
Nathan berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam yang sudah gelap tanpa adanya bintang ataupun bulan.
Sejak pulang dari menemani Ami makan di luar, praktis keduanya tidak lagi bicara. Nathan yang diam membuat Ami juga ikut diam. Gadis itu cukup tahu jika dirinya yang sudah kembali membuat kutub Utara itu kembali dingin.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu kamar tak membuat Nathan beranjak, pria itu berdiri dengan kedua tangan Ia masukkan ke saku celana pendeknya.
Ami mendorong pintu kamar Nathan, dirinya membawakan makanan yang mungkin Nathan butuhkan. Karena pria itu makan di saat siang hari, dana sekarang sudah jam sepuluh malam pria itu belum juga mengisi perutnya kembali.
Ami masuk dan melihat ranjang yang kosong, ekor matanya mengarah pada pintu balkon yang terbuka. Bisa Ami lihat jika ada bayangan orang berdiri di sana.
"Om, makan dulu." Ucap Ami menaruh nampan berisikan makanan dan air minum di atas meja di pojok kamar Nathan.
Ami menatap punggung tegap yang sama sekali tidak bergerak.
Mengehela napas Ami, berbalik pergi dari kamar Nathan.
Mendengar pintu di tutup Nathan membalikkan tubuhnya menatap makanan yang Ami bawa di atas meja.
"Jika kamu saja ingin pergi, tapi kenapa membuat keadaan seperti ini." Gumam Nathan menatap makanan yang Ami siapkan. Cara Ami bicara dengan perbuatanya sudah berbeda. Gadis itu bicara yang bisa melukai hatinya, tapi perbuatan gadis itu mampu menghapus luka hatinya.
Nathan mengambil nampan yang Ami bawa, pria itu keluar kamar.
__ADS_1
Ami yang masih di dapur pun menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.
Matanya menatap nampan yang berisi makanan yang dia buat masih utuh.
Nathan menaruhnya di meja, membuat Ami kecewa.
"Tidak perlu, berbuat sesuatu yang menurutmu tidak perlu." Ucap Nathan tanpa melihat Ami, pria itu sudah berbalik dan membelakangi Ami.
"Om tunggu dulu." Ami meraih tangan Nathan, gadis itu menatap mata Nathan, menyelami perasaan yang hadir dalam dirinya. Ami tidak tahu apa yang terjadi. Tapi melihat Nathan menolak pemberiannya membuatnya semakin merasakan sesak yang tidak bisa di gambarkan.
"Apa aku boleh bertanya?" Ami menatap lekat bola mata pria yang memiliki tatapan tajam. Tapi Ami menyukai bola mata indah itu yang menatapnya teduh.
"Jika kita merasakan sesak didada bersamaan dengan rasa kecewa apa itu bisa dikatakan perasaan cinta." Tanya Ami dengan wajah polosnya, matanya mengerjap beberapa kali, membuat bulu mata lentiknya bergerak indah.
Nathan masih diam, pria itu menunggu Ami melanjutkan ucapanya.
"Ketika Om perhatian kepadaku, aku merasa senang, tapi dengan bersamaan rasa takut akan kenyataan tiba-tiba hadir di pikiranku. Aku sedih dan kecewa ketika melihat Om yang menolak pemberianku dan disatu sisi aku ingin masa bodoh tapi malah membuat dadaku semakin sesak." Keluh Ami pada Nathan. Dirinya tidak tahu antara rasa bersalah ataukah memang sudah ada cinta untuk Nathan.
Nathan ingin tersenyum lebar, tapi bibirnya masih Ia kunci rapat-rapat.
"Jadi tolong, jangan pernah menolak pemberianku, meskipun ucapanku menyakiti hati Om." Ucap Ami menatap wajah Nathan, berhenti dikedua kelopak mata tajam itu.
Inilah yang harus dia alami ketika jatuh cinta dengan istri kecilnya, apakah dia harus menjadi tukang tipu untuk mengelabui gadis kecilnya. Ingin sekali Nathan menggigit semua yang ada di tubuh gadis itu.
__ADS_1
Nathan mengusap wajahnya kasar, untuk mengurangi degup jantungnya yang sudah tak terkontrol.
"Dasar gadis bodoh." Nathan meraih tubuh Ami, memeluk gadis yang selalu membuat jantungnya seperti roller coaster.
"Ck, aku tidak bodoh hanya saja otakku tidak mampu untuk menimbun berat yang berlebihan." Jawab Ami dengan tangan yang melingkar di tubuh Nathan, entah mengapa dirinya merasa nyaman, meskipun belum tahu pasti jika dia benar-benar mencintai suami kejam nya ini.
"Tapi kamu tetap bodoh dalam hal perasaan."
"Aku memang bodoh, tapi kebodohanku bisa membuat jantung Om seperti mau meledak." Ucap Ami mendongak menatap wajah Nathan yang sudah memerah karena merasa malu.
"Ck, tidak udah didengar." Nathan berdecak kesal, gadis itu terlalu jujur membuatnya tak bisa menyembunyikan rasa di jantungnya.
"Kemarilah. "Nathan menyuruh Ami untuk duduk di kursi, mereka duduk bersampingan.
"Karena kamu sudah berbuat baik memasak untukku, sekarang kamu suapi aku." Ucap Nathan sambil menggeser nampan makanan tadi didepan Ami.
"Ck, Om sudah tua, lagian punya tangan untuk apa minta disuapi." Ami mengerucut kan bibirnya.
"Istri harus nurut apa kata suami, dan yang harus kamu turuti sekarang adalah menyuapiku."
"Heleh, modus..modus aja pake acara Istri nurut." Ami melirik Nathan sinis. "Awas aja kalau modus yang lain, aku beri pelajaran." Kesal Ami meraih sendok untuk menyuapi Nathan.
Meskipun dengan wajah cemberut Nathan suka melihat wajah kesal Ami.
__ADS_1
"Kalau suami Istri itu seharusnya berbagi, contohnya seperti ini." Nathan menyuapkan makanan sendiri, lalu meraih tengkuk Ami memeberikan apa yang ada dalam mulutnya.
"Om..Emph."