My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~Rencana makan malam


__ADS_3

Mario menuruni tangga dijam setengah tujuh pagi, pria itu sudah rapi dengan penampilannya yang cansual.


"Wahhh Abang gue yang paling kerena." Mike yang melihat Mario menuruni tangga berdiri dan menyapa kakaknya yang baru pagi ini dia lihat.


Mario tersenyum, dan menghampiri Mike sang adik sambil berpelukan.


Vania yang melihat kedua putranya saling merangkul bahagia.


"Pagi Pah, Mah." Mario menyapa kedua matanya orang tuanya, mencium pipi Vania berpindah pada Julio yang juga baru bertemu.


"Apa kabar son." Julio memeluk putra sulungnya yang semakin dewasa dan gagah.


"Baik Pah."


"Bang, lu kayak jelangkung tau ngak, tiba-tiba nonggol dan tiba-tiba pergi." Ucap Mike sambil melirik Mario yang baru saja duduk di kursi sampingnya.


"Gue banyak urusan, ngak kaya lu banyak maen." Balas Mario membuat Mike meringis.


Mike memang suka menghabiskan waktu diluar, apalagi Mike seorang ketua club motor besar diantara teman-teman sekolahnya.


"Bagaimana dengan kabar grandma mu?" Tanya Julio pada putranya.


Meskipun sudah tahu kabar bunya yang berada di Swiss saat melakukan panggilan telepon, tapi Julio ingin mendengar langsung.


"Sudah Pah, makannya Mario bisa ke Indonesia." Ucap Mario.


Julio hanya mengaguk. "Nak nanti malam Mama mengundang kelaurga Adhitama untuk makan malam, Mama harap kamu tidak pergi."


Vania bukan melirik pada Mario, melainkan pada Mike yang suka pulang telat dan pergi saat acara makan malam bersama keluarga Hawa.


"Ck, Mama malam ini Mike ada_"


"Balapan yang tidak jelas." Sambar Julio tegas.

__ADS_1


Suasana meja makan yang awalnya hangat karena hadirnya Mario, kini menjadi hening saat Mike lagi-lagi menghindar.


"Ck, kalian selalu memaksaku!" Kesal Mike dengan menghempaskan sendok makan hingga menimbulkan bunyi karena terbentur dengan piring.


"Mike!" Tegas Julio yang melihat tingkah putranya.


Mario hanya diam pria itu masih fokus dengan sarapan paginya, dia tidak ingin ikut campur persoalan tentang perjodohan yang sudah dia dengar.


"Pah, sudah." Vania memberi isyarat agar suaminya menahan amarahnya.


"Kenapa harus aku, kenapa tidak Mario saja yang kalian jodohkan dengan anak kecil itu." Ucap Mike dengan nada marah. "Mike tidak suka diatur, apalagi_"


"Cukup!" Tegas Julio dengan mengebrak meja makan.


Mike terseyum miris, "Lebih baik Mario saja yang kalian jodohkan, karena dia yang lebih mau menuruti semua ucapan konyol kalian."


Setelah mengatakan itu Mike berlalu dari meja makan, menyambar kunci motor dan pergi.


"Sudah Pah, bairkan saja." Mario mengeluarkan suaranya.


Vania hanya melihat pungung Mike dengan sendu, pria remaja itu wataknya lebih keras dari pada Mario.


"Dasar anak pembangkang." Umpat Julio kesal, dan kembali duduk melanjutkan makannya.


"Papa dan Mama lebih baik jangan memaksakan kehendak." Ucap Mario beberapa saat setelah cukup hening.


Julio mendongak, menatap Mario yang juga sedang menatapnya.


Menghela napas sebelum bicara, Mario menaruh alat makanya, setelah selesai.


"Mike tidak ingin dijodohkan, jadi biarkan_"


"Tidak bisa!" Potong Julio. "Mike sudah papa jodohkan dengan putri teman papa, dan itu sudah menjadi keputusan kami." Tegas Julio yang tidak bisa dibantah.

__ADS_1


Mario melirik ibunya, dan Vania hanya bisa mengangguk.


Mario tidak lagi bicara, jika ibunya sudah mendukung keputusan papanya, dan jika Mario pikir mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama seperti Mike.


Lebih baik Mario membatah dan pergi, dari pada harus dijodohkan dengan gadis yang tidak dia inginkan. Apalagi Mario sudah memiliki tujuan hidup untuk wanita yang dia inginkan.


Mengingat itu Mario tersenyum, "Gadis Ceroboh." gumam Mario, yang mengingat tingkah Hawa suka mencium pria sembarang yang tidak dikenal.


Entah keberuntungan atau musibah. Keberuntungan karena dirinya mendapatkan ciuman dari gadis menggemaskan dan cantik seperti Hawa. Musibah jika Hawa melakaukan hal yang sama, disetiap gadis itu mendapat pertolongan dari pria lain.


Kepala Mario menggeleng, itu tidak boleh terjadi, hanya dirinya yang berhak Hawa cium.


"Mario kamu kenapa?" Tanya Vania yang melihat putranya aneh.


Mario tersadar, sejak tadi dirinya terus membayangkan gadis kecil pencuri hatinya itu.


.


.


Tolong bantu author kasih RATE BINTANG 🌟 5 DONG sayang 🤧


Gara-gara satu orang RATE author langsung anjlok 🥺


.



Mungkin karya receh author tidak sebagus dari yang dia inginkan, jadi dia kasih Author penilaian BURUK.


Ndak papa, terimakasih udah mampir baca, dan kasih penilaian untuk kenang-kenangan 😘


Semangat 💪💪💪

__ADS_1


__ADS_2