My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Berduka cita2


__ADS_3

Deg


Nathan yang baru saja ingat, mematung. Dirinya melupakan apa yang sejak tadi mengganjal di hatinya, dan Nathan baru ingat jika dia belum memberi kabar kepada isterinya.


"Ayana sedang ujian bunda, Nathan tidak tega untuk mengganggunya." Jawab Nathan sebisa mungkin bisa membuat bunda Raya mengerti. Karena dirinya benar-benar melupakan itu. Meskipun bisa saja Ami meninggalkan mata pelajarannya.


Bunda Raya, hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Setidaknya meskipun sedang ujian, dia bisa memberi penghormatan terakhir untuk Omanya." Lirih bunda Raya, yang menayangkan putrinya tidak hadir di acara penghormatan terakhir ibu dari mertuanya. Sungguh Raya merasa kecewa.


Nathan yang mendengar ucapan bunda Raya, merasa bersalah sendiri, dan ini adalah kesalahannya yang tidak mengingat Ami, apalagi di nada bunda Raya bicara terdengar seperti kecewa.


Semua keluarga besar memang hadir, mulai dari anak, menantu dan cucu. Hanya Ami sendiri yang tidak terlihat.


_Not disini Sena belum menikah yak, masih di kejar-kejar mas Aaron_😂


.


.


.


Ani sudah pulang dari sekolah, dari jam dua belas dia sudah di apartemen, gadis itu tidak tahu apa yang sudah terjadi di keluarga Adhitama. Karena memang tidak ada yang memberi tahu ataupun Ami mendengar sendiri.

__ADS_1


Sejak masuk ke apartemen Ami langsung memasak untuk mengganjal perutnya yang lapar, ternayata banyak berpikir bisa membuat perutnya lapar.


Setelah mengisi perut nya, Ami kembali ke kamar untuk mempelajari soal ujian tadi dan kecocokan beberapa jawaban yang dia ingat. Hingga di jam tiga sore Ami baru keluar kamar setelah lelah.


Mengambil air minum dan membawa cemilan Ami duduk di depan tv, menyalkan layar empat puluh delapan inci itu untuk menonton hiburan.


"Pagi ini kabar duka menyelimuti keluarga besar terkaya di kota ini, yaitu kelaurga bapak Allanaro putra Adhitama. Menurut kabar ibunda tercinta Bapak Allanaro menghembuskan napas terakhir tadi pagi pukul sembilan, dan di makamkan pukul sebelas siang tadi. semua kelaurga bapak hadir dengan duka yang medalam.


Kamera wartawan mengarah kepada keluarga Adhitama yang nampak begitu terpukul.


Deg


"Oma Lili." gumam Ami sampai menutup mulutnya. Matanya sudah memanas sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.


Apakah dirinya benar-benar tidak di anggap ada oleh Nathan, sampai-sampai Oma meninggal dia tidak diberi tahu.


Ami bergegas lari ke kamar untuk mengganti bajunya, dirinya merasa tidak berguna. Meskipun keduanya menikah sepakat hanya satu tahun, tapi keluarga mereka tidak ada yang tahu sama sekali, dan Ami pasti dicap menantu yang tidak berguna dan berperasaan. Dada Ami terasa sesak, jika dia tidak di hargai sebagai istri, setidaknya dia dihargai untuk menjadi menantu yang tahu balas budi. Dia tidak meminta Nathan untuk menghargainya, tapi dia ingin membalas kebaikan Mama Indira yang sudah baik dan menyayanginya, sungguh Ami merasa kecewa dengan Nathan.


Kediaman keluarga Adhitama masih diliputi rasa duka, banyak karangan bunga ucapan bela sungkawa berjejer di halaman rumah hingga depan pinggir jalan, ada juga wartawan yang masih menyorot rumah besar kediaman orang ternama di kota besar itu. Bagi mereka mendapat kesempatan di keluarga terpandang Adhitama adalah kesempatan langka, meskipun meliput kabar duka tapi mereka semua begitu antusias.


Ami yang sudah sampai didepan rumah mertuanya pun hanya berdiri mematung, setelah keluar dari taksi yang dia tumpangi. Kediaman rumah besar sudah sepi orang yang bertakziah. Dan Ami bukan gadis bodoh yang melihat banyak orang berseragam seperti wartawan, bahkan mereka masih menyiarkan berita live.

__ADS_1


Memberanikan diri, Ami sudah bertekad untuk masuk kerumah besar itu.


"Mbak, sepertinya anda orang terakhir yang datang bertakziah di rumah Adhitama, apa anda kerabat jauh yang baru sampai?" Tanya reporter wanita yang mencegah langkah Ami.


Ami nampak bingung untuk menjawab, dirinya tidak tahu harus menjawab apa. apalagi wajahnya disorot kamera yang pasti sudah masuk berita live tv. Jika dirinya menjawab jujur pasti akan banyak masalah nantinya, karena tidak ada orang luar yang tahu jika dia istri dari putra Adhitama.


"Saya_" Ami nampak berpikir sejenak, dirinya tidak mau membuat malu hanya karena jawabanya yang tidak tepat. "Saya bukan siapa-siapa, dan saya memang ingin mengucapkan bela sungkawa untuk orang baik seperti keluarga Adhitama." Jawab Ami dengan ragu-ragu. Tapi dirinya tidak bisa memikirkan jawaban lain, berharap tidak membuat malu keluarga.


Apalagi sampai membuat nama Adhitama tercoreng hanya karena ucapanya.


Setelah itu Ami bisa bernapas lega, karena bisa melewati wartawan yang lumayan banyak, beruntung hanya satu yang memintanya untuk menjawab.


Di ambang pintu yang masih terbuka, Ami mendengar jika didalam masih ada orang yang mungkin juga sedang bertakziah, dan Ami seperti mendengar suara yang tidak asing, seperti bapak kepala sekolah.


"Saya tadi sempat melihat istri anda masih mengikuti ujian, apa memang istri anda tidak tahu jika Oma anda meninggal." Sayup-sayup Ami mendengarnya, masih di balik pintu.


"Saya hanya tidak ingin menganggu ujian belajarnya pak, kami juga merasa sangat kehilangan dan berduka, jadi benar-benar fokus untuk kelaurga kami."


Deg


Ucapan Nathan mampu membuat dada Ami kian sesak, jadi dia benar-benar tidak di anggap sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2