My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Masih Mustafa&Raya


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu, sepasang calon pengantin pun, tiba. Dimana Mustafa yang sedang duduk didepan penghulu dan mengucap ikrar ijab kabul lima menit lalu, dan membuat kata 'Sah' menggema di rumah besarnya.


Acara sederhana namun tidak menghilangkan rasa syukur dan khidmat yang sudah Tuhan berikan, kini Mustafa nampak terus mengembangkan senyum setelah dirinya dengan lancar melewati ijab kabul yang membuatnya juga merasa gugup dan jantung berdebar.


"Selamat Pah." Niko mengucapkan selamat untuk papanya, pria itu memeluk sang papa dan merasa terharu. Sejak dulu Niko menyuruh papanya untuk mencari teman hidup lagi, tapi sang papa masih kekeh untuk sendiri hingga sampai bertemu bunda Raya.


"Terima kasih Nak, kamu bahagia?" Tanya Mustafa menatap wajah putranya yang langsung tersenyum.


"Tentu saja, karena Niko juga sayang sama bunda." Niko beralih didepan Raya.


"Selamat datang di keluarga Abrahan bunda." Niko tersenyum dan memeluk bunda barunya.


Dia juga senang memiliki sosok pengganti sang ibu yang orangnya penyayang seperti bunda Raya.


"Terima kasih Nak, terima kasih sudah menerima bunda."


Raya terharu, dia pikir putra dari suaminya dulu tidak suka padanya, karena pertama kali bertemu Niko pria yang cuek dengan wajah datar, tapi lihatlah sekarang pria itu memiliki senyum manis.


"Selamat Om, Eh ayah." Ami cengengesan gadis itu terseyum bahagia kini dia memiliki ayah yang akan menjaga bundanya.


"Terima kasih Nak, kita sekarang keluarga." Mustafa menepuk pela kepala Ami.


Ami hanya mengaguk, lalu pindah berdiri pada bundanya, dibelakangnya ada Nathan dan kelaurga yang lain memberi selamat.


"Bunda." seketika air mata haru jatuh dipipi gadis itu, Ami memeluk bundanya dengan terisak.


Raya pun tak kuasa menahan air matanya, jika tadi dia bisa menahan tapi tidak untuk saat ini.


Orang yang didekat mereka pun merasa terharu, melihat ibu dan anak yang sedang berpelukan.


"Bunda, Ami bahagia." Lirih Ami dengan sesenggukan. "Semoga bunda selalu bahagia, maaf jika Ami belum bisa membahagiakan bunda."


Raya mengelus kepala putrinya, hatinya tersentuh mendengar ucapan Ami. "Iya sayang, kamu juga ya." Raya menangkup wajah putrinya, mengusap air mata di pipi Ami. "Kamu harus bahagia, karena kebahagian bunda melihat kamu bahagia." Raya mengecup kening Ami, air matanya juga mengalir membuat yang melihatnya ikut meneteskan air mata.


Meskipun diliputi Isak tangis, tapi tangisan mereka adalah tangis bahagia, dimana Raya yang memiliki teman hidup dihari tua dan pasti Ami tidak akan merasa khawatir lagi jika bundanya tinggal sendiri karena sekarang ayah barunya sudah memiliki tanggung jawab untuk melindungi bundanya.

__ADS_1


Nathan merangkul bahu istrinya setelah memberi ucapan selamat kepada kedua mertuanya, tidak lupa dirinya menatap tajam Niko yang terkadang jahil karena menggoda Ami, dan Nathan yang posesif pun tidak membiarkan Niko menyentuh Istrinya, meskipun mereka kini saudara, tapi bukan saudara kandung.


Indira mengandeng lengan suaminya, wanita yang masih cantik itu selalu digandeng oleh Allanaro. Entahlah semakin lama Allanaro semakin posesif pada istrinya, karena menurut Allan, istirnya masih cantik dan bugar pasti banyak pria yang melirik jika dirinya tidak berada dekat sang Istri, dan Allan takut jika Istrinya kepincut pria yang lebih muda darinya.


"Sayang, aku senang melihat mbak Raya menikah." Ucap Indira yang melihat Raya selalu mengukir senyum, keduanya sedang menerima ucapan selamat dari kerabat mereka. "Paling tidak mbak Raya ada yang menjaga dan melindungi." Lanjutnya dengan kepala bersandar di bahu Allan.


Jodoh tidak ada yang tahu kapan akan datang, meskipun kita bersama orang lain tapi Tuhan memiliki cara sendiri untuk mempersatukan dengan jodoh kita yang tertunda.


Pesta keluarga di mulai, semua nampak senang dan bahagia, kedua pengantin baru itu pun sudah mengganti pakaiannya, karena hari sudah beranjak malam dan ini adalah acara keluarga inti yang melakukan pesta Barbeque.


Keluarga pak Teguh pun masih hadir, karena memang pak Teguh adalah kakak dari Mustafa satu-satunya, dan mereka hanya dua saudara.


Sedangkan Raya memang tidak memiliki keluarga, dirinya hanya memiliki putri satu-satunya.


Allanaro dan Indira pun juga masih ada sana karena selain kerabat mereka adalah tamu penting.


"Sayang, itu sudah matang." Ucap Ami pada suaminya yang sedang membakar daging.


"Belum sayang, ini masih setengah matang." Nathan terseyum menatap istrinya yang berdiri disampingnya.


Para pria bertugas membakar, dan wanita menyiapkan bumbu-bumbu dan perlengkapan lainnya.


"Terima kasih ya." Mustafa menepuk punggung Ando dengan senyum.


Ando sebenarnya tidak ingin datang, tapi dirinya tidak enak dengan bunda Raya yang sudah baik dengannya.


Perkelahian tempo lalu, membuatnya merasa tidak nyaman. Apalagi ini adalah pesta keluarga pria yang sudah duel dengannya waktu itu.


"Kak Ando, sini..!" Ami memanggil Ando yang hendak mengambil minuman, pria itupun menoleh dan melihat disana hanya ada Nathan yang dia kenal sedangkan anak pemilik rumah tidak ada.


"Ck, lu lama amat bro. Gue udah kepanasan." Ucap Nathan pada Ando yang baru saja tiba.


Nathan sejak tadi sudah berdiri membakar daging dan Frozen food lainya tidak habis-habis membuat kakinya pegal.


"Ck, gue baru lihat CEO bakar-bakar." Ledek Ando yang langsung mendapat plototan dari Nathan.

__ADS_1


"Sialan lu, setelah ini jatah ku, gue cepek." Ucapnya yang langsung minggir dan menarik Ando untuk mengantikan posisinya.


"Lah, gue tamu man. Lu tega amat sih." Ando merasa sial datang kemari.


"Tinggal sedikit kak, semangat." Ucap Ami menyemangati tapi dengan wajah meledek.


Sepertinya Ando dikerjai.


"Pah." Niko pun baru tiba dengan menggandeng tangan Olive.


"Loh, kenapa baru datang Nak." Tanya Mustafa pada Olive yang digandeng putranya.


"Maaf Om, tadi Olive ada acara keluarga, untuk Om selamat ya semoga menjadi keluarga bahagia." Tutur Olive dengan sopan, memberi ucapan selamat.


"Terima kasih Nak." Mustafa tersenyum. "Papa setuju." Bisik Mustafa pada putranya.


"Ck, papa apa-apaan sih." Niko tersenyum malu, sedangkan Olive hanya diam tidak mengerti.


Setelah cukup berbasa-basi, Olive bergabung dengan Ami dan wanita lainnya yang ada di sana.


"Nak Olive tolong ambilkan daging yang sudah matang sayang." Ucap bunda Raya yang memberikan nampan untuk mengambil danging yang sudah di bakar.


"Oh, iya bunda." Olive pun berjalan medekati tempat untuk membakar ataupun memanggang daging, disana hanya ada satu orang pria yang berdiri memunggunginya, dan Olive mendekati.


"Sialan si Nathan, dia ngerjain gue." Kesal Ando sambil membolak-balikkan daging agar tidak gosong.


Olive berdiri dibelakang pria yang sedang kesal itu. "Mas apa sudah ada yang matang." Tanya Olive dari balik punggung pria itu.


Deg


Ando yang paham dengan suara Olive pun menoleh, dan benar gadis yang pingsan kemarin kini berdiri dihadapannya.


"K-kak Ando."


.

__ADS_1


.


Hay gaess.. author bukannya tidak mau melanjutkan cerita Olive dan Ando di part sebelumnya ya, karena author akan bikin lapak mereka sendiri nanti setelah cerita ini selesai, jadi tunggu saja yaaaa bagaimana kisah mereka selanjutnya 😂😂😂


__ADS_2