My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kembali merajut


__ADS_3

Ceklek


Nathan keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk berwarna pink dipingganya, entah kemana handuk-handuk yang biasa berwarna putih kini menjadi berwarna pink.


"By.."Ami ingin tertawa, tapi melihat wajah Nathan yang biasa saja membuat Ami tidak jadi tertawa.


Padahal niatnya ingin membuat suaminya itu kesal dan mengomel dengan warna handuk yang dia ganti semua dengan warna pink.


"Sudah bangun." Nathan mendekati Ami yang masih duduk di atas ranjang dan mencium pipinya.


Ami menunggu suaminya mengomel karena dirinya menyimpang barang berwarna pink yang begitu feminim, tapi suaminya itu tidak kunjung protes.


"Kenapa negeliatin aku kayak gitu." Tanya Nathan yang merasa tatapan istrinya yang aneh.


"Tidak." Ami menggeleng.


"Katakan.." Suara rendah Nathan membuat Ami menelan ludah, suara yang begitu terdengar seksih di telinganya.


"A-apa?" Ami pun beringsut memundurkan wajahnya ketika kedua tangan Nathan menguncinya.


Bibir Nathan terseyum tipis menatap wajah gugup Istrinya.


Dengan cepat Nathan menarik tengkuk Ami dan melumatt bibir tipis yang selalu membuatnya candu tanpa ada rasa bosan.


Decapan Nathan begitu mendominasi, apalagi aksinya disambut dengan Ami yang membuka mulutnya membuat Nathan leluasa mengeksplore setiap inci rongga mulutnya.


"Engh.." Ami meleguh ketika keduanya semakin gencar untuk saling membelit dan mencecap bibir masing-masing hingga bertukar saliva adalah hal yang biasa dan semakin membuat keduanya bersemangat.


"Ahh." Ami menghirup udara banyak-banyak ketika tautan bibir keduanya terlepas, hingga dadanya kembang kempis dengan napas yang memburu.


"Kamu semakin pintar sayang." Ucap Nathan dengan napas yang sama memburu, dia akui jika ciuman istrinya semakin membuatnya kian bergairah.


"Emph..by.." Ami mendesis lirih ketika tangan besar menyentuh dia buah benda kelembutan yang masih terbungkus rapi, bahkan kemeja sekolah Ami belum terlepas.


"Apa disini sudah boleh." Ucap Nathan dengan tangan yang menyentuh inti tubuh Ami dari balik kain yang membungkusnya.


"Shh, by." Karena sudah terpancing dengan ciuman panas mereka tadi, Ami sudah begitu terangsang dan merasakan miliknya yang menginginkan hal lebih.


"Hm," Nathan bergumam tatapan matanya tak lepas dari wajah Ami yang terlihat sayu, Nathan tahu jika istrinya menginginkan hal lebih, dan begitupun singkong premium miliknya yang sudah berdiri tegak bukan meminta keadilan, namun minta dipuaskan.

__ADS_1


Ami membalas tatapan suaminya dengan tatapan seperti memohon, dirinya benar-benar menginginkan suaminya.


Bugh


Karena kesal dipermainkan Ami mendorong tubuh suaminya sampai terlentang di atas ranjang, dan dirinya langsung duduk di bawah perut Nathan.


"Engh." Leguhan kecil Ami membuat Nathan terseyum, karena istri kecilnya pasti merasakan miliknya yang sudah mengeras tapi bukan es batu.


Tanpa kata Ami menyerang Nathan dengan ciuman, Nathan sengaja memeberikan rangsangan dan ingin melihat istrinya yang bekerja keras untuk memuaskannya.


"Ah, sayang." Nathan mengeluarkan geramannya ketika Ami menekan pinggulnya membuat miliknya terasa ngilu.


"Sayang aku sudah tidak tahan." Tangan Nathan segera melepas kancing baju Ami satu persatu, hingga terlihat gundukan lembut dibalik kain penutup berwarna hitam.


"Ugh." Ami mendongak ketika tangan Nathan meremas pelan kelembutannya namun penuh hasrat.


Tak


Tangan Nathan berhasil melepas pengait penutup dada Ami dan dengan cepat Nathan melahap pucuk kecil yang sudah menegang dan terasa hangat.


"Ahh, By."


Ami bergerak gelisah hingga Nathan mengerang dengan bibir yang masih memanjakan biji kecil yang begitu nikmat.


Nathan membanting Ami dibawah tumbuhnya, dan menarik pinggang Ami agar menungging.


"Engh By." Nathan melepas kain penutup terkahir istrinya, tidak melepas kemeja Ami dan rok abu-abu gadis itu, Nathan sengaja melakukannya.


"Ugh." Keduanya meleguh bersama ketikan penyatuan yang lumayan lama tidak mereka lakukan, dan kini seperti saat pertama mereka melakukannya begitu legit.


"By, lebih cepat." Nathan yang mendengar suara istrinya semakin bersemangat untuk menggerakkan pinggulnya, Nathan sudah seperti sugar Daddy yang sedang bercinta dengan sugar babynya. Bagaimana tidak jika masih mengenakan seragam sekolah dengan rok yang menyingkap, dan bajunya yang masih terpakai namun tidak dengan kancing bajunya.


"Arrgh."


Suara keduanya menggema di kamar yang kedap suara, Nathan menahan perut istirnya agar masih diposisi yang sama.


Napas keduanya memburu, ini kali pertama mereka kembali melakukan olahraga yang menguras keringat dan juga merasakan terbang melayang.


"Engh, By." Ami meringis, ketika merasakan miliknya yang sempat kosong kini kembali penuh, ternayata Nathan kembali turn on.

__ADS_1


"Aku masih ingin sanyang." Bisik Nathan ditelinga Ami.


Mereka kembali melakukan olahraga ranjang yang membuat ketagihan, meskipun lelah dan lemas tapi mereka merasa puas setelah melebarkan benih cinta yang mereka miliki.


Nathan tidak perlu takut jika istirnya akan segera hamil, karena waktu dirumah sakit Nathan menyuruh dokter untuk memasang alat kontrasepsi pada istirnya, dan Ami sendiri belum tahu hal itu.


"Ahh, By."


.


.


.


"Bagaimana Nik, apa kamu sudah menemui calon adik kamu." Tanya Mustafa pada putranya saat dimeja makan, keduanya sarapan berdua karena memang hanya tinggal berdua dengan beberapa aisten rumah tangga disana.


"Sudah, dan sepetinya, Niko menyukai anak tiri papa." Ucap Niko santai sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"What? kamu bicara apa?" Tanya Mustafa terkejut sekaligus syok.


"Niko menyukai anak tiri papa." Jawab Niko lagi dengan jelas.


"Kami_"


"Karena dia memang pantas untuk jadi adik Niko, So, papa boleh menikah dengan bunda secepatnya." Potong Niko sebelum papanya terkena serangan jantung karena ucapanya.


"Kau, benar-benar Nik, bikin papa spot jantung." Kesal Mustafa merasa lega.


Karena dia pikir putranya menyukai anak dari wanita yang akan dia menikahi seperti ucapan Niko tadi. Tapi ternyata putranya itu mempermainkannya.


Siapa yang tidak akan tertarik dengan putri dari wanita yang dia cintai itu, karena memang wajah Ami yang rupawan dan cantik.


"Papa akan melamar Raya lusa, dan kamu bantu papa untuk menyiapkannya." Ucap Mustafa pada putranya.


"Oke, apa Niko juga menyiapkan ikan kolam papa untuk melamar." Niko menaik turunkan alisnya dengan senyum meledek.


"Dasar anak kurang ajar."


Niko tertawa, karena bisa menggoda sang papa, dan Niko berharap jika kali ini pernikahan papanya bahagia, meskipun Mamanya sudah lama meninggal tapi Niko yakin jika mamanya masih memiliki tempat dihati papanya.

__ADS_1


Musthafa pun ikut tertawa, dirinya juga tidak menyangka jika kembali merasakan jatuh cinta lagi, apalagi putranya dengan tangan terbuka menerima Raya sebagai ibu sambungnya, karena Mustafa awalnya tidak yakin jika Niko bisa menerima. Tapi ternayata dia salah.


"Maaf sayang, kamu akan tetap selalu menjadi bagian dalam hati aku." Batin Mustafa teringat akan mendiang istrinya.


__ADS_2