
Kepergian Mario ke Swiss membuat Hawa mau tidak mau hanya bisa mendoakan, semoga urusan Om gantengnya itu cepat selesai.
Kini Hawa hanya bisa memeluk pria dewasa itu dengan perasaan yang galau.
"Sudah jangan bersedih, doakan saja agar urusanku cepat selesai dan segera kembali." Mario mengusap punggung wanitanya agar tidak bersedih lagi.
Keduanya sedang berada di bandara, lebih tepatnya Hawa mengantar kepergian Mario. Setelah pulang sekolah Mario sengaja menjemput kekasihnya untuk menghabiskan waktu bersama sebelum dirinya pergi. Dan kini keduanya berada di bandara untuk melepas kepergian Mario.
"Janji tidak akan lama." Ucap Hawa dengan suara manja.
"Iya sayang, aku janji." Mario tersenyum dan menangkup wajah Hawa, menatap lekat wajah cantik dengan bola mata coklat yang dia sukai.
"Kenapa kamu seperti permen karet, selalu menempel." Ucap Mario sambil terkekeh. Tangannya mengusap lembut wajah Hawa yang tingginya hanya sebatas dadanya.
Hawa mengerucutkan bibirnya. "Tapi Om suka kan aku tempelin."
Mario tertawa, melihat tawa Mario membuat Hawa semakin terpesona, ketampanan Mario bertambah jika pria itu tertawa.
"Suka sayang, kamu tidak menempel saja aku mencarimu." Jawaban Mario membuat Hawa tersenyum.
Seperti inikah rasanya jatuh cinta, kenapa perasaannya berbunga-bunga tak terkira. Ini adalah cinta pertama Hawa.
"Hati-hati Om." Ucap Hawa saat panggilan nomor dan tujuan pesawat yang akan ditumpangi Mario akan segera berangkat.
"Iya sayang, ingat jaga diri baik-baik." Mario tersenyum, dan menepuk kepala Hawa lembut.
"Hu'um, pasti." Hawa mengagguk dengan senyum.
"Jaga hati dan perasaan, ingat ada pria yang sedang berjuang untuk kamu."
Hawa tertawa. "Terima kasih sudah mau berjuang demi aku."
__ADS_1
Sekali lagi Mario memeluk tubuh mungil Hawa, menghirup aroma yang selalu membuatnya tenang, mungkin beberapa hari kedepan dirinya akan sangat merindukan gadisnya.
"Udah Om nanti ketinggalan pesawat." Ucap Hawa yang melonggarkan pelukannya.
"Jangan lupa ya, salam untuk grandma disana."
Mario mengaguk dan mencium kening Hawa. "Pasti sayang."
Genggaman tangan keduanya terlepas, seiring Mario yang berjalan semakin menjauh, Hawa melambaikan tangan dengan senyum melepas kepergian Mario yang sedang berjuang untuknya.
Mario berjalan dengan beberapa kali menoleh kebelakang melambaikan tangan tanda perpisahan, sejujurnya tidak rela tapi mau bagaimana lagi semua untuk mendapatkan wanitanya, Mario tidak ingin lama-lama untuk menyunting wanitanya.
Hawa kembali masuk kedalam mobil yang menunggunya.
"Non tidak sedih?" Tanya pak Husein supir keluarga Adhitama.
"Kenapa sedih pak?" Tanya Hawa yang bingung.
Husein kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah, dari sekolah Husein hanya mengikuti kemana majikannya dibawa.
"Tidak lah pak, Om Mario pergi juga demi Hawa." Jawab Hawa dengan tersipu.
Dirinya tidak menyangka bisa bertemu dengan pria yang memperlakukannya dengan luar biasa, bahkan Mario dengan papanya tidak ada tandingannya, kedua pria itu sama baiknya.
.
.
Setelah menempuh perjalanan udara selama 17 jam lebih akhirnya Mario sampai di Zurich.
Marion dijemput Fabio saat dibandara, keduanya saling berpelukan untuk melepas rindu sebagai seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
"Wie geht es dir Freund." Fabio menyambut hangat kedatangan sahabatnya itu.
"Mir geht es gut Fabio, du scheinst selbst besser zu sein." Ucap Mario sambil tertawa.
Keduanya melangkah masuk kedalam mobil, Fabio yang duduk dibalik kemudi dan Mario hanya duduk sebagai penumpang.
"Kau itu lama sekali mengunjungi wanitamu, untung saja otak pintaku bekerja dengan baik, Jika tidak M&H sudah bangkrut." Ucap Fabio bernada kesal dan meledek.
Mario hanya tertawa untuk menanggapi. "Kau memang sahabat terbaikku Fabio, aku butuh waktu untuk membawa wanitaku kesini."
Fabio geleng kepala, mendengar penuturan Mario.
"Du bist ein pädophiler Freund."
Ucapan Fabio sontak membuat keduanya tertawa bersama. Fabio banyak tahu tentang Mario, karena Fabio adalah sahabat dan tempat berbagi satu sama lain. Persahabatan mereka sudah seperti saudara.
Tak lama mobil yang Fabio kendarai sampai di sebuah mansion mewah.
"Baiklah semoga berhasil dude, aku kembali ke kator." Ucap Fabio melambaikan tangan pada Mario.
Mario membalas lambaikan tangan Fabio, dan kakinya membawanya melangkah masuk kedalam mansion mewah dan megah.
Kedatangan Mario disambut oleh beberapa pelayan mansion.
Mario menemui seseorang yang dia cari, dimana orang itu sedang di taman belakang mansion.
"Daddy.."
Pria yang sedang memunggunginya menoleh kebelakang, dan tersenyum melihat siapa yang berdiri dibelakangnya.
"Akhirnya kau datang Son."
__ADS_1