My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Tidak aku ijinkan siapapun menyentuh mu


__ADS_3

"Mario kamu sudah bertemu dengan tunagan Mike?" Tanya Vania yang melihat Mario masuk kedapur.


Vania sedang memasak makanan untuk Hawa calon menantunya, dan Mario mengambil minuman dingin dilemari pendingin.


"Sudah." Jawab Mario singkat.


Mario duduk di kursi meja makan, dengan tangan menggenggam minuman kaleng dingin.


"Bagaimana dia cantik kan?" Tanya Vania dengan wajah berbinar.


Mario tahu jika Mamanya sangat menyukai Hawa dan bahkan lebih dari suka. Karena yang Mario lihat Mamanya begitu bersemangat untuk menjodohkan Mike dan Hawa.


"Hm, cantik." Jawab Mario malas. Meskipun dalam hatinya begitu kesal melihat Mamanya mendukung hubungan Mike dan Hawa.


"Mama udah ngak sabar pengen melihat mereka menikah dan memberikan Mama cucu."


Uhuk..uhuk..


Mario yang sedang menenggak minuman tiba-tiba tersedak mendengar ucapan Mamanya.


"Ya ampun kenapa kamu tidak pelan-pelan sih." Ucap Vania sambil menghampiri putranya yang masih terbatuk-batuk.


Uhukk Uhukk


Tenggorokan dan hidung Mario terasa sakit, minuman soda yang dia minum mampu membuatnya merasakan sakit karena tersedak.


"Minum air dulu." Vania menepuk punggung Mario sambil memberikan segelas air putih, Mario pun langsung menerima dan menenggaknya hingga habis.


"Cukup mah." Ucap Mario pada Vania yang masih mengusap punggungnya.


Mario menarik napas banyak-banyak untuk meredakan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Sudah lebih baik?" Tanya Vania dengan wajah khawatir.


Mario mengaguk, "lagian kenapa bisa tersedak sih, cuma minum doang." Ucap Vania yang tidak habis pikir.


Vania tidak tahu saja jika perkataanya mampu membuat seorang Mario terkejut sekaligus kesal.


"Tidak apa mah, Mario kekamar dulu." Mario pun beranjak dari kursi meja makan, dirinya memilih pergi dari dapur.


"Kak ini juga." Tanya Hawa yang masih berdiri di depan lemari pakaian Mike.


Mike yang duduk di pinggiran ranjang dan asik berbalas pesan pun tidak mendengar ucapan Hawa.


Hawa menoleh kebelakang ketika dirinya tidak mendapat jawaban, gadis itu mengehela napas saat melihat Mike asik berbalas chat sampai senyum-senyum sendiri.


Karena kesal Hawa memilih pergi dari kamar Mike.


"Suruh bantuin, tapi malah sibuk sana ponselnya." Gerutu Hawa dengan sebal, gadis itu tolah toleh kekanan dan kiri.


Bibirnya melengkungkan senyum, saat melihat pemandangan kolam dan taman rumah Mike dari atas, dari kaca besar yang menghubungkan pemandangan area belakang.


"Kenapa berdiri disini hem."


Hawa tersentak kaget saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang, dan Hawa terpaku mendengar suara Mario disamping telinganya.


Ya, Mario yang hendak menuju kamarnya tidak sengaja melihat Hawa berdiri, didepan kaca besar bagian ujung.


"Om.." Tenggorokan Hawa tercekat saat Mario mengeratkan rengkuhan tanganya di perut Hawa, wajah Mario berada diceruk leher Hawa, membuat tubuh Hawa meremang merasakan hembusan napas hangat Mario.


Mario menghirup dalam wangi tubuh Hawa yang membuatnya nyaman, bibirnya mengecup kecil leher jenjang Hawa yang putih mulus. Rambut Hawa yang diikat berbentuk Bun membuat Mario leluasa bergerak dileher Hawa.


"Kemarilah." Mario menarik tangan Hawa dan membawanya pergi dari sana.

__ADS_1


Brak


Mario menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


"Om kenapa di Emph." Hawa tak bisa lagi melanjutkan ucapanya, saat Mario lebih dulu membungkam bibir nya dengan ciuman.


Ciuman lembut Mario membuat tubuh Hawa menegang, hingga cengkraman kuat dikemeja Mario perlahan melonggar saat Hawa sudah terbuai dengan permainan lidah Mario hingga Hawa membuat kedua bibirnya untuk mempermudah Mario menjajahi mulutnya.


"Engh.." Hawa meleguh saat Mario melesakkan lidahnya mengekplor bagian dalam mulutnya, mengabsen setiap inci yang membuat Mario semakin bersemangat.


"Hah.." napas keduanya sama-sama memburu, yang lebih parah adalah Hawa yang pemula, gadis itu meraup oksigen sebanyak-banyaknya saat Mario melepaskan ciumannya.


Dada Mario memburu, meskipun masih bisa bernapas normal tapi Mario sudah terpancing hasratnya oleh kegiatan yang baru saja mereka lakukan.


Mario menyentuh pipi Hawa, dan menyatukan keningnya dengan Hawa, napas Hawa masih tersengal-sengal membuat Mario tersenyum.


"Sudah lebih baik." Ucap Mario pelan, ibu jarinya mengusap bibir bawah Hawa yang basah akibat kegiatanya tadi.


Hawa tidak menjawab, dirinya masih syok dengan apa yang baru saja terjadi, pertama kali dirinya berciuman bahkan saling membalas ciuman yang Mario lalukan, Hawa merasa jantungnya seperti ingin lepas.


"Hawa berjanjilah." Mario menatap wajah Hawa yang masih menunduk, Hawa merasa malu.


Mario menangkup kedua wajah Hawa, agar gadis itu menatapnya.


"Berjanjilah hanya aku yang bisa melakukan ini."


Cup


Mario kembali mengecup bibir Hawa yang sudah bengkak, dan melumattnya lembut dalam durasi sebentar.


"Tidak aku ijinkan siapapun menyentuh ini, bahkan Mike sekalipun." Mario menatap manik cokelat Hawa dalam. "Jangan takut, aku akan selalu bersamamu, dimanapun kamu."

__ADS_1


Dan Mario kembali mendekatkan wajahnya pada Hawa, keduanya mengulangi adegan yang baru beberapa menit tadi selesai, dan kini keduanya sudah larut seperti larutan yang mengandung banyak manfaat, terutama memancing kewarasan keduanya yang semakin menipis. 🤣


__ADS_2