesal Ami memukul punggung Nathan, hidungnya sedikit sakit menabrak punggung kokoh suaminya. "Sakit tau.." Ami mengusap hidungnya dengan wajah kesal.


Nathan berbalik. "Maaf sayang, tapi tidak ada acara peluk-peluk." Jemarinya mengusap hidung istrinya yang memerah. "Sakit?" Tanya Nathan yang hanya mendapat tepisan tangan dari Ami.


Ando dan Niko tertawa. "Berani kalian ngetawain gue." Nathan menatap tajam kedua pria yang masih tertawa.


"Berani," Ucap Niko dan Ando bersamaan.


Nathan semakin kesal, dan berlalu masuk mobil lebih dulu agar emosinya tidak meledak dan membuat kekacauan ditempat umum.


"Kamu juara Ay, bikin gunung es galau." Ucap Ando yang berjalan lebih dulu menyusul Nathan.


"Bagaimana, apa tuan putri sudah siap?" ucap Niko meledek adiknya.


"Tentu saja, siapa sih mereka yang berani ambil Mas Bojo dari gue." Ami berjalan dengan wajah songong, gadis itu ingin melihat pelaku yang berani mengusik rumah tangganya. Siapa yang mau melawannya pasti akan dia buat ka'o.


Niko geleng kepala, adik ketemu gedenya itu benar-benar memiliki sifat bar-bar.


Ami masuk ke mobil, dia duduk disamping Nathan dengan tenang, tidak sedikitpun melirik suaminya yang memperhatikannya.


"Kalian lama sekali." Kesal Nathan lagi. Entah mengapa mereka menjadi berani padanya, apalagi sampai menertawainya, sungguh Nathan dibuat kesal. Dirinya seperti tidak dihargai, entah hanya perasaanya, apa memang sekarang Nathan menjadi perasa.


Ami mencebik, mobil berjalan dengan Ando yang mengendarai.


"Kita kemana kak?" Tanya Ami pada Ando.


"Langsung ke TKP, biar ada yang tidak galau lagi." Ledek Ando melirik Nathan dari kaca spion, sedangkan Nathan hanya diam. Kepalanya Ia sandarkan dibahu istrinya, tangannya memeluk perut Ami. Jika biasanya si wanita yang manja, kini si pria yang menjadi manja.

__ADS_1


Ami mengangguk setuju.


Setelah lebih dari tiga puluh menit berkendara, mobil mereka sampai di kantor polisi kota.


Semua keluar satu persatu, dan Nathan menggenggam tangan Ami, tidak melepaskannya.


"Pah." Nathan melihat papanya yang duduk di kursi tunggu, tidak hanya sendiri, ada beberapa orang dan diantara pria yang dia kenal.


"Ditya." Nathan sempat terkejut dengan adanya Ditya disana.


"Hay, senang berjumpa dengan mu lagi." Ditya terseyum.


Nathan ikut tersenyum. "Pah kenapa papa sampai disini, dan tidak bilang." Ucap Nathan pada papanya.


Allan hanya menghela napas. "Duduk dulu, kalian pasti capek." Ucap Allan menyuruh mereka semua duduk.


Ditya mulai memberi penjelasan kronologi bagaimana pabrik itu bisa terbakar, dan kejadian Sekar yang terkunci, secara detail Ditya menjelaskan.


"Lihatlah." Ditya membuka laptop miliknya, dan menunjukan bukti cctv pada Nathan.


Nathan yang melihat mengepalkan tangannya kuat, pria yang dia percaya bisa menikam dan menusuknya dari belakang.


"Pak Bayu." ucapnya dengan menahan amarah.


"Selain itu, mereka juga merencanakan ini." Ditya kembali memutar rekaman yang lain.


Nathan mengusap wajahnya kasar, ternyata dirinya dipermainkan dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


"Papa bicara apa, aku tidak akan mencatat pernikahanku ke pengadilan." Potong Nathan menatap papanya tidak suka.


"Ck, kau itu bodoh atau apa sih." Kesal Ando yang berdiri disamping Nathan duduk.


Mendengar ucapan Ando membuat Nathan menatapnya tajam.


"Lu talak dia dodol." Ando mendelik balik menatap Nathan. Mumpung ada kesempatan untuk membuat Nathan kesal, jika nanti sudah membaik dirinya tidak akan berani.


"Ya, maksud papa itu." Tambah Allan menatap putranya terkekeh.


"Kalian antarkan dia kehotel, sepertinya Nathan sudah merindukan Istri keduanya." Allan juga ikut meledek Nathan, sedangkan yang diledek mendengus kesal.


"Papa akan menyusul.," Nathan menepuk pundak putranya.."Semua sudah diurus polisi,. mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal."


Nathan mengaguk, dia menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya pergi.


Ando dan Niko mengantar keduanya, sedangkan Allan dan orang-orangnya masih harus menyelesaikan sedikit urusanya.


Di dalam mobil tidak ada yang berbicara, mereka semua diam dengan pikiran masing-masing, Ami yang menatap pemandangan dari jendela, sedangkan Nathan seperti sebelumnya, menempel pada sang istri.


Tak lama menunggu mobil mereka sampai di halaman hotel yang menampung Sekar dan kedua orang tuanya, dengan dijaga oleh orang-orang Allan.

__ADS_1


"Lu siap belum Nat, pasti lu belum nyicip kan." Ando menatap Nathan jahil, untuk menggoda Nathan.


Bugh


"Auwss, lu main kasar Nat." Ando meringis memegangi kakinya yang di tendang Nathan sengaja.


Niko yang dibelakang mereka tertawa, sedangkan Ami menahan tawa.


"Jangan main-main sama singa kalap kak." Ami cekikikan, membuat Nathan menoleh dengan tatapan kesal.


Wlee


Ami menjulurkan lidahnya, membuat Nathan kesal sekaligus gemas.


"Aaaa By, lepas."


Nathan memiting leher Ami dengan lenganya, tidak sakit tapi bisa membuat Ami susah berjalan.


"Tuan." Dua pengawal Allan menunduk hormat.


"Mereka ada di dalam tuan." Ucap mereka lagi.


Nathan mengaguk dan masuk ketika pintu hotel itu di buka.


Mendengar pintu di buka, ketiga orang didalam sana menoleh, mereka terkejut dan ketakutan, meskipun hal ini akan terjadi.


"T-tuan." Ayah Sekar ketakutan, bahkan tumbuhnya sudah bergetar, melihat tatapan tajam dari pria yang satu Minggu lalu menikahi putrinya.


"Tuan maafkan kami." Sekar menunduk takut, dengan air mata yang mengalir, dia merasa tertikam melihat tatapan Nathan yang begitu tajam dan dingin.


"Eh, kok ngak minta maaf sama aku juga." Ami maju dua langkah, lebih depan dari suaminya.


Sekar mendongak, menatap gadis muda dan cantik didepanya.


Ami yang ditatap mencebik. "Gue Istrinya, itu berarti madu Lo."


"Sayang." Nathan menatap Ami tidak percaya, apa katanya madu?


"Lah, emang iya kan, sebelum kamu talak dia itu berarti kamu masih punya Istri dua." Icao Ami dengan santai.


Ando dan Niko, sudah seperti orang nahan kentut, karena tidak sanggup menahan tawa melihat wajah Nathan.


"Cukup Ay." Nathan menatap tajam Ami, membuat Ami memalingkan wajah.


"Sekarang didepan kedua orang tuamu, didepan saksi, Aku Aldrick Nathan Adhitama..!! menalak tiga kamu Sekar Sarawati dan aku mengharamkanmu atas diriku..!!!"


.


.

__ADS_1


Alhamdulillah 🤲


__ADS_2