
Satu bulan berlalu....
"Sayang, aku sudah siap." Nathan menghampiri Istrinya yang sudah duduk sofa.
Ami menoleh, dia melihat penampilan suaminya yang tidak pernah gagal, meksipun Ami tidak pernah mengatur fashion sang suami, tapi Nathan memang tampan sejak dulu, dan pria itu juga selalu memperhatikan penampilannya.
Hari ini Ami akan melakukan pemeriksaan rutin kandungannya, dan Nathan selalu ada ketika sang Istri akan mengunjungi dokter dan melihat perkembangan buah hati mereka.
"Suami aku ganteng banget sih." Ucap Ami sambil tersenyum.
"Hem, baru sadar kalau suami kamu ganteng." Balas Nathan dengan pongah.
Ami memutar kedua matanya malas, tapi bibirnya langsung menyunggingkan senyum. "Dari dulu sih, makanya aku mau dinikah meskipun terpaksa."
Nathan mengernyitkan keningnya, dan Ami kembali berkata. "Jika tidak tampan dan mapan, mana mau aku dinikah paksa. Lebih baik bayar hutang seumur hidup dari pada harus menikah dengan pria jelek."
Nathan membulatkan kedua matanya, "Jadi kamu menerima karena aku tampan dan mapan?"
Ami langsung mengangguk. "Tanpa cinta?" Tanya Nathan lagi.
Ami lagi-lagi mengaguk. "Tanpa cinta, tanpa perasaan, tapi Om duluan yang baper." Ledek Ami dengan wajah puas melihat wajah Nathan yang cengo.
"Satu lagi, Om duluan yang jatuh cinta sama aku saat pandangan pertama dikantor." Ami menyeringai lebar ketika Nathan membulatkan kedua matanya. "Ingat saat Om kepleset." Terangnya lagi, membuat ingatan Nathan kembali kemasa itu.
"Benarkan ucapanku." Tanya Ami yang sedikit maju mendekati tubuh suaminya dan_
__ADS_1
Cup
Ami mengecup pipi Nathan. "Sudahlah ayo." Ami menarik lengan Nathan untuk segera keluar dari apartemen.
"Kamu benar sayang, sebenernya saat itu aku tidak menyadari." Nathan tiba-tiba berkata saat keduanya berada didalam lift.
Ami yang awalnya menatap lurus kedepan kini menoleh. "Karena tidak peka dengan perasaan yang aku rasakan sendiri, jadi aku tidak tahu jika dari awal kita bertemu aku sudah tertarik." Ucap Nathan lagi dengan tersenyum. "Kamu ingat saat tidak sengaja kamu mencoba cincin dimall? Saat kamu mencoba cincin itu aku sangat menyukainya, terlihat begitu cantik dijari manis kamu." Nathan menyentuh tangan Ami yang tersemat cincin pernikahan. "Dan saat kamu pergi aku mengambil cincin yang kamu coba itu, padahal aku sendiri tidak tahu untuk apa aku membeli cincin itu?"
Nathan dan Ami kembali mengenang beberapa kenangan menyebalkan yang pernah mereka alami, Nathan memang membeli cincin yang dicoba Ami saat ditoko perhiasan dimall, saat itu Nathan sedang bersama dengan Maudy untuk membeli cincin pertunangan, dan kebetulan Ami dan Olive juga berada disana. Nathan yang tidak sadar melakukan hal itu, tidak tahu jika jodohnya adalah gadis belia dengan segudang tingkah lakukan membuatnya lama-lama berada dalam perasaan jatuh cinta hingga bucin.
"Heeem.." Ami memonyongkan bibirnya. "Mau tahu satu rahasia?" Tanya Ami dengan wajah yang dibuat serius mungkin. Nathan pun dengan seksama menunggu ucapan sang Istri. "Sebenarnya aku tuh pakai pelet." Bisik Ami di telinga Nathan. "Wleee...wleee...wleee." Ami menjulurkan lidahnya tiga kali didepan Nathan, membuat pria itu malah tertawa terbahak-bahak.
Keduanya sama-sama melempar candaan, hingga sampai di lobby apartemen, mereka tidak menyadari tingkahnya yang seperti anak kecil, membuat beberapa orang memeperhatikan mereka.
"Siang nyonya Ayana," Sapa dokter Sarah dengan ramah.
"Siang dokter." Nathan dan Ami membalasnya tak kalah ramah.
Seperti biasa Ami di bantu dengan suster pembantu untuk berbaring di atas ranjang pasien, Nathan juga membantu sang Istri mengangkat kakinya untuk bisa berbaring di ranjang.
"Terima kasih By." Ucap Ami yang sudah berbaring dengan posisi nyaman.
"Sama-sama sayang." Nathan terseyum, dan bergeser untuk berdiri di samping Ami bagian kiri, karena bagian kanan ada dokter Sarah yang akan mulai memeriksa dengan menggunakan alat transducer yang bergerak di atas perut buncit Ami, setelah diberi gel.
Deg...deg..deg..
__ADS_1
Nathan terharu mendengar detak jantung buah hatinya yang begitu kuat hingga membuat sekujur tubuhnya merinding, meskipun setiap bulan mendengar, tapi tubuh Nathan selalu merasakan hal yang sama.
"Detak jantung mereka sangat baik." Ucap dokter Sarah dengan senyum. "Perkembangan pertumbuhan mereka juga baik dan normal." Tambah dokter Sarah lagi.
Nathan menggenggam tangan Ami dan mengecupnya.
Ami yang melihat buah hatinya meringkuk dan terlihat imut, membuatnya terharu, hingga tak sadar sudut matanya basah.
"Sayang sekali, mereka selalu menutupi jenis kelaminnya." Dokter Sarah mengarahkan alat transducer dan sedikit menekannya, hingga membuat Ami meringis, tapi si bayi tetep tidak mau memperlihatkan jenis kelamin mereka. "Sepertinya mereka memang ingin memberi kejutan untuk orang tuanya." Tambah dokter Sarah membuat Nathan dan Ami tertawa.
"Tidak apa-apa dok, yang terpenting mereka semua sehat." Ucap Nathan menatap wajah Ami, dan mengelus kepalanya.
Ami tersenyum, menatap wajah Nathan yang bicara dengan menatapnya.
"Ya, si kembar sangat aktif, dan sehat."
Tidak ada yang mereka inginkan, selain kesehatan untuk buah hati mereka yang masih didalam kandungan. Nathan hanya meminta mereka semua dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
.
.
Soo sweet 😍
__ADS_1