My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Merajut cinta


__ADS_3

Di rumah yang berbeda, dengan suasana siang yang panas, tidak menyurutkan aktifitas keduanya yang baru saja selesai.


Indira dengan napas tersengal dan keringat yang membasahi wajahnya, membuat Allan semakin menyukainya, karena dengan begitu istrinya terlihat begitu seksih.


"Jatah Abang nanti malam tidak ada." Ucap indira yang masih menetralkan napasnya.


Keperkasaan Allan memang sudah berkurang, dengan beriringan umur yang semakin bertambah, dan Allan tidak sekuat saat muda dulu dimana yang bisa bertahan sampai beberapa kali dalam sewaktu. Meskipun begitu Indira masih tidak bisa mengabaikan sentuhan sang suami yang tidak pernah bisa membuatnya untuk bertahan menolak.


Allan terseyum, di memeluk tubuh polos yang berkeringat dibalik selimut yang menutupi keduanya. "Kamu sudah tahu jika aku tidak sekuat dulu, dan jika kamu kurang puas maka aku akan meminum_"


"Stop bang." Indira mendelik. "Jangan sampai kamu meminum pil lacnut itu, jika tidak aku tidak mau melaynimu." Kesalnya dengan mengerucutkan bibir.


Indira ingat jika Allan pernah mencoba minum obat kuat yang sahabatnya kasih, dan banar saja Indira kewalahan untuk melayani suaminya yang tidak pernah puas, dan berakhir dengan miliknya yang perih dan lecet akibatnya dia tidak bisa beraktifitas bebas.


Allan terkekeh. "Aku kira kamu menyukainya." Allan mengusap kening Indira yang basah, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik diusianya yang semakin dewasa dan matang.


"Tidak, aku tidak menyukainya." Indira menggeleng cepat, dengan wajah mendelik. "Cukup sekali, dan aku tidak mau lagi."


Allan masih mengulum senyum. "Jadi mau lagi atau sudah." Ledek Allan dengan menggoda, tanganya menyentuh dua gundukan favoritnya.


"Bang, sshh diam." Indira mencoba menyingkirkan tangan Allan.


"Aku masih kuat sayang, jika satu ronde lagi." Allan terseyum mesum, membuat Indira mencebik.


"Dan encok Abang akan kambuh, berakhir aku yang kesusahan."


Allan tertawa, Istrinya memang selalu khawatir dengan kesehatannya, umurnya sudah kepala enam, dan tentu saja keperkasaannya sudah berangsur berkurang, Allan tidak sekuat dulu saat muda.


"Ck, kamu meragukan ku sayang. Mau coba?" Allan memainkan alisnya naik turun, membuat Indira semakin kesal.


"Kita buktikan."


Bugh


"Ahhh Abang." Indira yang belum siap, tiba-tiba tumbuhnya terangkat dan duduk diatas milik suaminya.


"Dengan syarat, kau yang memipin."


tangan dan bibir Allan mulai bergerilya, membangunkan gairah sang istri agar kembali naik.


Indira hanya bisa bergerak gelisah, dengan gesekan kecil dia merasakan sesuatu mengganjal dibawah sana.


Sepasang paruh baya itu tidak mau kalah dengan kedua pengantin lama yang sendang berbulan madu, mereka kambali mereguk kenikmatan untuk yang kedua kali, di siang bolong.


.


.

__ADS_1


.


Tidak bisa dipungkiri jika Ami benar-benar menyukai tempat yang suaminya pilih, dia tidak tahu jika Nathan menyiapkan semua ini hanya untuk dirinya.


Tapi hanya satu yang Ami tidak suka, Nathan selalu menjamah tubuhnya hingga membuat tubuhnya terasa remuk dan lelah, dan kini Ami hanya bisa bersandar dibahu ranjang.


Semalam Nathan benar-benar memintanya upah demi foto yang dia dapatkan, dan hal itu digunakan Nathan sebagai kesempatan untuk mengempurnya sampai pagi.


Ami menatap pintu kamar hotel yang terbuka, dan dia melihat Nathan yang membawa nampan makanan dan segelas susu.


"Sudah bangun." Nathan terseyum, wajah pria itu terlihat segar dan berseri-seri, Nathan tidak terlihat lelah setelah semalaman seperti kuda jantan yang sedang mabuk.


Ami mengerucutkan bibirnya, melihat senyum yang menurutnya menyebalkan.


"Aku sengaja buatkan kamu susu dan sandwich, karena kamu susah untuk menelan makanan asing." Nathan menaruh nampan itu dimeja kecil samping ranjang, lalu dia duduk dipinggir ranjang.


"Kamu lelah." Tanpa rasa bersalah Nathan bertanya, padahal dia tahu apa yang Ami rasakan, hanya saja Nathan ingin menggodanya.


"Ck, jangan ditanya lagi by." Kesal Ami dengan wajah cemberut.


Nathan malah terkekeh, "Salah siapa tubuhmu, sangat enak dinikmati, dan membuatku candu."


Bugh


Ami memukul dada Nathan, wajah gadis itu memerah malu. "Nathan, kamu nyebelin." Ami merengek manja.


Ami menerimanya dan menempelkan gelas itu pada bibirnya. "Ingat, masih banyak ronde yang belum kamu bayar, dan setelah perut mu terisi_" Nathan tidak lanjutkan ucapnya.


Mata Ami mendelik tajam. "Kamu nyebelin By, menggunakan kesempatan untuk menguntungkan diri sendiri." Kesal Ami.


Nathan malah tertawa. "Kesempatan yang menguntungkan kenikmatan sayang, dan kamu tidak akan menolaknya."


Nathan akui jika istrinya selalu tidak bisa menolak kewajibannya, dan Nathan yang menyukai saat Ami menyebut namanya dengan nada yang begitu seksih, membuat Nathan tidak akan lelah dan puas.


"Nathan.." Ami mendelik, tidak habis pikir dengan tenaga Nathan.


Entahlah pria itu seperti meminum sejenis obat kuat atau pil perangsang membuatnya tidak kenal lelah.


Meskipun Ami menyukai percintaan mereka, namun tetap saja tubuhnya merasa remuk dan lelah setelahnya.


"By, kamu mau apa?" Ami menatap Nathan yang sudah menggendongnya.


"Bukankah kamu ingin membersihkannya diri." Ucap Nathan berjalan menuju kamar mandi.


"Aku bisa mandi sendiri." Ucap Ami.


"Tidak, aku akan memandikan mu."

__ADS_1


Nathan menaruh tubuh polos Ami didalam bathub, dengan air hangat yang sudah dia beri aromaterapi yang Ami suka.


"By, aku bisa sendiri. Keluarlah." Rengek Ami manja, yang melihat Nathan ikut masuk kedalam bathub.


"Ck, diamlah sayang jika tidak ingin aku makan." Jawab Nathan yang sudah duduk dibelakang tubuh Istrinya.


Ami hanya bisa menekuk wajahnya, meskipun begitu hatinya juga menghangat. Ami merasa diratukan oleh Nathan setelah semalaman dia melayaninya, dan kini dialah yang di layani layaknya ratu.


Nathan terseyum melihat tubuh putih mulus Istrinya yang penuh dengan bercak merah keunguan yang dia ciptakan, rasanya satu tubuh Ami tidak luput dari gigitan dan sentuhannya.


"Byyy." Ami merengek ketika jemari nakal Nathan sengaja menggodanya.


"Hm, Kenapa?" tanya Nathan pura-pura tidak tahu.


"Jangan modus." Ami menoleh kebelakang, dan bisa melihat wajah tanpa dosa suaminya yang menyebalkan.


"Modus untuk apa?" Tanya Nathan yang kembali memainkan pucuk dada Ami gemas.


Plak


"Byy, jangan nakal."


Ami kesal, memukul tangan Nathan.


Dengan telaten Nathan kembali menggosok punggung Ami, dia tahu jika Istrinya butuh istirahat dan Nathan tidak ingin egois hanya karena napsunya.


Setelah selesai Ami beranjak untuk membilas tumbuhnya di bawah shower, dan Nathan sudah lebih dulu keluar untuk mengambilkan pakaian ganti sang Istri.


Ami masih berdiri dengan membersihkan rambutnya dari busa shampoo, dia tidak menyadari jika sejak tadi Nathan memperhatikan tumbuhnya dari kaca transparan yang dia tempati.


Nathan menatap Ami dengan memainkan lidahnya di dalam mulut, pria itu berfantasi dengan pikirnya yang dipenuhi dengan kenikmatan bercinta. Tubuh Ami benar-benar membuatnya candu dan sangat enak untuk dinikmati.


"Aku bisa gila jika seperti ini."


Nathan memilih kaluar, dia menunggu Ami di luar.


.



Punggung apa tembok cor🤤


(Adakah disini pembaca di lapak F*Z. ) jika ada komen diparagraf ini ya,


Otor mau buat cerita Ameer dan Amaar di sana. (Anak Sena dan Aaron) 🤭


Masih rencana 🤣

__ADS_1


__ADS_2