
"Boleh." Nathan menatap iba pada gadis yang berada di bawahnya, gadis yang sudah sejak tadi tak kuasa menahan leguhan yang Nathan lakukan.
Ami menatap kedua mata Nathan yang sudah berkabut gairah, membuatnya tidak tega.
"Boleh kasih aku waktu sampai satu semester." Ucap Ami lirih, tangannya menyentuh pipi Nathan yang begitu dekat dengan wajahnya.
Walaupun kewajiban seorang istri adalah melayani suami lahir batin, tapi Ami belum siap jika harus memberikan hak suaminya sekarang.
Nathan menatap manik coklat indah yang begitu dua sukai, meskipun ada rasa kecewa tapi dia coba mengerti.
Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis. "Hm, tidak apa. Aku akan sabar menunggu waktu itu tiba." Hah
Nathan menjatuhkan kepalanya di belahan dada Ami yang terbuka, hanya saja kaus yang dia pakai menyingkap, dan kaca mata kelembutannya yang ikut naik. Bayangin sendiri gimana yakk😩
Mengehela napas berat, Nathan mencoba menetralkan deru napasnya, gairahnya sudah di ujung, tapi kembali dipatahkan dengan gadis yang masih belia.
"Sakitnya tuh, di bawah sayang." Gumam Nathan dengan mata terpejam, diatas gundukan yang sudah dia kuasai sedemikian rupa.
Ami ingin tertawa, hatinya tiba-tiba terenyuh mendengar kata sayang, dari pria dingin dan kejam itu.
Tangannya mengusap rambut Nathan lembut, posisi mereka masih di sofa, dengan Ami yang bersandar di sofa, dan Nathan menindihnya.
"Maaf, aku belum bisa memberikan apa yang menjadi hak untuk Om." Ami berucap lirih, dirinya juga merasa bersalah tapi juga tidak bisa melawan berasa takutnya jika suatu saat dia hamil di masa masih sekolah.
"Hm, aku tidak memaksa." Nathan mendongak menatap wajah gadis yang sudah membuatnya kehilangan kendali, tapi masih bisa dia tahan. "Berjanjilah, percaya padaku. Jangan percaya dengan perkataan orang lain." Nathan terseyum, sedikit menaikkan kepalanya untuk meraih bibir gadisnya.
__ADS_1
"Em."
.
.
Pukul lima sore Nathan membawa Ami pulang. Awalnya Nathan mengajak Ami untuk pulang lewat pintu lift yang khusus untuk dirinya. Tapi Ami menolak karena dia menitipkan barang yang dia beli tadi di satpam depan.
Nathan menyuruh Ami untuk menunggu di depan lobby, sedangkan Nathan mengambil mobilnya lebih dulu.
"Non teh nunggu siapa?" Tanya satpam yang tadi Ami titipkan barang.
Satpam itu melihat Ami yang masih menunggu seseorang. "Om saya pak." Balas Ami dengan senyum. Dirinya memang menunggu om Nathan yang tak lain suaminya dan CEO di perusahaan itu.
"Oh." Satpam itu hanya ber-Oh ria saja, tak lama mobil mewah Nathan berhenti didepan Ami.
"Maksih Om." Ucap Ami terseyum, Nathan juga membalas dengan senyuman.
Perhatian kecil Nathan membuat orang yang tidak senagaja melihatnya tercengang, mereka tidak percaya jika CEO dingin dan galak bisa semanis itu dengan seorang gadis.
"Sepertinya, dia gadis bukan sembarang gadis." Ucap mereka yang melihat.
Pak satpam yang melihatnya pun hanya garuk kepala. Biasanya bosnya itu selalu menyuruhnya untuk membantu, tapi kini Nathan melakukannya sendiri membuat mereka sampai tidak percaya.
"Sepertinya bukan sembarang keponakan." Gumam satpam itu, yang sudah melihat mobil mewah Nathan keluar parkiran gedung.
__ADS_1
Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu fokus menyetir.
Ami sesekali melirik pria disampingnya, dari ketika keluar dengannya penampilan Nathan tidak seperti sekarang, menggulung kemejanya sampai siku, membuka dua kancing teratas membuat dadanya bisa diintip, apalagi memakai kaca mata hitam yang entah dia dapat dari mana.
Nathan yang merasa diperhatikan oleh Ami yang curi-curi pandang menoleh.
"Ada apa hm." Tanyanya dengan menoleh kesamping, dan kembali fokus menyetir.
"Tidak," Ami menggeleng, dia tidak mungkin mengakui jika penampilan suaminya begitu membuat matanya tak bisa berpaling, apalagi hatinya yang mulai tak bisa di kendalikan.
Nathan terseyum tipis. "Akui saja jika suamimu ini tampan." Nathan merasa senang melihat wajah Ami yang langsung semburat merah.
"Ish, Om ge-er banget tau ngak." Ami memalingkan wajahnya, dengan wajah yang semakin memerah.
"Ck, untuk apa malu mengakui yang memang pantas diakui, jika aku jelek kamu tidak akan mau menikah denganku." Nathan mengusap kepala Ami menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan mengemudi.
"Dih, pede nya ketinggian, lagi pula aku menikah karena paksaan, ingat paksaan.!!" Ami menatap Nathan kesal, dan Nathan malah tertawa.
"Paksaan berujung cinta kan." Nathan tertawa melihat wajah Ami yang kian cemberut, dia suka membuat gadis itu kesal karena merasa lucu.
"Ck, jangan ajari anak di bawah umur yang bukan-bukan." Ami melirik Nathan sinis.
"Anak di bawah umur, tapi bisa bikin anak." Nathan melirik Ami dengan senyum.
"Iihh, udah deh, jangan bahas yang gituan." Ami merasa malu, mendengar ucapan Nathan yang berbau mesum. Pria dewasa itu sudah mencemari otak dan pikirnya.
__ADS_1
Apalagi perbuatan Nathan, sudah membuatnya merasa sesuatu yang lain. Ami mengusap wajahnya untuk menghilangkan pikiran kotor yang sudah tercemar oleh pria mesum dan kejam di sampingnya itu.
'Sepertinya gue udah terkontaminasi.'