My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Hukuman


__ADS_3

Semenjak pulang dari kediaman kedua orang tua Nathan, Ami lebih banyak diam. Gadis itu masih memikirkan ucapan Mama Indira jika dia sedang hamil.


Nathan yang sudah terlanjur senang mendengar ucapan mamanya, meskipun belum terbukti tapi dirinya juga menyakini jika istrinya benar-benar sedang hamil.


"Sayang.." Nathan keluar dari kamar mandi melihat istrinya yang hanya berdiam diri di depan cermin.


Pagi ini mereka sudah akan melakukan aktifitas kembali setelah libur satu Minggu, Ami kembali masuk sekolah seperti biasa.


"Sayang.." Nathan memeluk istrinya dari belakang membuat Ami tersentak.


"Eh, By. Pakai baju dulu." Ucap Ami yang batu saja sadar, jika dirinya sudah lama duduk.


"Kamu belum menyiapkan pakaian kerjaku sayang." Bisik Nathan disamping telinga Ami, membuat gadis itu meremang.


"A-aku siapakan dulu." Ami beringsut berdiri, mau tak mau Nathan melepas pelukannya.


Sejak semalam istri kecilnya lebih banyak diam, bahkan Ami tidak banyak mengemil seperti sebelumnya dan gadis itu hanya diam.


"Kamu ada masalah?" Tanya Nathan yang kembali memeluk tubuh Ami dari belakang, posisi Ami yang sedang berdiri didepan lemari besar untuk mengambilkan pakaian ganti suaminya.


"Tidak." Ami membalikkan tubuhnya dan memberikan pakaian pada Nathan. "Aku siapakan sarapan dulu." Ucapnya dengan gugup dan berlalu pergi.


Nathan hanya menatap punggung istirnya yang menghilang dibalik pintu, tidak biasanya Ami menolak bermanja-manja dipagi hari, tapi hari ini gadis itu terlihat banyak pikiran.


Nathan selesai merapikan diri dan keluar kamar untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor dan mengantarkan istrinya sekolah.


"Ya tuhan." Nathan melihat asap mengepul di depan tubuh istrinya yang berdiri didepan kompor.


"Ayana.. " Nathan sedikit berteriak, melihat Ami yang melamun sampai alat masak yang dia pakai gosong dan menimbulkan asap.


"Ya tuhan." Ami yang tersadar mendengar teriakan Nathan langsung mematikan kompornya


"Gosong." Ami meringis melihat nasi goreng yang dia masak sudah berwarna hitam.


"Ay, kamu melamun." Tegas Nathan yang berdiri dibelakang tubuh istrinya.


Ami membalikkan tubuhnya dan menatap sumainya yang melihatnya bingung.

__ADS_1


"Aku_"


"Katakan apa yang sedang kamu pikirkan." Nathan menatap Ami lekat, membuat Ami menunduk dengan perasaan campur aduk.


.


.


.


Sepanjang jalan menuju sekolah didalam mobil sejak tadi hanya hening, tidak ada suara di antara kedua orang yang berada di dalamnya.


Nathan yang fokus menyetir, dan Ami yang membuang wajah kesamping.


Nathan memikirkan tingkah istrinya yang pendiam sejak Mamanya mengatakan jika kemungkinan Ami hamil, dan gadis itu menjadi pendiam, tidak fokus dengan apa yang dia kerjakan.


Mobil Nathan sampai di depan gerbang sekolah sang Istri, tapi Ami masih diam dengan posisi yang sama sejak tadi.


Lima menit sepuluh menit, Ami masih betah dengan dunianya sendiri.


"Sudah sampai, apa kamu tidak mau turun."


"Eh, sudah sampai." Ami terseyum simpul untuk mengurangi rasa gugupnya, karena Nathan menatapnya tajam.


"Pulang sekolah aku jemput, kita harus bicara." Ucap Nathan yang kembali fokus melihat kedepan.


Ami hanya mengaguk, menatap Nathan yang membuang wajah, mengurungkan niatnya untuk berpamitan seperti biasa yang mereka lakukan.


Ami keluar dari dalam mobil, dan mobil Nathan langsung melesak pergi tanpa pamit.


Mengehela napas, Ami merutuki kebodohanya.


Entah apa yang dia pikirkan yang jelas ucapan Mama Indira tadi malam membuatnya syok dan juga gelisah.


Apa benar dirinya hamil?


Jika Ia apa dia bisa melewati ini semua dengan statusnya yang masih pelajar?

__ADS_1


Ami memikirkan bagaimana jika dirinya hamil dalam keadaan masih sekolah dan apa kata teman-temanya jika dirinya hamil saat masih sekolah.


Meskipun memiliki suami tapi pikiran Ami selalu memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Ayana.."


"Ayana Malika Ifana..!!"


Olive meringis ketika guru yang sedang dikelasnya berteriak memanggil sahabatnya.


"Eh, i-iya Bu." Ami menelan ludah mendapat tatapan tajam dari guru didepan sana.


"Keluar kamu jika tidak mau mengikuti pelajaran saya." Ucap guru itu tegas, membuat Ami mengehela napas.


Sejak tadi pikiranya kemana-mana, entah apa yang dia pikirkan dan semakin membuatnya pusing.


"Berdiri dibawah tiang bendera sampai pelajaran saya selesai." Tegas guru itu menatap Ami kesal.


Ami hanya pasrah mendapatkan hukuman kali ini. "Semangat Mi." Ucap Olive menyemangati lirih. Sebenarnya Olive juga tidak tega, tapi sejak tadi sahabatnya itu asik dengan lamunannya sehingga Olive yang memberi peringatan tidak dihiraukan dan berakhir dengan hukuman.


Ami berdiri dibawah tiang bendera, baru kali ini dirinya mendapat hukuman, dan semua karena dia sendiri.


Keadaan sekolah memang sepi, karena masih jam pelajaran dan Ami berdiri dengan sinar matahari yang lumayan terik.


Dengan perlahan tangannya mengusap perutnya yang rata. "Apa dia memang ada." Ucapnya lirih, dengan bibir terseyum tipis.


Sepuluh menit, lima belas menit, berdiri di bawah teriknya matahari membuat keringat Ami bercucuran.


"Kepala gue." Gumamnya dengan menyentuh pelipisnya yang terasa berat, pandangan mulai berkunang-kunang dan semakin lama pandangannya semakin gelap tak sadarkan diri.


"Ayana..!!"


.


.


Pagi gaesss.. Maaf beberapa hari ini otor update-nya pelit😩 karena Otor ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan🤧. Insyaallah Allah besok Otor mulai update carzy up..

__ADS_1


Semoga sehat semua sahabat online otor kesayangan.😇🙏


__ADS_2