
"Terima kasih Dit, kamu sudah banyak membantu." Ucap Nathan pada Ditya.
Setelah penangkapan tuan Fork berserta pengawal dan anak buahnya langsung digiring ke kantor polisi, ternyata tuan Fork termasuk jejeran mafia yang memperjual belikan barang haram di Asia dan manca negara, hanya saja tuan Fork hanya penadah dari bandar besar yang sebenarnya.
"Semua juga berkata kalian," Ditya menatap ke-tiga orang yang berdiri didepannya, Ando, Nathan dan juga Ami.
"Terutama aku." Ando melirik Nathan sinis, pria itu masih dengan wajah tanpanya, tapi dirinya lumayan banyak memiliki wajah lebam.
"Kau juga Ndo, akhir bulan gajimu aku naikkan."
Ando yang memasang wajah masam, berubah berbinar mendengar gaji naik, "Ck, kalau begitu gue rela deh di pukuli mereka." Ucapnya dengan wajah songong.
Ami mencebik. "Aku juga mau gaji dinaikkan." Ceplosnya dengan wajah biasa saja, tidak melihat reaksi Nathan yang langsung menyeringai.
"Boleh, asalkan jumlah ronde di tambah."
Ditya dan Ando geleng kepala, menyesal mendengar ucapan Nathan untuk mereka yang jomblo.
.
.
"Sayang kamu tidak apa-apa." Indira memeluk menantunya ketika turun dari mobil.
Nathan membawa Ami pulang kerumah Mamanya, karena Indira yang menyuruh.
"Tidak apa-apa Mah." Ami membalas pelukan ibu mertua yang seperti ibu kandungnya itu.
"Jimmy sudah memberikan berkas bukti kejahatan Fork yang lain, jadi dipastikan pria itu akan sangat lama mendekam di penjara." Ucap Allan pada Nathan.
Keduanya duduk di taman belakang, sedangkan para istri sedang asik mengobrol di dalam.
"Iya pah, karena saat Fork ditangkap banyak bermunculan skandal dan kejahatan yang selama ini tidak bisa tercium polisi, dan mereka cukup terkejut saat Ditya membawa Fork untuk diserahkan kepada pihak berwajib."
Allan mengaguk, memang banyak pembisnis yang memiliki otak licik seperti mafia, mereka memiliki bisnis gelap dan ilegal, tapi tertutup dengan bisnis legal yang mereka buat, jadi polisi tidak punya bukti kuat.
"Ya, papa mengerti."
Nathan mengaguk, lalu meminum kopi yang tadi dibuatkan oleh pelayan.
__ADS_1
"Sepertinya Mama mu sudah lama papa tinggalkan." Allan beranjak berdiri dari duduknya.
"Bukan Mama yang lama Papa tinggalkan, tapi papa yang tidak bisa jauh dari Mama." Goda Nathan sambil tersenyum.
"Ya, anggap saja begitu, karena Mama kamu yang tidak bisa tidur kalau tidak papa peluk." Pria tua itu tidak mau mengakuinya, jika dirinya memang tidak bisa lama-lama jauh dari sang Istri.
"Ck, Papa terlalu gengsi untuk mengakui."
Allan hanya mendelik dan pergi meninggalkan putranya.
Nathan melihat notif email dari Ando, dan dia baru ingat jika besok siang dirinya harus keluar kota untuk perjalanan bisnis.
Nathan beranjak dari duduknya, ingin kekamar menyusul sang Istri. Sebenarnya sejak tadi dirinya juga sudah Merindukan istrinya, hanya saja harus tertahan karena obrolan penting dengan sang papa.
Ceklek
Nathan membuka kamar miliknya, dan melihat ke dalam tapi Ami tidak terlihat.
"Sayang.." Nathan masuk kedalam dan mencari Ami di dalam kamar mandi, tapi juga tidak ada.
"Nat kamu lihat Mama kamu?" Tanya Allan yang muncul di ambang pintu.
Nathan menggeleng. "Tidak Pah, aku juga mencari Ayana tapi juga tidak ada." Ucap Nathan yang juga kehilangan Istrinya.
Jam menunjukan pukul sepuluh malam dan mereka kahilangan istri-istri masing-masing.
Nathan mencari dibagian dapur dan belakang hingga taman, tapi tidak menemukan keduanya. Sedangkan Allan mencari kesetiap sudut ruangan sampai halaman luar tapi juga tidak ada hasil.
"Bagiamana?" Tanya Allan dengan napas yang sedikit memburu, karena sibuk mencari.
"Tidak ada Pah." Nathan mencoba menghubungi nomor Istrinya dan ternyata tidak aktif.
Allan juga demikian ternyata sama. "Ck, kemana mereka." Kesal Allan yang tidak bisa menemukan Istrinya.
Drt...Drt..Drt...
Ponsel Nathan dan juga Allan berbunyi bertanda pesan masuk.
"Apa tidak ada yang merasa kehilangan guling hidup kalian."
__ADS_1
.
.
Pesan dari Mustafa beserta foto dua wanita yang mereka cari, di tambah ada Raya difoto itu, foto ketiga wanita yang menggunakan masker wajah.
"Gara-gara istri kalian, aku tidak jadi mantap-mantap dengan istriku." Pesan kedua kembali masuk disertai emot marah.
Nathan dan Allan saling tatap. "Kenapa mereka bisa sampai sana." Keduanya berucap bersamaan.
"Ck, papa sih terlalu lama mengobrol." Nathan protes kesal, pada Allan.
"Kok papa, kamu dong." Allan tidak terima disalahkan oleh anaknya.
"Ck, tau lah." Nathan main nyelonong pergi menuruni tangga dia akan menjemput istrinya, kalau tidak dirinya tidak akan bisa tidur selama pergi keluar kota, karena singkong premium miliknya tidak diberi jatah.
Allan mengikuti Nathan dari belakang pria paruh baya itu juga tidak ingin tidur dengan memeluk guling mati, karena rasanya tidak enak.
Ditempat yang berbeda, Mustafa menatap ketiga wanita yang sudah satu jam yang lalu masih asik dengan dunia mereka sendiri. Padahal tadi dirinya sebentar lagi bisa bermain mantap-mantap dengan sang istri, mengingat semenjak hamil Raya jarang mau dia sentuh mungkin karena mood ibu hamilnya yang kurang baik, sehingga Mustafa yang menanggung penderitaan.
Indira, Raya dan juga Ami sedang asik dengan layar besar didepan mereka, dengan ditemani cemilan dan minuman untuk menunjang aksi mereka yang seperti menonton film di bioskop.
"Wah si ayu minta di gampar itu, enak aja main sabotase perbuatan Starla." Ucap Raya dengan ekspresi kesal.
"Pelakor mah mau cari muka di depan Niko tuh biar terlihat baik." Sambung Ami sambil memakan cemilan kesukaanya.
"Dih, si Niko juga jadi laki letoy amat. Dikasih berlian malah cari batu kerikil." Indira pun ikut kesal dengan ulah pemain dilayar lebar itu, mereka begitu fokus dan menghayati hingga terbawa dalam suasana yang diciptakan film itu.
"Kalau aku jadi Starla, pasti burung si Niko udah aku gorok sampai poll." Raya meremas bungkus makanan yang dia pengan, sampai membuat Mustafa yang sejak tadi memperhatikan mereka bergeridik sendiri.
"Jangan sampai deh pelakor mendekat, bisa-bisa burung gue di mutilasi sama Raya." Mustafa memegangi milikinya dengan ekspresi takut.
"Dih, kalau Ami mah ganti suami baru bila perlu tukar tambah." Ami berucap santai tanpa beban.
Sedangkan pria yang berdiri dibelakangnya membulatkan kedua matanya tak percaya dengan ucapan sang istri.
"Mama juga, kalau papamu sampai kepincut pelakor dan celap-celup, Mama pilih ganti suami, bila perlu yang masih berondong dan perjaka." Indira menimpali bahkan lebih parah, dan membuat Allan yang dibelakangnya merasa kesal.
__ADS_1
Kedua pria yang baru saja datang disambut dengan perkataan yang membuat kesal bahkan ingin menghukum mereka sekarang juga.
"Enak saja mau tukar tambah, dia pikir bisa beli di shopperPay." Gerutu Allan kesal.