
Memiliki pasangan yang melengkapinya satu sama lain, dan mencintai rela menerima apa adanya diirinya bukan ada apanya pada dirinya. Ami begitu bersyukur dirinya benar-benar tidak menyangka akan sampai di titik ini. Dimana dirinya seorang gadis yang begitu beruntung dikelilingi orang-orang baik dan menyayanginya. Apalagi memiliki pasangan hidup yang mampu membuatnya tidak bisa lagi berkata dan tidak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih.
Hanya cinta dan kesetiaan yang bisa dia berikan untuk sang suami, hanya pengabdian hidupnya untuk melayani sang suami.
Nathan mengusap lembut wajah sang Istri, menyingkirkan anak rambut yang berserakan wajah istrinya. Bibirnya tersenyum melihat bibir tipis Ami masih membengkak, permainan ranjang mereka tadi memang benar-benar liar.
Berbagai gaya dan cara baru mereka lakukan, dan untuk sama-sama mencari kepuasan. Nathan memang tidak membawa Ami pulang keaparteman, pria itu membawa sang istri ke hotel bintang lima untuk menghabiskan waktu malam mereka disana.
Terbukti Ami yang sekarang sedang kelelahan setelah pertempuran panas keduanya berhenti ketika jam sudah menunjukan tiga pagi.
"Aku tidak akan pernah puas menyentuh tubuh ini sayang." Nathan mengusap lengan polos istirnya, bahkan Nathan terseyum sendiri melihat lukisan di bahu leher hingga dada Ami tanpa terlewat.
Tangan kirinya menyangga kepala agar lebih tinggi dari Ami, dan Ami yang tidur miring menghadap dirinya, gadis itu sama sekali terusik.
Cup
Nathan mengecup bibir yang sedikit terbuka, terlihat begitu seksih dimatanya.
"Engh.." Ami menggeliat, dengan wajah yang semakin didekatkan pada dada bidang Nathan, gadis itu mencari kenyamanan.
"Hey, sudah pagi, kamu tidak mau bangun." Jemari Nathan mengelus dagu Ami.
"Em, masih ngantuk." Suara serak Ami terdengar begitu seksih ditelinga Nathan membuatnya mengumpat dalam hati.
Bagaimana tidak mengumpat jika tanpa dipancing pun singkong premium miliknya selalu bereaksi setiap pagi, dan pagi ini Istrinya sungguh sangat memancing gairahnya.
"Mau bangun, atau aku bangunkan dengan cara yang lain." Nathan menahan napasnya sejenak, ketika bibir Ami memberi kecupan kecil didada bidangnya, gadis itu seperti menggodanya.
Ami tidak bereaksi, hingga tiba-tiba kakinya tidak disengaja menimpa milik suaminya.
Dug
"Auwss, sayang. engh." Nathan mendesis merasa ngilu kesakitan.
Ami yang mendengar langsung membuka mata, gadis itu menatap wajah Nathan yang menahan sakit, dan terlentang lemas. Pandangannya turun ke bawah, melihat tangan Nathan yang memegangi miliknya.
__ADS_1
"By, kamu kenapa?" Tanya Ami panik, dan juga bingung.
"Ssh," Nathan tidak menjawab pria itu hanya mendesis dan memejamkan mata.
"By, jangan bikin aku kahawatir." Wajah bangun tidur Ami benar-benar terlihat panik, melihat suaminya yang terkapar lemas menahan sakit.
Ami yang ketakutan dan juga penasaran pun memilih membuka selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua. Dan tanpa ragu Ami menyentuh singkong premium milik Nathan yang sejak tadi membuatnya penasaran.
"Apa ini sakit?" Tanya Ami, dan dengan bodohnya jemarinya malah menyentuh dan mengurutnya pelan.
"Ahh,.." Desahaan kecil keluar dari bibir Nathan, membaut Ami menggigit bibir bawahnya.
Dia tidak menyadari jika tubuh polosnya kini terekspose, bahkan keduanya masih dalam keadaan polos.
"By, kenapa dia malah membesar." Ami yang panik menatap wajah suaminya yang juga menatapnya. Niat Ami ingin membuat Nathan agar tidak lagi kesakitan, tapi ternyata malah membangunkan singa yang sedang tidur.
"Eng, dia butuh partner sayang." Tangan Nathan langsung menarik tubuh istirnya, untuk berada di atas tubuhnya.
Sebenarnya sakit yang Nathan rasakan hanya sebentar, tapi dirinya sengaja mengerjai sang Istri.
"Morning ***** sayang." Nathan terseyum meneyringai, sedangkan Ami membulatkan kedua matanya.
"Tidak, hanya saja aku ingin melihatmu berkeringat pagi.
"Ahh, by." Ami memekik ketika Nathan menyerang buah dadanya, pria itu begitu rakus menyesap seperti bayi kehausan.
"By, jangan gigit, engh."
Nathan tidak mendengarkan, pria itu asik dengan kegiatannya untuk membangkitkan gairah sang istri.
Hingga keduanya sama-sama menginginkan hal lebih, dengan kembali melakukan penyatuan yang selalu memabukkan dan menginginkannya lagi dan lagi.
Kamar hotel yang Nathan siapakan, benar-benar hanya untuk menghukum sang istri, Nathan tidak akan puas dengan semua yang dimiliki sang Istri. Kamar luas itu menggema suara percintaan mereka yang bisa membuat telinga panas bagi siapa saja yang mendengarnya.
.
__ADS_1
.
Setelah melakukan sarapan yang kesiangan, karena memang jam menunjukkan hampir dua belas siang, dan kedua insan yang lupa waktu saat bercinta itu kini sedang berada dirumah sakit.
Sepeti yang dikatakan Ami, jika dirinya akan mendatangi dokter kandungan dan siang ini keduanya bertemu dengan dokter Fani, dokter yang akan menangani Ami, karena Nathan tidak mau istrinya memiliki dokter laki-laki, jadi yah pria posesif itu meminta dokter perempuan untuk memeriksa istrinya.
"Bagaimana Dok?" Tanya Nathan yang lebih antusias, pria itu sejak tadi menemani sang istri ketika dokter melakukan pemeriksaan.
"Semuanya baik, dah Alhamdulillah istri anda sudah bisa untuk melakukan program hamil." Dokter Fani tersenyum, begitupun juga Nathan dan Ami.
Mengingat dulu Ami pernah mengalami keguguran, dan sekarang Nathan tidak mau itu terjadi lagi, dan jika memang rahim Istrinya belum bisa dibuahi maka Nathan akan tetap membuat Ami memakai pengaman, dia tidak ingin mengambil resiko untuk Ami, Nathan hanya takut terjadi sesuatu pada sang istri.
"Jadi kamu sudah bisa membuat anak."
Plak
Ami memukul paha Nathan yang berada disampingnya, Ami menatap Nathan tajamm
"Eh, maksudnya program bikin anak." Ralat Nathan karena ucapanya tadi.
Dokter Fani terkekeh. "Sudah pak, dan saya akan resepkan obat untuk penyuburan."
Nathan terseyum menatap wajah istrinya. "Mulai sekarang, kamu tidak akan pernah lolos." Bisik Nathan membuat Ami mencebik.
Tidak program saja dirinya selalu dimakan setiap malam, apalagi ini. Ami hanya bisa pasrah, gadis itu sudah berjanji akan menuruti perintah suaminya, meskipun tidak berjanji tapi itu wajib.
Nathan mengandeng tangan Ami keluar rumah sakit, pria itu telihat begitu senang dengan hasil pemeriksaan yang baru saja mereka lakukan.
Dan Ami pun bisa melihat bagaimana wajah suaminya yang terlihat begitu senang, dirinya juga merasakan hal yang sama.
"Kita mau ke mana?" Tanya Nathan yang bertanya lebih, dulu. Pria itu membantu Ami untuk memasangkan sabuk pengaman, setelah mereka duduk didalam mobil.
"Aku mau kerumah baca by." Pinta Ami yang langsung mendapat anggukan dari Nathan.
"Baiklah, aku antar karena aku harus kembali ke kantor." Nathan mengusap kepala Ami.
__ADS_1
"Hu'um." Ami hanya menganggukkan.
Dirinya tidak memiliki kegiatan, ingin bermain Olive hari ini bernagkat ke Surabaya dan dia tidak memiliki teman lagi, satu-satunya hanya rumah baca untuk menjadi hiburnya.