My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Jauh lebih baik


__ADS_3

Nathan mengecup bibir manis istrinya, rasanya sejak kemarin dirinya belum menyentuh benda kenyal yang sudah membuatnya candu.


Pangutan bibir keduanya begitu intens hingga tangan Nathan yang ingin menyentuh kelembutannya berhenti.


Ehem..


Ami dan Nathan langsung menarik diri masing-masing.


"Apa sudah sembuh sekarang?" Tanya Ando dengan tidak punya rasa malu, meskipun memergoki kedua sepasang suami-istri yang sedang berciuman.


"Pargilah, kau menggangguku saja." Kesal Nathan menatap Ando tajam.


"Cih, sudah bisa marah-marah, dan itu berarti kau sudah kembali normal."


"Kau..!! kamu pikir aku gila."


Bugh


Nathan melempar batal kearah Ando, membuat Ando tertawa dan mengambil bantal yang meleset dan jatuh kelantai.


Ami hanya menunduk malu, " Oke aku akan pergi, dan lanjutkan kegiatan kalian. Sepertinya hanya butuh pelepasan bukan dokter." Setelah mengatakan itu Ando segera lari keluar, takut jika Nathan ngamuk.


"Sialan Ando." Nathan mengumpat kesal.


Sedangkan Ami masih membulatkan kedua matanya mendengar ucapan asisten suaminya.


"Sayang, kemarilah." Nathan menyuruh Ami untuk duduk di atas pangkuannya.


"Jangan didengar apa kata Ando, tapi cukup kita lakukan."


Nathan pun kembali melancarkan aksinya, tangannya sudah merayap kesembarang arah untuk menggapai apa yang dia dapatkan.


Rasa sakit di kepala langsung saja hilang setelah berada didekat sang Istri dan tubuhnya kembali sehat seperti sedia kala. Entah apa yang terjadi dalam tubuhnya.


Mungkin gejala Meriyang_ Merindukan kasih sayang.. wkwkwk

__ADS_1


Ami begitu menikmati sentuhan yang suaminya berikan, sejak tadi malam dirinya berusaha untuk membuang jauh-jauh keinginannya yang pernah dia ucapkan pada sang suami.


Dan karena Nathan kesal dan marah, berakhir Ami yang ketiduran dengan hati yang sedih.


Tapi ketika melihat suaminya pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja membuat Ami merasa kasihan.


"By." Ami semakin bergerak gelisah, ketika kelembutannya dimainkan dengan pijitan jari dan juga bibir Nathan yang menyesap dan mengigit kecil pucuk kelembutannya.


"Dia semakin padat, dan emh." Nathan tidak lagi melanjutkan ucapanya, karena dia begitu gemas dengan kedua benda kenyal yang begitu dia gilai selain bagian yang paling membuatnya ketagihan.


"By, sakit." Ami merasakan ngilu ketika kelembutannya dipijat Nathan kuat.


"Aku suka sayang." Ucap Nathan dengan bibir yang masih bekerja.


Keduanya larut dalam gelora yang begitu memabukkan, hingga membuat mereka menginginkan sesuatu yang lebih untuk memuaskan diri masing-masing yang begitu menggebu-gebu.


"Apa sudah tidak sakit lagi." Ami berbicara disela-sela Nathan yang melucuti pakaiannya dan tangannya yang jahil selalu membuatnya meremang.


"Tidak, bahkan jauh lebih baik." Ucap Nathan yang berhasil melepaskan pakaian keduanya, kini sama-sama polos.


"By, jangan liatin aku seperti itu." Ami merasa malu, dan menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya.


Nathan pun kembali menyerang bibir ranum Istrinya, yang sudah bengkak, lidah keduanya saling membelit dengan rasa yang semakin memabukkan.


"Em, By pelan." Ami menjambak rambut Nathan ketika dibawah sana terasa begitu penuh.


"Maaf sayang, tapi ini sangat enak." Gumam Nathan yang membuat author cekikikan.


"Kamu nakal By." Ami terseyum malu, mendengar ucapan suaminya yang frontal.


Nathan tidak lagi bicara, mulutnya bekerja untuk membuat Istrinya mengeluarkan suara merdu dan menjerit karena ulah aset berharga miliknya, meskipun sudah beberapa kali mereka melakukannya, tapi rasanya tetap sama Nathan selalu dibuat tak bisa berkutik.


"By, aku mau."


"Sebentar sayang.." Nathan semakin cepat menggerakkan tubuhnya, rasanya begitu enak dan menggigit ketika miliknya dijepit dan terasa sempit.

__ADS_1


"Gak kuat by." Ami terus bergerak gelisah, seprei dan selimut sudah berantakan oleh kedua insan yang sedang bergelut di atas ranjang.


"Arrghh." Ami mencekram lengan Nathan begitu kuat, hingga kepalanya mendongak dengan napas yang tersengal.


Nathan pun semakin gila melancarkan aksinya, apalagi sesuatu di dalam sana semakin berkedut dan ingin meledak.


"Byy!." Ami tak bisa berucap, tubuhnya lemas, dan Nathan masih mengejar puncaknya.


"Sayang.. Ough." Tubuh Nathan mengejang, dengan suara geraman di samping telinga Ami, membuatnya merinding.


"Terima kasih." Nathan mengecup kening dan bibir istrinya, lalu berguling ke samping dan menarik selimut yang berada di bawah kakinya untuk menutupi tubuh basah keduanya.


Ami memejamkan mata dengan napas yang masih tersengal, Nathan memeluknya.


"Apa kamu bosan disini." Tanya Nathan, setelah sepuluh menit saling menetralkan deru napas masing-masing.


"Hm," Ami mengangguk. "Kesepian dan tidak punya teman." Ucap Ami dengan menatap wajah suaminya. "Tapi ini adalah derita yang harus aku terima karena sudah ikut suami yang bekerja." Ucapnya dengan cemberut.


Nathan tersenyum, entah mengapa jika bicara dalam keadaan seperti ini, Istrinya begitu menggemaskan.


"Maaf, aku memang sibuk dan belum bisa menemanimu." Ucap Nathan mengecup kepala Ami. "Segera mungkin akan aku selesaikan agar kita bisa liburan di sini." Jemarinya menyentuh wajah sang Istri yang masih tersisa keringat sisa pergulatan mereka.


"Apa kita akan lama." Ami mengusap dada Nathan.


"Hm, tidak." Nathan yang masih menetralkan napasnya kembali terpancing.


"Jadi hanya satu Minggu." Ami menatap wajah suaminya, dengan tangan yang masih bergerak lembut diatas dada suaminya.


"Jangan memancingku sayang, kalau tidak mau aku makan lagi." Nathan mencekal tangan Ami, dan mengecupnya.


"Tapi _Ugh."


Dan pergulatan panas kembali terjadi, mereka selalu tidak puas jika hanya satu kali.


Seperti reader yang tidak puas meskipun Author sudah up 3x sehari 😩, begitulah Nathan dan Ami, yang jiga tidak puas dibikin naik turun oleh Otor🤧

__ADS_1


🤣🤭🤭


__ADS_2